BAGIKAN
ilustrasi. img:pixabay.com

Survei Bilang Banyak Gerai Tutup di Mal Jakarta, Benarkah?

Lembaga konsultan properti, Savills menyebutkan kekosongan ruang ritel sewa pusat perbelanjaan mal di Jakarta meningkat hingga 10,8%. Angka ini dinilai masih dalam tahap wajar meskipun kenaikan terjadi sejak 2014 lalu.

Berdasarkan data tersebut, detikFinance mendatangi dua pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan, yakni di sekitaran Kuningan dan Blok M.

Dari pantauan detikFinance, dari pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB mal seluas 55.000 meter persegi di sekitar kuningan ini belum terlalu ramai didatangi oleh pengunjung. Meskipun itu termasuk jam istirahat kantoran.

Masuk ke lantai Upper Ground (UG) tenant-tenant masih buka seperti biasanya. Kemudian, di lantai 3 terlihat banyak ruangan yang ditutupi banner bertuliskan “Coming Soon”.

Lalu sejumlah tempat makan dekat pop up cafe juga tampak sepi meski sudah masuk jam makan siang.

Kemudian kembali ke Lower Ground (LG) anda akan menemui Lotte Mart dan sejumlah restoran atau booth penjual makanan dan minuman.

Namun sejumlah tenant di LG juga kosong dan ditutupi dengan banner Coming Soon. Salah satunya galeri ATM milik CIMB Niaga yang juga sudah direlokasi.

Selain di Kuningan, detikFinance juga mendatangi mal di Blok M. Pusat perbelanjaan milik Pakuwon Grup ini juga terlihat sepi. Dari pantauan, di setiap lantai ada tenant yang ditutupi dengan banner New Store Coming Soon.

Di lantai 2 ada satu tenant, kemudian di lantai 3 ada 4 tenant yang dipasang banner. Kemudian di lantai yang sama ada ruangan yang sudah kosong dan tak ada penerangan.

Blok M Plaza merupakan pusat perbelanjaan yang memiliki 7 lantai. Mal di sekitar kawasan Blok M ini dibangun pada 1991.

Gedung Perkantoran Jakarta Banyak Kosong, Pertanda Apa?

Pemerintah patut khawatir. Riset dari lembaga konsultan properti asal Australia, Savills menunjukkan total pasokan gedung perkantoran di kawasan central business district (CBD) Jakarta pada semester I-201 mencapai 270 ribu m2, sementara penyerapan ruang kantor tidak sampai 63 ribu m2 atau hanya sekitar 1/3.

Akhirnya tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya. Apa makna di balik hasil riset terbut?

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai pelaku sektor properti salah membaca pergerakan ekonomi. Pada 4-5 tahun yang lalu, saat perkantoran dibangun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bagus, yaitu di kisaran 6%.

Tapi di pertengahan jalan ternyata ekonomi Indonesia melambat, tertimpa faktor eksternal. Mulai dari anjloknya harga komoditas, minyak mentah serta perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS). Beberapa sektor kegiatan usaha bahkan ada yang terhenti sehingga mempengaruhi permintaan akan perkantoran.

“Jadi waktu pembangunan mungkin terbuai dengan ekonomi 2012 dan 2011. Itu ramai membuat perkantoran, tapi sekarang melambat dan itu mempengaruhi demand,” ujar Lana kepada detikFinance, Kamis (27/7/2017).

Faktor lain, kata Lana adalah subtitusi dari pusat kota ke wilayah lain. Banyak ekspatriat lebih memilih menempatkan kantor pusat di lokasi sekitar pabrik, ketimbang Jakarta. Misalnya wilayah, Bekasi, Cikarang, Tangerang hingga Karawang.

Alasannya adalah akses menuju Jakarta yang sudah terlalu padat. “Jadi level manager, yang tadinya di Jakarta, itu lebih baik kantor di sana saja karena macet dan tidak efisien,” jelasnya.

Hal ini tergambar dari meningkatnya pembangunan di kawasan tersebut, mulai dari gedung perkantoran, perumahan, apartemen hingga mal. Apartemen mewah di pusat kota sekarang juga sedikit peminat.

“Jadi demand yang tadinya di pusat kota itu bergeser,” tegas Lana.

Dari sisi tarif sewa gedung perkantoran, Lana merasa di Jakarta belum terlalu mahal bila dibandingkan dengan kota besar di negara lain seperti Singapura, Beijing, Tokyo dan lainnya.

“Harga di sini masih belum mahal, meskipun memang sudah beranjak naik,” ujarnya.

Pemerintah diharapkan lebih peka akan persoalan yang terjadi sekarang. Menurut Lana, fenomena gedung perkantoran hampir sama dengan yang terjadi pada Pasar Glodok, WTC Mangga Dua dan Roxy Square. “Harus diakui sekarang adalah bagian dari perlambatan,” tandasnya.

Meramal Nasib Mal 2 Tahun ke Depan

Tingkat kekosongan (vacancy) ruang sewa ritel pusat perbelanjaan mal di Jakarta diprediksi bakal terus naik hingga tahun 2019 mendatang. Sama halnya dengan yang terjadi pada gedung perkantoran.

Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus mengatakan, jumlah vacancy ruang sewa ritel di Jakarta bakal naik hingga ke angka 15% sampai tahun 2019.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya tambahan pasokan di tengah jumlah penyerapan yang diprediksi masih lambat.

“Outlooknya, untuk tahun ini diperkirakan ada tambahan pasokan sekitar 120 ribu m2, dengan proyeksi permintaan sekitar 50 ribu m2. Kita memperkirakan, tingkat vacancy akan sedikit naik ke level antara 11-12%,” kata Anton dalam jumpa pers di Panin Tower, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

“Lalu akan terus naik lagi di tahun depan sekitar 15% akibat pertumbuhan pasokan yang cukup signifikan tahun depan,” jelasnya.

ahun depan, diperkirakan ada tambahan suplai baru sekitar 250 ribu m2 untuk ruang ritel yang akan masuk ke pasar. Begitu pula hingga 2019 mendatang. Adapun ruang ritel yang bakal mengalami kenaikan suplai menurutnya akan datang dari mal kelas upper dan middle up.

“Namun untuk proyeksi dari harga sewa, kita memperkirakan bahwa ini masih akan kurang lebih stabil. Mal kategori high end mungkin akan naik tapi tidak terlalu signifikan,” tukasnya. (mkj/mkj)