BAGIKAN
R. paranensis. Credit: Journal of Fish Biology (2025). DOI: 10.1111/jfb.70158

Di benak banyak orang, ikan adalah hewan yang berenang mengikuti arus, bukan menentang gravitasi. Namun di sebuah sungai di Brasil bagian selatan, ilmuwan merekam pemandangan yang tampak mustahil: ribuan ikan lele mungil merayap naik di dinding batu licin di samping air terjun, seolah-olah mereka adalah pendaki tebing berukuran mini. Spesies itu adalah lele bumblebee, Rhyacoglanis paranensis, dan perilaku ini baru pertama kali didokumentasikan.

Peristiwa ini terjadi di Sungai Aquidauana, bagian dari DAS Sungai Paraguay, di negara bagian Mato Grosso do Sul, Brasil. Petugas Polisi Militer Lingkungan setempat yang pertama kali memperhatikan kumpulan ikan yang tidak biasa di sekitar Air Terjun Sossego pada November 2024, tepat di awal musim hujan. Ketika mereka mengamati lebih dekat, mereka melihat ratusan hingga ribuan lele kecil berwarna oranye-hitam yang bergerak pelan, tetapi pasti, menanjak di permukaan batu yang disirami air terjun. Beberapa hari kemudian, tim ilmuwan Brasil datang ke lokasi dan mengabadikan fenomena ini secara sistematis, yang kemudian dipublikasikan dalam Journal of Fish Biology pada 2025.

Lele bumblebee dari genus Rhyacoglanis adalah anggota keluarga Pseudopimelodidae, kelompok lele Neotropik berukuran kecil yang relatif jarang dan kurang dipelajari. Mereka hidup di sungai-sungai berarus deras, sehingga sulit ditangkap dan diamati dalam jumlah besar. Justru karena itulah, dokumentasi agregasi besar-besaran dan perilaku memanjat air terjun pada R. paranensis menjadi sangat penting—ini memberikan jendela langka ke ekologi dan perilaku spesies kecil yang selama ini “tersembunyi” di arus deras.

Selama pengamatan, para peneliti mencatat bahwa perilaku memanjat sangat bergantung pada waktu. Di siang hari yang panas, ikan-ikan ini bersembunyi di bawah batu dan di area teduh di sekitar air terjun, tampak pasif dan menghindari sinar matahari langsung. Aktivitas mendaki baru benar-benar dimulai menjelang sore hingga awal malam, ketika matahari mulai turun dan suhu udara lebih rendah. Pada saat itu, ribuan individu bergerak secara serempak menuju dinding-dinding batu yang basah di sisi air terjun, membentuk gelombang ikan yang merayap perlahan ke arah hulu.

Bagaimana ikan-ikan kecil ini mampu memanjat permukaan batu yang licin dan terus-menerus disiram air? Dari pengamatan visual, peneliti menemukan bahwa lele bumblebee memanfaatkan kombinasi postur dan gerakan tubuh. Mereka membuka lebar sirip berpasangan (dada dan perut) untuk meningkatkan area kontak dengan permukaan, sambil menggunakan gerakan tubuh lateral dan dorongan ekor untuk “mendorong” diri ke depan. Selain itu, diduga ada mekanisme mirip hisap atau tekanan negatif yang dihasilkan antara tubuh dan permukaan batu, membantu ikan menempel dan tidak terlepas oleh derasnya aliran air. Mirip dengan bagaimana beberapa ikan loricariid (ikan sapu-sapu) memakai mulut dan siripnya untuk menempel di kaca akuarium, lele ini tampaknya mengandalkan kombinasi anatomi dan gaya lembap-berair untuk menaklukkan dinding batu.

