BAGIKAN

Penampilan dari tanaman ini sepertinya bukanlah ancaman sama sekali. Namun, pohon Pisonia yang dapat ditemukan dari Hawaii hingga Selandia Baru sampai ke India ini, memiliki rahasia gelapnya. Terdapat tulang-belulang kecil yang sudah rapuh di antara akarnya, layaknya sebuah pemakaman.

Pisonia, atau pohon birdcatcher terkenal akan bijinya yang lengket yang dapat menjerat serangga hingga tak dapat berkutik. Saat serangga-serangga ini terlihat oleh burung, dengan segera hewan pemakan serangga ini menghampirinya. Jika tidak hati-hati, burung-burung itu tubuhnya akan dipenuhi oleh biji-biji yang lengket. Semakin banyak biji yang menempel, semakin memberati tubuhnya untuk terbang. Lalu jatuh ke tanah dan dimangsa oleh predator lainnya.

Sebagian lainnya, masih menempel dan bergelantungan di dahan pohon menahan lapar hingga ajalnya. Burung-burung yang terpedaya ini juga bisa saja menjadi santapan burung predator seperti burung hantu. Lalu akhirnya bisa bernasib serupa.

Biji Pisonia brunoniana menjadi hitam dan lengket saat matang

Mungkin perilaku ini akan terdengar kejam, tapi manfaat apa yang didapatkan?

“Hasil dari eksperimen saya menunjukkan dengan cukup meyakinkan bahwa Pisonia tidak mendapatkan manfaat yang jelas dari unggas yang terurai secara fatal,” kata peneliti Alan Burger, seorang ahli ekologi dari Universitas Victoria. Temuannya dipublikasikan di Journal of Tropical Ecology.

Kehadiran bangkai-bangkai burung di sekitar pohon tidak mendatangkan nutrisi bagi pohon sendiri. Biji yang diberi kesempatan untuk tumbuh di samping unggas yang mati, tidak menunjukkan bukti adanya perkecambahan atau kelangsungan hidup yang meningkat dibandingkan dengan biji tanpa bangkai. Terlebih lagi, Burger menemukan bahwa jumlah nutrisi yang diberikan pada akar pohon dari burung mati tidak sebanyak yang ditambahkan oleh burung hidup yang berupa kotorannya.

Kebanyakan burung laut menghabiskan sebagian besar waktunya di udara. Mereka mencemplungkan tubuhnya ke dalam laut hanya untuk mengambil ikan sesekali saja. Dalam percobannya, Burger mencelupkan biji Pisonia ke dalam air laut sesekali dalam jangka waktu empat minggu dan ternyata benihnya masih bertahan.

“Memiliki burung hidup tampaknya menjadi kunci penyebaran,” kata Burger. “Tapi konsekuensinya tidak menguntungkan karena memiliki biji yang sangat lengket, dan menghasilkan banyak biji dalam suatu dahan, di mana beberapa burung terjerat tak berdaya,”

Beginilah cara kerja evolusi. Selama burung cukup bertahan untuk membawa bibit Pisonia ke lahan baru, pohon akan terus menghasilkan biji lengket. Membunuh burung bukanlah tujuan, tapi, tapi kerusakan tambahan.

Yang aneh adalah, burung laut benar-benar menyukai pohon Pisonia, kata Beth Flint, seorang ahli biologi satwa liar untuk Layanan Ikan dan Satwa Liar AS.

“Sangat jarang melihat pohon Pisonia yang tidak memiliki burung laut di dalamnya,” katanya. “Paling tidak di beberapa tempat terdapat sisa-sisa burung laut.”

(BBC)

Dahan pohon pisonia yang rapuh dan mudah patah memilki tujuan lain. Setiap dahan yang menyentuh tanah memiliki potensi untuk menumbuhkan akar dan menjadi pohon yang berbeda. Burger dan Flint keduanya mencatat bahwa ini adalah metode reproduksi utama pohon setelah ditanam di sebuah pulau. Semua biji yang sangat lengket itu tampaknya lebih dimaksudkan untuk penyebaran jarak jauh.

Menurut Flint, tiga puluh tahun yang lalu Pulau Lisianski yang tak berpenghuni hanya memiliki rumput dan semak belukar. Tapi kemudian pada pertengahan 1990-an, seorang ilmuwan mendaki ke tengah pulau untuk menyelidiki beberapa sarang burung dan menemukan sebuah pohon Pisonia yang sedang tumbuh dari benihnya. Sekarang, pohon itu daunnya telah tumbuh lebat dan sangat berbeda dengan vegetasi di sekitarnya. Di mana dapat ditemukan berbagai burung yang bersarang di dalamnya. Pisonia, memang disukai oleh burung-burung dan entah kenapa.