Bunglon dikenal luas sebagai hewan yang mampu mengubah warna tubuhnya. Kemampuan ini sering dianggap sebagai bentuk kamuflase semata, namun dari sudut pandang evolusi, perubahan warna pada bunglon merupakan hasil adaptasi kompleks yang melibatkan komunikasi, pengaturan suhu, dan seleksi alam selama jutaan tahun.
Secara ilmiah, perubahan warna pada bunglon tidak disebabkan oleh pigmen seperti pada gurita, melainkan oleh struktur khusus pada kulitnya yang disebut iridofor. Sel-sel ini mengandung kristal nano yang dapat mengubah jarak satu sama lain. Ketika bunglon rileks, jarak kristal pendek dan memantulkan warna biru atau hijau. Saat bunglon stres, marah, atau ingin menarik pasangan, jarak kristal melebar sehingga memantulkan warna kuning, merah, atau oranye. Evolusi sistem ini memberi keuntungan besar dalam interaksi sosial dan bertahan hidup.
Dari perspektif evolusi, kemampuan berubah warna muncul sebagai respons terhadap tekanan lingkungan. Bunglon yang mampu menyamarkan diri dari predator memiliki peluang hidup lebih tinggi dan lebih mungkin mewariskan gen tersebut. Namun seiring waktu, fungsi perubahan warna berkembang lebih jauh. Warna cerah digunakan jantan untuk menunjukkan dominasi atau kesehatan saat musim kawin, sementara warna gelap membantu menyerap panas saat suhu lingkungan rendah.
Kemampuan ini juga berkaitan dengan evolusi sistem saraf dan hormon bunglon. Perubahan warna dikendalikan oleh sinyal saraf dan hormon seperti adrenalin. Artinya, evolusi tidak hanya membentuk kulit bunglon, tetapi juga sistem fisiologis internalnya agar mampu merespons lingkungan secara cepat dan efisien.

Selain itu, mata bunglon yang dapat bergerak independen dan lidahnya yang panjang dan lengket juga merupakan hasil evolusi yang mendukung gaya hidup arboreal dan berburu serangga. Kombinasi berbagai adaptasi ini menunjukkan bahwa evolusi bekerja secara terintegrasi, bukan pada satu organ saja.
Dengan demikian, bunglon bukan sekadar hewan “berubah warna”, melainkan contoh nyata bagaimana evolusi menciptakan solusi biologis yang kompleks, efisien, dan multifungsi untuk bertahan hidup di lingkungan yang kompetitif.



























