BAGIKAN

Hampir semua orang kenal bambu, dan hampir semua orang pernah melihat bambu yang dipergunakan sebagai konstruksi bangunan, tetapi mayoritas kita mengenal bambu hanya sebagai bahan konstruksi bagi bangunan-bangunan non permanen. Bahkan bambu identik dengan material konstruksi bagi rumah sederhana dengan biaya rendah.

Tetapi, pada rumah tinggal yang akan kita bahas kali ini, seluruh anggapan tersebut akan terbantahkan. Pada rumah ini, material bambu diaplikasikan hampir dalam seluruh aspek bangunan, mulai dari struktur, elemen dekoratif, hingga furniture. Namun jangan membayangkan bahwa rumah ini berarsitektur tradisional seperti kebanyakan rumah-rumah bambu, ternyata rumah ini mempunyai style arsitektur yang modern, cenderung minimalis.

Kenapa memilih Bambu? Ada beberapa fakta yang mencengangkan mengenai jenis tumbuhan yang satu ini, antara lain :

  1. Bambu mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang melebihi kayu.

  2. Bambu mempunyai kecepatan tumbuh 7 kali lebih cepat daripada jenis tumbuhan yang lain, dan dapat dipanen berkali-kali setiap jangka waktu 3 tahun.

  3. Hutan bambu mampu menyimpan kandungan air lebih banyak daripada jenis hutan lain.

  4. Selain di Kalimantan, Indonesia memiliki hutan bambu yang berlimpah.

  5. Bila dibandingkan material bangunan yang lain, energi yang diperlukan untuk memproduksi material bambu adalah yang paling kecil (besi : 1500, beton : 240, kayu : 80, bambu 30, dalam Nmm2)

Tentu bambu juga memiliki kelemahan, di antaranya adalah hama bubuk, tetapi dengan treatment dan tepat dan perlindungan terhadap cuaca, bambu akan dapat bertahan lama sebagai material bangunan.




Rumah yang akan kita bahas kali ini adalah rumah tinggal milik Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, PhD. Pemilik rumah berprofesi sebagai Staff Pengajar di Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Rumah yang berada pada lahan seluas 622m2 ini terletak di Kompleks Eco Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat, sebuah kompleks yang berusaha menerapkan konsep Sustainable Development. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) pun sangat rendah, hanya sekitar 15%. Luas total bangunan adalah 248m2, yang terdiri dari 116m2 lantai dasar, dan 132m2 lantai atas.

Ada beberapa konsep utama yang dianut oleh sang arsitek sekaligus sang pemilik rumah :

1. Menghormati alam dan lingkungan sekitar

2. Menggunakan material bekas

3. Mengoptimalkan penggunaan material bambu.

Aplikasi konsep yang pertama dapat dilihat dari penataan massa bangunan. Rumah ini memiliki dua massa bangunan utama yang terletak di sebelah timur dan barat. Sengaja dipecah demikian demi menghindari penebangan 9 batang pohon cengkeh eksisting yang sudah berumur 35 tahun. Di antara kedua massa bangunan tersebut dihubungkan dengan sebuah jembatan semi permanen yang mempergunakan material baja dan bambu.

Area ruang tidur terletak di lantai atas yang memiliki privasi lebih tinggi, sedangkan area publik terletak di lantai dasar. Respon terhadap lingkungan juga diperlihatkan dari minimalnya bukaan di arah barat dan timur yang notabene identik dengan panas matahari. Bukaan dominan ke arah utara dan selatan yang memiliki view paling indah. Ke arah utara adalah view ke arah pegunungan, sedangkan ke arah selatan kita akan dapat melihat view ke arah Kota Bandung.




Konsep yang kedua adalah penggunaan beberapa material bekas, antara lain adalah penggunaan balok dan papan kayu rasamala bekas, tulangan besi bekas, multipleks bekas, kaca etsa bekas, dan genteng palentong jatiwangi bekas.

Yang paling menarik adalah penerapan konsep ketiga, yaitu pengoptimalan penggunaan material bambu. Pada rumah ini material bambu dipergunakan pada banyak aspek. Satu per satu kita akan kita bahas dalam uraian di bawah ini.

Bambu Sebagai Elemen Struktur

  1. Bambu sebagai penguat kolom struktur. Batang bambu petung berdiameter 12cm dimasukkan ke dalam kolom struktur di dalam tulangan besi, barulah kemudian dicor dengan beton. Teknik ini dapat mengurangi volume beton hingga 50% daripada kolom beton konvensional.

