Beranda Topik Utama Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-Sukabumi

Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-Sukabumi

335
BAGIKAN
Foto: Dok. Kementerian PUPR

Setahun setelah meninjau Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali meninjau tol yang progresnya berjalan sangat baik tersebut.

Pada kunjungannya kemarin (21/6/2017) bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke 56, Presiden Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry TZ.

“Perkembangannya sangat baik. Dari total 54 km tol Bocimi, ini di seksi 1 sepanjang 15 km progresnya tidak ada masalah, pembebasan lahan sudah beres semua, konstruksi tidak ada masalah. Kita mau masuk kepada seksi berikutnya, yaitu seksi 2, 3, dan 4,” ujar Jokowi dalam siaran pers Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kamis (22/6/2017).

Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-SukabumiFoto: Dok. Kementerian PUPR

Jokowi menilai pembangunan Tol Bocimi yang dilakukan sejak 1997 sangat diperlukan, karena kemacetan dari Bogor-Ciawi-Sukabumi memang sangat parah.

Hingga kini, berdasarkan data Kementerian PUPR, progres konstruksi fisik seksi I Ciawi-Cigombong sepanjang 15,3 km telah mencapai 36,52% dan ditargetkan selesai pada akhir 2017.

Sementara itu, Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menargetkan Tol Bocimi akan beroperasi penuh sepanjang 54 km pada 2019, jika lahannya bebas 100% pada 2017.

“Jika tidak ada kendala lahan dan 100 persen bebas pada 2017 maka konstruksi akan selesai pada 2019. Konstruksi Bocimi ini cukup berat,” jelas Basuki.

Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-SukabumiFoto: Dok. Kementerian PUPR

Basuki menjelaskan, pengerjaan Tol Bocimi tidaklah mudah, karena topografinya pengunungan yang naik-turun dengan risiko pergerakan tanah yang cukup tinggi, seperti Tol Cipularang. Meski begitu, Kementerian PUPR terus memacu pembebasan lahan dan konstruksi tol yang diharapkan bisa mengatasi kemacetan di beberapa titik rute Jakarta–Sukabumi. Pembangunan jalan tol ini juga akan membantu pengembangan kawasan Jawa Barat Selatan melalui peningkatan aksesibilitas. Sehingga, tercipta multiplier efek terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-SukabumiFoto: Dok. Kementerian PUPR

Sebagai informasi, Tol Bocimi pengusahaannya dilakukan oleh PT Trans Jabar Toll dengan saham mayoritas dimiliki oleh PT Waskita Toll Road. Berdasarkan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), jalur Tol Bocimi sepanjang 54 km terdiri atas empat seksi, antara lain Seksi I Ciawi-Cigombong 15,3 km, Seksi II Cigombong- Cibadak 12 km, Seksi III Cibadak-Sukabumi Barat 14 km, serta Seksi IV Sukabumi Barat-Sukabumi Timur 13 km dengan nilai investasi Rp 7,7 triliun.

Foto: Penampakan Proyek Tol Bocimi, Pemecah Macet Bogor-SukabumiFoto: Dok. Kementerian PUPR

Pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi

Selain Tol Bocimi, Kementerian PUPR juga tengah mengonstruksi dua bendungan di Jawa Barat untuk pengendali banjir yang dimulai pada 2016. Bendungan pertama adalah Bendungan Ciawi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Bendungan Ciawi ditargetkan selesai pada 2019 dengan biaya pembangunan sebesar Rp 798 miliar.

Bendungan tersebut memiliki kapasitas tampung 6,45 juta m3 dan mereduksi banjir hingga 160 m3/detik. Hingga saat ini Kementerian PUPR telah melakukan ganti rugi tanah mencapai Rp 76 miliar.

Bendungan kedua adalah Bendungan Sukamahi yang juga terletak di Kecamatan Cisarua dan telah dimulai pembangunannya sejak 2016. Untuk pembangunan Bendungan Sukamahi, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 436,97 miliar untuk membangun bendungan berkapasitas tampung 1,68 juta m3 dan bermanfaat mereduksi banjir mencapai 29 m3/ detik.

Berbeda dari bendungan lain yang dibangun untuk ketahanan pangan dan air baku, Bendungan Ciawi dan Sukamahi berfungsi untuk mengejar kapasitas pengendalian banjir. Saat hujan datang, bendungan akan memperlambat aliran air hujan ke Jakarta.

Untuk sektor perumahan, Kementerian PUPR membangun beberapa rumah swadaya di beberapa lokasi di Kabupaten Bogor seperti Dusun Kranggan dan Desa Berkah. Untuk rumah swadaya, Kementerian PUPR memberikan dana bantuan masing-masing sebesar Rp 15 juta.