BAGIKAN
Kendaraan pemudik melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). Mulai Kamis malam ini (22/6/2017) jalan tol darurat Brebes Timur-Pemalang-Batang dibuka selama 24 jam.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Sekretaris Perusahaan PT Waskita Toll Road Eka Sjarief secara resmi mengumumkan istilah “Tol Darurat” untuk ruas-ruas tol yang dimiliki konsesinya oleh perusahaan dan belum rampung pembangunannya.

Dalam perbincangan dengan Tim Merapah Trans-Jawa Kompas.com dan Otomania.com saat mengonfirmasi kecelakaan tunggal di ruas Tol Brebes Timur-Pemalang, dan Pemalang-Batang, Eka berkali-kali menyebut “tol darurat”.

“Karena memang belum rampung konstruksinya. Masih berupa lantai kerja atau lean concrete,” ujar Eka, Kamis (22/6/2017).

Saat ditanya mengenai upaya perusahaan untuk meminimalisasi debu yang tak kunjung berkurang, Eka pun menyebut, bahwa tol darurat difungsikan hanya sebagai jalur alternatif.

“Namanya juga darurat, belum sempurna. Masih ada pekerjaan yang belum selesai. Namun, kami tetap memenuhi semua kelengkapan yang dipersyaratkan,” kata dia.

Tak hanya Waskita Toll Road, PT Jasa Marga (Persero) Tbk pun menggunakan istilah “tol darurat” untuk ruas-ruas jalan yang masih dalam pekerjaan namun sudah difungsikan.

Kendaraan pemudik melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). Mulai Kamis malam ini (22/6/2017) jalan tol darurat Brebes Timur-Pemalang-Batang dibuka selama 24 jam.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Di antaranya Tol Batang-Semarang yang diusahakan PT Jasa Marga Semarang Batang. Menurut AVP Corporate Communication Jasa Marga Dwimawan Heru Santoso, istilah “tol darurat” lebih tepat digunakan ketimbang “tol fungsional”.

“Tol darurat itu benar-benar darurat. Tidak dilengkapi rambu lalu lintas, marka jalan, dan lampu penerang jalan, masih banyak permukaan tanah terbuka, dan lain sebagainya,” kata Heru.

Walaupun masih darurat, namun Waskita Toll Road tetap memberlakukan fungsionalisasi Tol Brebes Timur-Pemalang, dan Pemalang-Batang, selama 24 jam. Ini berlaku mulai Kamis (22/6/2017) malam dengan sistem buka tutup.

“Dibuka 24 jam, tapi sifatknya kondisional. Lihat situasi lalu lintas,” kata Eka.

Bahaya

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit menilai, di satu sisi, funsgionalisasi ruas tol darurat selama 24 jam cukup berbahaya.

Namun, di sisi lain pemerintah dan BUJT dihadapkan pada dilema pemenuhan aspek infrastruktur pendukung guna menunjang kelancaran hajat tahunan itu.

Kendaraan pemudik melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). Mulai Kamis malam ini (22/6/2017) jalan tol darurat Brebes Timur-Pemalang-Batang dibuka selama 24 jam.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

“Sebenarnya ini sudah masuk wilayah abu-abu, apakah benar Lebaran masuk dalam kondisi darurat. Sehingga, dia (jalan tol) dimungkinkan difungsikan sebelum laik fungsi,” kata Danang kepada KompasProperti, Selasa (13/6/2017).

Ada beberapa hal yang menyebabkan pengoperasian tol darurat selama 24 jam berbahaya. Pertama, dari sisi infrastruktur, meski sudah dapat dilalui namun kondisi jalan belum sempuran.

Hal itu disebabkan bahu jalan yang belum dilapisi apa pun. “Kalau badan jalan kan itu memang sudah ada perkerasan,” kata dia.

Secara umum, kondisi jalan tol darurat hanya dilapisi beton tipis atau lean concrete setebal 10 sentimeter.

Sedangkan, di sisi kiri dan kanan masih didominasi dengan tanah yang berpotensi menimbulkan debu bila kendaraan melewatinya.

Persoalan lain yaitu belum rampungnya sejumlah pekerjaan proyek, seperti pembuatan saluran drainase. Hal itu berbahaya bagi siapa pun yang hendak melaluinya.

“Kalau ada yang melewati bahu jalan, terus terlalu ke pinggir, kan bisa terperosok,” kata dia.

Kendaraan pemudik melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). Mulai Kamis malam ini (22/6/2017) jalan tol darurat Brebes Timur-Pemalang-Batang dibuka selama 24 jam.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Danang juga menyoroti minimya rambu, seperti marka jalan dan petunjuk arah. Hal tersebut berpotensi membuat masyarakat kebingungan dan tersesat saat hendak mencari jalan keluar.

Sementara, minimnya marka jalan juga dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan kendaraan. Sebab, pengemudi menjadi tidak tahu di mana jalur mereka yang sebenarnya, pada saat hendak menyalip kendaraan yang ada di depannya.

“Terakhir, penggunaan jalan pada malam hari. Selain karena rambu yang minim, lampu penerangan juga sedikit. Sehingga jalan gelap,” ujarnya.

Danang menyarankan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dapat menambah jumlah personel yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di sepanjang jalur tol yang dibuka darurat