Beranda Topik Utama BTN Gandeng BPJS Tenaga Kerja

BTN Gandeng BPJS Tenaga Kerja

169
BAGIKAN
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) guna membiayai perumahan sekaligus mendukung Program Sejuta Rumah. Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), pekan lalu.

“Sebagai bentuk sinergi, dalam PKS kami akan memberikan fasilitas pinjaman uang muka, kredit pemilikan rumah, dan kredit renovasi rumah kepada peserta BPJS ketenagakerjaan,” kata Direktur Utama Bank BTN, Maryono, dalam publikasinya di, Jakarta, Minggu (26/3).

Penandatangan dilakukan oleh Maryono dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto. Sedangkan pinjaman uang muka hanya diberikan ke peserta yang berhak mendapat kredit pemilikan rumah (KPR) Subsidi dengan tenor 15 tahun. Selain itu, bagi mereka yang belum memiliki rumah dengan nilai pinjaman maksimal 1%.

Bank BTN juga sepakat mengucurkan KPR ke peserta BPJS TK dengan nilai kredit maksimal Rp500 juta, dengan tenor 20 tahun untuk rumah tapak dan 15 tahun untuk rumah susun.

Selain itu, pinjaman Renovasi Rumah dengan nilai maksimal Rp 50 juta dengan tenor 10 tahun. Penetapan bunga pinjaman sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 35 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pemberian Persyaratan dan jenis layanan manfaat layanan tambahan dalam program Jaminan Hari Tua. Untuk ketiga fasilitas tersebut tingkat bunga yang ditetapkan adalah bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate) ditambah 3%.

“Bunganya sekitar 7,75% jika mengacu pada 7 days reverse repo rate bulan ini, angka tersebut lebih rendah dibandingkan bunga KPR Komersil yang ada dikisaran 9%,” kata Maryono.

Persyaratan untuk meraih fasilitas pembiayaan tersebut, tercantum juga dalam Permenaker No 35 tahun 2016. Diantaranya adalah jangka waktu minimal kepesertaan yaitu 1 tahun, bentuk agunan atau jaminan, misalnya sertifikat Hak Milik/ Hak Guna Bangun untuk kredit renovasi. “Persyaratan lainnya yaitu perusahaan harus tertib membayarkan iuran JHT karyawannya,” kata Maryono.

Dengan sinergi antara Bank BTN dan BPJS TK, Maryono optimistis Bank BTN dalam jalurnya mencapai target penyaluran KPR. BTN, tahun ini, memasang target pengucuran KPR Subsidi untuk 180.000- 200.000 unit rumah,dan KPR Non Subsidi sebanyak 80.000 unit rumah. Angka tersebut lebih tinggi dari pencapaian tahun lau dikisaran 159 ribu unit KPR Subsidi dan 49.965 unit KPR non Subsidi.

“Dengan berbagai produk KPR yang telah kami luncurkan target pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 21 % tercapai,” kata Maryono.

Pekerja Informal Bisa Cicil Rumah Melalui KPR Mikro

Di sisi lain, Maryono sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya juga membiayai kalangan pekerja informal. Para pekerja informal kini dapat mencicil rumah melalui skema kredit pemilikan rumah (KPR) yang difasilitasi BTN melalui KPR Mikro. Mereka yang dapat memanfaatkan kredit ini adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan pendapatan Rp 1,8-2,8 juta per bulan.

“Produk anyar KPR Mikro ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah terutama pekerja di sektor informal yang jumlahnya diprediksi mencapai 6,5 juta orang,” katanya.

Dia menambahkan, kredit mikro ini murni inisiatif BTN dalam rangka memudahkan MBR memiliki rumah. Saat ini, MBR dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan bunga tetap 7,99% per tahun.

Selain bunga kredit yang rendah, angsuran pun dibuat dengan skema ringan, misalnya dibayar mingguan atau harian. KPR BTN Mikro dapat dipergunakan untuk pembelian rumah baru atau bekas pakai (second). Lalu, pembelian kavling, pembangunan rumah di atas lahan yang sudah dimiliki, serta perbaikan atau renovasi rumah.

Maryono menjelaskan, untuk pembelian rumah pertama, Bank BTN menerapkan uang muka sebesar 1%. Sementara untuk renovasi rumah atau pembangunan rumah, uang muka diwajibkan minimal 10%. Uang muka tersebut, bisa digunakan untuk mencairkan KPR Mikro dengan plafon atau nilai maksimal Rp 75 juta. (*)