Banyak orang merasa hidup sekarang lebih padat, cepat, dan melelahkan daripada sebelumnya. Menurut tinjauan konseptual yang diterbitkan oleh peneliti dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) dan James Cook University, Singapura, salah satu penjelasannya adalah adanya ketidaksesuaian antara naluri manusia dan lingkungan modern yang berubah jauh lebih cepat daripada evolusi biologis kita.
Gagasan utamanya sederhana: manusia berevolusi untuk hidup di dunia yang penuh wajah-wajah familiar, ancaman yang langsung, dan kelompok sosial kecil. Sekarang, kita justru hidup di kota padat, platform digital, masyarakat yang timpang, dan situasi global yang saling tumpang tindih. Ketika naluri lama dipaksa bekerja di lingkungan baru seperti ini, stres, kesepian, dan perasaan terus dibandingkan dengan orang lain bisa muncul.
Naluri lama, dunia baru
Selama sebagian besar sejarah evolusi, manusia hidup dalam kelompok kecil yang saling mengenal. Dalam konteks seperti itu, orang bisa membaca status, kepercayaan, dan ancaman melalui interaksi tatap muka yang akrab. Sistem psikologis kita berkembang untuk mengenali isyarat yang jelas dan dekat semacam itu.
Masalahnya, kehidupan modern berubah sangat cepat. Kita kini berhadapan dengan kepadatan kota, algoritma media sosial, tekanan ekonomi, dan arus informasi yang tidak berhenti. Menurut para peneliti, perubahan ini menciptakan evolutionary mismatch, yaitu kondisi ketika insting yang terbentuk di lingkungan lama harus bekerja di lingkungan yang sangat berbeda.
Mengapa perbandingan terasa berat
Salah satu fokus utama artikel ini adalah peran kompetisi sosial. Dalam kelompok kecil, perbandingan sosial membantu orang memahami posisinya dan menjaga kerja sama. Namun di dunia modern, insting itu bisa dipicu terus-menerus oleh unggahan media sosial, pencapaian orang lain, dan sinyal status yang datang tanpa henti.
Akibatnya, kita mudah merasa tertinggal, diawasi, atau tidak cukup baik. Bahkan ketika ancamannya bukan bahaya fisik, tubuh tetap bisa merespons seolah sedang menghadapi tekanan nyata. Itulah sebabnya kompetisi modern dapat terasa konstan meskipun tidak selalu terlihat secara langsung.
Dari stres sampai kesepian
Para penulis mengaitkan ketidaksesuaian ini dengan berbagai masalah psikososial, seperti stres, kesepian, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan. Mereka tidak mengatakan bahwa semua masalah ini disebabkan oleh evolusi, tetapi mengusulkan bahwa evolusi bisa membantu menjelaskan mengapa manusia bereaksi begitu kuat terhadap tekanan sosial modern.
Poin pentingnya adalah bahwa stres modern tidak selalu murni soal kelemahan pribadi. Lingkungan juga punya peran besar. Kalau ruang hidup terus memicu rasa kalah, terasing, atau kewalahan, maka respons tubuh dan pikiran terhadap kondisi itu bisa sangat berat.
Kota dan ruang digital
Artikel SUTD menekankan bahwa implikasi gagasan ini meluas ke desain kota, komunitas, dan platform digital. Kepadatan kota tidak otomatis buruk, tetapi yang menentukan adalah apakah tempat itu terasa mengancam, membingungkan, atau justru mendukung rasa aman. Karena itu, ruang hijau, hubungan komunitas yang lebih kuat, dan desain sosial yang lebih bijak bisa membantu mengurangi tekanan tanpa harus membuat kota menjadi lebih rendah kepadatannya.
Hal serupa berlaku untuk ruang digital. Peneliti tidak mengusulkan kembali ke masa lalu atau menolak modernitas. Sebaliknya, mereka mendorong agar teknologi dan lingkungan sosial didesain agar tidak terus-menerus memicu perbandingan dan kompetisi yang melelahkan.
Bukan sekadar masalah pribadi
Salah satu pesan terpenting dari tinjauan ini adalah bahwa solusi untuk stres modern tidak cukup hanya dengan menyuruh orang “lebih tahan banting”. Jika sumber tekanannya berasal dari lingkungan yang menyalakan naluri lama secara berlebihan, maka perbaikan harus menyentuh tingkat sistem: kota, tempat kerja, komunitas, dan ruang digital.
Dengan kata lain, yang perlu dibenahi bukan hanya individu, tetapi juga lingkungan tempat individu itu hidup. Pandangan ini membuat kesehatan mental terlihat lebih luas: bukan sekadar urusan coping personal, melainkan juga urusan desain sosial.
Arah riset berikutnya
Karena studi ini merupakan tinjauan konseptual, para penulis menekankan perlunya penelitian lapangan untuk menguji gagasan mereka. Mereka ingin melihat bagaimana perasaan kompetisi dan kesejahteraan berbeda di lingkungan yang lebih hijau, lebih ramah sosial, atau lebih nyaman secara psikologis. Mereka juga tertarik membandingkan ruang digital yang memperkuat perbandingan dengan ruang digital yang menguranginya.
Pada akhirnya, artikel ini mengajak kita berpikir bahwa hidup modern mungkin tidak salah secara total, tetapi sering kali dirancang tanpa cukup mempertimbangkan cara kerja manusia. Jika kita ingin masyarakat yang lebih sehat dan tidak terlalu mengasingkan, maka kita perlu membuat lingkungan yang bekerja selaras dengan naluri dasar manusia, bukan melawannya.
Referensi
Singapore University of Technology and Design, “Modern life may be outpacing the human mind” (30 June 2026).
Yong, J., Chan, S. et al. Behavioral Sciences 16(5):650 (2026), “Evolutionary mismatch, stress, and competition: Making sense of psychosocial problems in the polycrisis era.”



























