Beranda Heritage Menikmati Perpaduan Arsitektur Turki-Arab Masjid Azizi di Langkat

Menikmati Perpaduan Arsitektur Turki-Arab Masjid Azizi di Langkat

455
BAGIKAN
Masjid Azizi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Foto diambil Senin (29/5/2017).(KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKO)
Salah satu masjid yang harus dikunjungi ketika berada di Sumatera adalah Masjid Azizi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Masjid Azizi menjadi masjid yang wajib dikunjungi karena memiliki arsitektur memesona dan juga cerita di balik pembangunannya yang penuh nilai historis. “Masjid Azizi ini salah satu masjid tertua karena mulai dibangun pada tahun 1898 oleh Sultan Abdul Aziz dari Kesultanan Langkat,” kata Bendahara sekaligus Pengurus Harian Badan Kepengurusan Masjid (BKM) Azizi Abul Hasan, kepada Tim Mudik Gesit. Masjid yang karib disebut Masjid Langkat ini kemudian rampung dibangun selang empat tahun kemudian atau tepatnya pada 13 Juni 1902. Tanggal itu bertepatan dengan 12 Rabiul Awal dalam Kalender Hijriah yang juga merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masjid ini pun terbilang mudah ditemui karena berada di Jalan Lintas Timur yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Begitu sampai di Kabupaten Langkat, Masjid Azizi dapat dijumpai dengan mudah karena memiliki warna paling mencolok dibandingkan masjid lainnya di Langkat.
Gambaran bagian dalam Masjid Azizi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). (KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKO)
Warna hijau dan kuning mendominasi masjid yang memiliki gaya arsitektur dan interior campuran antara Turki dan Arab tersebut. “Warna yang mencolok ini memang karena masjid baru saja dicat sebulan lalu oleh Dinas Cagar Budaya Langkat. Tapi sayang untuk menaranya ini enggak dicat sekalian,” kata Hasan. Masjid dengan luas tanah mencapai 4,5 hektar ini berbagi lahan dengan pemakaman keluarga Kesultanan Langkat dan juga untuk umum.
Gambaran kondisi kompleks makam di Masjid Azizi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). (KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKO)
Menurut Hasan, luas pemakamannya sendiri adalah satu hektar, sedangkan sisanya untuk masjid, area parkir, taman depan masjid, dan kantor BKM Azizi. “Kompleks pemakamannya ada, untuk umum, keturunan sultan, dan kerabat-kerabat jauh sultan,” tutur Hasan. Masjid Azizi, lanjut Hasan, memiliki tradisi selalu dijaga oleh keturunan sultan. Di luar itu hanya menjadi staf BKM-nya. “Untuk menjaganya harus ada keturunan sultan dan sekarang dijaga oleh Tuanku Anwar Abdul Aziz yang juga selaku pemangku adat,” kata dia