  2. Bambu sebagai penguat dinding pendukung (bearing wall). Karena terletak di lahan yang berkontur, Rumah ini mempunyai beberapa dinding pendukung yang berfungsi sebagai penahan tanah. Seperti pada kolom struktur tadi, batang-batang bambu dimasukkan di antara tulangan-tulangan besi dinding pendukung, lalu dicor dengan adukan beton. Sistem ini selain lebih memperkuat dinding pendukung terhadap gaya momen yang ditimbulkan oleh tenakan tanah, juga bisa mengurangi volume beton.

  3. Bambu sebagai tulangan plat lantai beton. Anyaman bambu diletakkan horizontal sebagai pengganti sebagian besi tulangan plat lantai beton. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi jumlah besi secara signifikan pada plat lantai, yang secara otomatis akan mengurangi biaya pembangunan.

  4. Rumah ini mempergunakan sistem struktur rangka, yang artinya bahwa kekuatan struktur bangunan ditumpukan pada kekuatan kolom dan balok. Pada sistem struktur ini, bidang dinding bebas untuk diisi dengan material apa saja, karena tidak berperan secara signifikan dalam menyumbang kekuatan struktur. Bila rumah tinggal pada umumnya mempergunakan batu bata, batako, atau beton ringan AAC sebagai material dinding. Pada rumah ini dinding yang dipergunakan adalah plastered bambo wall. Anyaman bambu diletakkan di tengah-tengah as dinding, kemudian dilapisi ram kawat yang berbentuk honeycomb. Barulah setelah itu dilapisi dengan plester seperti biasa dan diaci bila dikehendaki. Sistem ini dapat menghasilkan dinding finish dengan ketebalan hanya 8cm. Jauh lebih tipis bila dibandingkan dengan dinding bata konvensional setebal 15cm.




Bambu sebagai Elemen Dekoratif :

  1. Bambu sebagai lantai. Bambu dapat diaplikasikan sebagai lantai dengan banyak cara. Pada Lantai eksterior, batang bambu dipergunakan secara utuh dan diletakkan berjajar pada tumpuan beton, kayu, atau baja. Pada lantai interior, bambu dapat dilaminasi dan dipergunakan sebagai penutup lantai. Bambu dengan sistem ini, dapat pula dipergunakan sebagai anak tangga dan penutup lantai mezzanin.

  2. Bambu sebagai penutup ventilasi. Anyaman bambu dengan kerenggangan yang dapat disesuaikan bisa dipergunakan sebagai penutup ventilasi. Pada proses pembangunan rumah cukup disisakan bukaan persegi sebagai ventilasi, yang nantinya akan ditutup dengan anyaman bambu tersebut.

  3. Bambu sebagai sliding door / sliding wall. Area ruang tamu mempunyai satu bidang dinding yang dapat dibuka secara penuh yang bertujuan untuk memaksimalkan kontinuitas ruang dalam dan ruang luar bila diperlukan.

  4. Bambu sebagai elemen pelapis dinding. Anyaman bambu dapat pula dipergunakan sebagai pelapis bidang dinding yang memerlukan akses, misalnya di area dapur. Anyaman bambu tinggal ditempelkan begitu saja mempergunakan paku atau sekrup ke area dinding yang diinginkan.

  5. Bambu sebagai plafond. Belahan-belahan bambu yang disusun dipergunakan sebagai pelapis pladond. Motif yang terbentuk dari belahan bambu yang tidak beraturan bisa menimbulkan efek visual yang khan dan menarik.

Sebagian besar dinding di rumah tersebut tidak mempergunakan finishing, dan mengekspose warna asli semen yang dipergunakan sebagai plesteran dan acian. Dengan volume beton struktur yang lebih efisien serta finishing semen ekspose, maka diperlukan kecermatan dalam pelaksanaan dan pemilihan semen dengan kualitas yang baik.

Baca juga : Penggunaan Bambu Sebagai Alternatif Pengganti Baja Pada Beton Bertulang

Demikian ulasan lengkap mengenai material bambu yang dipergunakan secara komprehensif dalam sebuah rumah tinggal. Penggunaan bambu serta beberapa material bekas pada rumah ini, bisa menghemat biaya konstruksi hingga 30% bila dibandingkan dengan rumah dengan sistem konvensional.