BAGIKAN
Foto: Dok. Kementerian PUPR

Tahun depan, Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) seksi I sepanjang 15,3 km telah bisa dilewati para pemudik di sekitar Jawa Barat bagian Selatan. Masyarakat yang berada di daerah ini akan menikmati jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi Seksi I (Ciawi-Cigombong) pada musim mudik tahun depan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan jalan toI Bocimi beberapa waktu lalu.

Demikian informasi yang disampaikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui akun instagram resminya, seperti dikutip detikFinance, Selasa (27/6/2017).

Dalam informasi tersebut disampaikan, bahwa jalan tol yang telah mendapatkan investor sejak tahun 1997 ini kini telah menunjukkan progres yang cukup baik. Presiden Jokowi dan beberapa Menteri Kabinetnya telah beberapa kali meninjau langsung tol yang telah bergonta-ganti investor ini.

Adapun konstruksi fisik seksi I Tol Bocimi saat ini telah mencapai 36,52% dengan pembebasan lahan mendekati 100%. Konstruksi dari seksi yang menyambungkan Ciawi dan Cigombong ini ditargetkan bisa selesai pada akhir tahun nanti.

Sebagai informasi, pada Februari 2015 lalu, groundbreaking proyek tol ini dilakukan untuk konstruksi seksi I jalan tol Bocimi dengan rute Ciawi-Cigombong. Groundbreaking kali ini menjadi groundbreaking terakhir karena sejak saat itu, pekerjaan fisik jalan tol mulai benar-benar menunjukkan wujudnya.

Presiden Jokowi akhirnya menyambangi proyek jalan tol ini pada Juni tahun lalu dan memerintahkan pembangunan jalan tol ini untuk bisa dikebut. (hns/hns)

Sejarah Panjang Tol Bocimi: Mangkrak Hingga Gonta-ganti Investor

Jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) terus dikebut pekerjaannya. Sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, jalan tol sepanjang 54 km ini ternyata telah memiliki sejarah panjang, dari mangkrak, hingga gonta-ganti investor.

Mengutip data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Rabu (21/6/2017), diketahui, pemenang lelang investasi jalan tol yang diperkirakan bakal menelan biaya Rp 7,7 triliun ini telah ditetapkan sejak tahun 1997.

Namun, tanda tangan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) oleh Konsorsium Bukaka Teknik Utama baru dilakukan pada tahun 2007, atau berselang 10 tahun sejak penetapan pemenang.

Konsorsium saat itu memiliki komposisi PT Bukaka Teknik Utama sebesar 35%, PT Graha Multitama Sejahtera 32,5% dan PT Karya Perkasa Insani menguasai 32,5% saham PT Trans Jabar Tol, pengelola Jalan Tol Bocimi

Meski PPJT sudah diteken, namun pekerjaan konstruksi belum juga dikerjakan. Baru pada April 2011, pencanangan atau yang umum dikenal dengan istilah groundbreaking jalan tol Bocimi dilakukan. Namun pekerjaan konstruksi tak juga dimulai.

Pada tahun 2011, juga terjadi perubahan struktur pemegang saham. Grup Bakrie menjadi pemegang saham pengendali atas PT Trans Jabar Tol. Komposisi pemegang saham kala itu adalah Bakrie Toll Road 60%, PT Marga Sarana Jabar 25% dan PT Bukaka Teknik Utama 15%.

Dengan pemegang saham baru, groundbreaking kedua tol Bocimi dilakukan pada Desember 2011. Namun, hal ini tak memberi banyak perubahan. Konstruksi tol Bocimi tetap belum bisa dilakukan.

Tahun 2014, Grup MNC mengakuisisi PT Bakrie Toll Road yang merupakan anak usaha Grup Bakrie yang menguasai 5 ruas jalan tol termasuk Bocimi. Bakrie Toll Road pun berganti nama menjadi MNC Toll Road. Sejak saat itu, penguasaan tol Bocimi secara resmi berpindah tangan dari Grup Bakrie ke Grup MNC.

Pasca pengambilalihan, Grup MNC menargetkan groundberaking ketiga bisa dilakukan pada awal tahun 2015. Sayang, hal itu urung dilakukan hingga akhirnya terjadi perubahan pemegang saham lagi.

Tahun 2015, PT Waskita melalui anak usahanya Waskita Toll Road secara bertahap mengambil alih kepemilikan jalan tol-jalan tol yang dikuasai MNC Toll Road. Pengambil alihan dilakukan dengan cara membentuk perusahaan patungan antara MNC dan Waskita yang diberi nama MNC Trans Jawa Toll Road.

Terakhir, saham MNC Trans Jawa Toll Road diakuisisi sepenuhnya oleh Waskita Toll Road sehingga anak usaha BUMN ini menjadi pemlik utama sejumlah jalan tol yang di dalamnya terdapat jalan tol Bocimi.

Struktur pemegang saham PT Trans Jabar Tol pun berubah lagi menjadi, PT Waskita Toll Road sebesar 81%, PT Bukaka Mega Investama sebesar 10,14% dan PT Jasa Sarana menguasai 8,22%.

Tak berlama-lama, pada Februari 2015, groundbreaking dilakukan untuk konstruksi seksi I jalan tol Bocimi dengan rute Ciawi-Cigombong. Groundbreaking kali ini menjadi groundbreaking terakhir karena sejak saat itu, pekerjaan fisik jalan tol mulai benar-benar menunjukkan wujudnya.

Juni 2016, Jokowi menyambangi proyek jalan tol ini dan memerintahkan pembangunan jalan tol ini segera dikebut. Saat ini proses pembebeasan lahan sudah hampir 100% dan progres konstruksi sudah mendekati 50%. (dna/mkj)