Beranda Topik Utama Teknologi “Jaring Laba-laba” Bisa Berperan Lebih Luas

Teknologi “Jaring Laba-laba” Bisa Berperan Lebih Luas

185
BAGIKAN
Konstruksi Laba-laba telah teruji di daerah-daerah rawan gempa, antara lain Aceh dan Padang, terutama terhadap gerakan vertikal maupun horisontal. Konstruksi tersebut juga dipakai untuk daerah-daerah yang memiliki kontur tanah ekstrim sehingga membutuhkan pondasi kuat. (Dok KSLL/Facebook )

Teknologi jalan beton Jalla atau Jaring Laba-laba seharusnya bisa berperan dalam pembangunan infrastruktur yang tengah digalakkan pemerintah di seluruh wilayah Indonesia. Produk lokal ini sudah teruji.Ahli Teknik Sipil, Prof Herman Wahyudi, mengatakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, khususnya Ditjen Bina Marga, mestinya memberikan peluang bagi inovasi ini untuk diaplikasikan ddalam pembangunan infrastruktur,

“Apalagi kalau inovasi tersebut telah lolos uji,” kata Herman, Selasa (13/6/2017).

Teknologi Jalla menggunakan perkerasan beton (rigid pavement). Strukturnya lebih stabil karena dilengkapi sirip-sirip menyerupai jaring laba-laba.

Herman menambahkan, maraknya pembangunan jalan tol dan jalan nasional di berbagai pelosok wilayah Indonesia, termasuk Trans Papua, seharusnya bisa ikut menyertakan teknologi karya bangsa sendiri.

Di sisi lain, teknologi tersebut tidak membutuhkan kontraktor dengan keahlian khusus. Khusus untuk jalan tol, misalnya, menurut Herman, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dapat memberikan sosialisasi penggunaan konstruksi dalam negeri sesuai kebijakan pemerintah untuk memperbesar Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

“Teknologi Jalla bisa dikerjakan seluruh kontraktor termasuk kontraktor kecil, di samping itu telah teruji lebih banyak menyerap tenaga kerja, lebih ramah lingkungan karena sedikit menggunakan alat berat, serta lebih ekonomis biaya pembangunan dan pemeliharaannya,” kata Herman.

Teknologi yang hak patennya dipegang oleh PT Katama Suryabumi ini sudah teruji di banyak temoat. Jika ada yang menyebutkan teknologi membutuhkan perbaikan tanah atau soil improvement, lanjut Herman, seluruh konstruksi baik itu perkerasan aspal maupun beton terlebih dahulu harus ada perbaikan tanah, khususnya tanah yang memiliki daya rusak tinggi.

“Tanah lempung, tanah ekpansif, dan tanah gambut membutuhkan penanganan khusus terlebih dahulu sebelum di atasnya ditempatkan perkerasan jalan. Semua itu bisa dihitung, mau kualitas seperti apa dan teknologi mana mau dipakainya,” papar Herman.

Untuk tanah-tanah yang memiliki sifat ekstrem, selama ini teknologi Jalla terbukti mampu menahan beban di atasnya seperti di Dumai Provinsi Riau dan Bojonegoro Jawa Timur.

“Seharusnya teknologi ini diberi kesempatan untuk pemanfaatan yang lebih luas lagi,” kata Herman.

Saat ini PT Katama Suryabumi sendiri telah menggandeng BUMN Karya untuk memanfaatkan pabrik pracetak di seluruh Indonesia agar Jalla dapat diaplikasikan di seluruh Indonesia.