Beranda Heritage Menelusuri Keunikan Arsitektur Masjid Berusia 116 Tahun di Riau

Menelusuri Keunikan Arsitektur Masjid Berusia 116 Tahun di Riau

162
BAGIKAN
Arsitektur Masjid Jami Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau, disebut mengikuti arsitektur Masjid Demak. Foto diambil Jumat (26/5/2017).

Masjid Jami Air Tiris pantas masuk dalam daftar destinasi religi yang patut dikunjungi ketika sedang berada di Riau.Masjid Jami Air Tiris yang ada di Kabupaten Kampar ini menjadi salah satu masjid tertua di Sumatera. Sebab, masjid ini sudah berdiri sejak 1901 atau telah berusia satu abad lebih, tepatnya 116 tahun.

Berdirinya masjid dengan arsitektur laiknya rumah apung ini memiliki cerita cukup menarik, karena pada saat itu di Kampar belum ada satu pun masjid atau mushala.

“Dulu lokasi masjid adalah sebuah pasar kenegaraan Tiris tahun 1881. Dua puluh tahun setelah itu ada Datuk Ongku Mudo Songkal yang merasa perlu membangun masjid dan kemudian berbicara dengan alim ulama untuk membangun masjid,” kata Juru Kebersihan Masjid Jami Air Tiris, Amiruddin Khatib, saat ditemui Tim Mudik Gesit, Jumat (26/5/2017).

Masjid dengan dominasi material kayu ini disebut Pak Udin, sapaan karib Amiruddin, dibangun tanpa menggunakan paku dan tanpa biaya.

Menurut Pak Udin, kala itu pembangunan masjid dibangun secara gotong royong dan sukarela serta dengan material kayu yang dicari di hutan.

“Setelah oke dan dibangun, dipanggil 24 desa untuk terlibat membangun, secara bergotong royong dan dengan mencontoh arsitektur Masjid Demak,” ujar Pak Udin.

Selain itu, model panggung di Masjid Jami Air Tiris dibuat lantaran untuk menghindari banjir ketika Sungai Kampar meluap.

Tim Mudik Gesit kemudian berkesempatan untuk masuk ke dalam masjid dan melihat interior di dalamnya.

Serba-serbi arsitektur dan keunikan yang ada di Masjid Jami Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau. Foto diambil Jumat (26/5/2017).(KOMPAS.com/Ridwan Aji Pitoko)

 

Interior Masjid Jami’ Air Tiris dapat dikatakan cukup sederhana dengan 40 tiang yang menjadi penyangga.

“Empat puluh tiang ini menunjukkan jemaah minimal dalam shalat Jumat dan ada dua tiang di tengah yang ada ukiran kaligrafinya. Karena dalam sejarahnya dua kayu yang menjadi tiang itu hanya bisa didekati dan diambil oleh Datuk,” ucap Pak Udin.

Keberadaan batu

Hal lainnya yang menarik dari Masjid Jami’ Air Tiris adalah keberadaan sebuah batu dengan bentuk serupa kepala kerbau. Batu tersebut menurut cerita Pak Udin bisa berpindah-pindah tempat tanpa ada bantuan dari manusia.

Awalnya, batu tersebut hendak digunakan untuk menjadi bagian dari pembangunan masjid, tetapi setiap dipasang selalu jatuh sehingga warga mengadukan hal tersebut ke Datuk.

“Kata Datuk, batu itu enggak usah dipasang, diasingkan saja. Setelah itu, batu tersebut berpindah-pindah sendiri, kadang di tengah masjid, di luar, dan akhirnya masuk ke dalam sumur tua selama kurang lebih 12 tahun,” tutur Pak Udin.

“Air rendaman batu di sumur itu sekarang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit ringan dan sekarang orang sering ke sini dengan tujuan itu,” kata dia.

Masjid Jami’ Air Tiris tercatat sudah pernah direnovasi. Beberapa bagian kini sudah menggunakan paku besi, kayu untuk lantai dan atap juga sudah diganti.

Sementara untuk tiangnya, kata Pak Udin, belum pernah diganti sama sekali sejak pertama kali dibangun.