Beranda Topik Utama Pembangkitan Jawa Bali Kenalkan Digitalisasi Kelistrikan di PJB CONNECT 2017

Pembangkitan Jawa Bali Kenalkan Digitalisasi Kelistrikan di PJB CONNECT 2017

225
BAGIKAN
Teknisi melakukan penggantian kabel listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di kawasan Kedung Cowek Surabaya, Jawa Timur, Kamis (28/9). PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Distribusi Jawa Timur menargetkan rasio elektrifikasi atau pemberiaan tenaga kelistrikan di wilayah Jawa Timur akan mencapai 100 persen dalam dua tahun atau pada 2019. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/ama/17

PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana mengenalkan program digitalisasi kelistrikan dalam kegiatan PJB Conference and Exhibition of Technology to Support 35.000 MW Operational Excellence (PJB CONNECT) pada akhir Oktober 2017.

Direktur Utama PJB Iwan Agung Firstantra mengatakan digitalisasi kelistrikan yang dilakukan PJB dimulai dari digitalisasi enginering atau unit permesinan di mana setiap pembangkit akan dipasangi sensor yang mencatat kegiatan operasi secara langsung dan terintegrasi.

“Digitalisasi ini akan meng-capture semua data yang akan dianalisis dan akan menghasilkan suatu rekomendasi untuk langsung di-share. Apakah ini akan diadopsi oleh Asean? Kita lihat perkembangannya. Namun yang dilakukan PJB ini adalah yang pertama kali,” katanya di sela-sela 10th Asean Residential School in Electric Power Engineering (ARSEPE) Head of Asean Power Utilities/Authorities (HAPUA), Senin (2/10/2017).

Iwan menjelaskan, digitalisasi kelistrikan PJB merupakan terobosan baru dalam dunia kelistrikan. Melalui digitalisasi, diyakini bisa menghemat 2%-4% per pembangkit, terutama penghematan bahan bakar dan tenaga mekanik.

Dengan kata lain, PJB bisa memonitor seluruh pembangkit yang tersebar secara tersentral sehingga bisa menerapkan langkah-langkah efisiensi dengan cepat.

Adapun kegiatan 10th Asean Residential School in Electric Power Engineering (ARSEPE) Head of Asean Power Utilities/Authorities (HAPUA) tersebut merupakan kegiatan pelatihan kelistrikan bersama 7 negara Asean.

Peserta pelatiahan merupakan berasal dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, Laos dan Singapura. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan SDM dan saling bertukar strategi kelistrikan.