Yang membuat pemandangan ini kian spektakuler adalah skala peristiwanya. Rekaman lapangan menunjukkan ribuan ikan berkumpul di area sempit, menumpuk di atas satu sama lain. Dalam beberapa bagian dinding, ikan-ikan ini membentuk semacam “tangga hidup” di mana individu yang lebih bawah menjadi pijakan bagi yang di atasnya. Tiga spesies ikan lain—termasuk beberapa anggota Loricariidae dan Characiformes—juga tercatat ikut memanjat bersama mereka, tetapi lele bumblebee menjadi pemeran utama dalam migrasi vertikal yang dramatis ini.

Mengapa mereka bersusah payah memanjat air terjun? Jawaban pastinya belum diketahui, tetapi data yang dikumpulkan memberi petunjuk kuat. Perilaku memanjat terjadi pada awal musim hujan, fase yang pada banyak sungai tropis merupakan saat dimulainya migrasi ikan untuk berkembang biak. Ikan yang memanjat terdiri dari jantan dan betina, dan sebagian besar adalah individu dewasa yang telah matang gonadnya. Hal ini konsisten dengan migrasi pemijahan: mereka tampaknya bergerak ke hulu untuk mencapai area tertentu yang lebih aman atau lebih cocok untuk melepaskan telur dan sperma.

Analisis isi lambung menunjukkan bahwa ikan-ikan ini tidak sedang aktif makan selama aktivitas memanjat, menandakan bahwa energi yang dikeluarkan ditujukan terutama untuk mencapai lokasi tujuan, bukan untuk mencari makanan. Dalam konteks ini, perilaku memanjat air terjun dapat dipandang sebagai salah satu strategi ekstrem untuk memastikan keberhasilan reproduksi—mirip dengan perjalanan salmon yang melawan arus deras, tetapi dalam skala ukuran dan gaya gerakan yang berbeda.

Dari perspektif konservasi, temuan ini bukan hanya “kejadian menarik”, tetapi sinyal penting tentang kebutuhan ekologis ikan migran kecil. Sungai-sungai di banyak wilayah tropis kini terancam fragmentasi habitat akibat bendungan, irigasi, dan infrastruktur lainnya. Jika spesies seperti R. paranensis mengandalkan jalur migrasi vertikal melalui air terjun alami untuk mencapai lokasi pemijahan, maka perubahan hidrologi atau pembangunan penghalang buatan bisa memutus siklus hidup mereka tanpa pernah kita sadari.

Penulis studi menekankan bahwa pengamatan lapangan langsung seperti ini sangat penting untuk memahami peran ekologis ikan migran kecil dan kebutuhan konservasi mereka. Spesies-spesies mungil sering diabaikan dalam perencanaan konservasi sungai, padahal secara fungsional mereka bisa menjadi penghubung penting dalam jaring makanan, siklus nutrien, dan dinamika komunitas ikan. Dengan mengetahui bahwa mereka melakukan migrasi naik air terjun, perencana dapat mempertimbangkan desain struktur yang lebih ramah migrasi, seperti fishway yang juga dapat diakses ikan kecil, bukan hanya spesies besar.

Secara ilmiah, perilaku ini juga membuka banyak pertanyaan penelitian baru. Bagaimana anatomi mikro sirip dan kulit R. paranensis mendukung gaya hisap atau gesekan tinggi di permukaan batu basah? Apakah ada pola genetik khusus yang terkait dengan kemampuan memanjat? Bagaimana perilaku ini dikaitkan dengan kondisi lingkungan mikro di sekitar air terjun, seperti kecepatan arus, suhu, dan kadar oksigen? Dan sejauh mana fenomena serupa juga terjadi pada spesies lain, tetapi belum sempat terdokumentasi?

Fenomena lele bumblebee pendaki air terjun pada akhirnya mengingatkan bahwa bahkan di era citra satelit dan sensor canggih, observasi lapangan sederhana masih bisa mengungkap perilaku hewan yang benar-benar baru bagi sains. Sebuah kebetulan—petugas yang jeli mengamati sesuatu yang aneh di kaki air terjun—berkembang menjadi temuan ilmiah yang memperkaya pemahaman kita tentang migrasi ikan dan adaptasi ekstrem di perairan tropis. Bagi dunia biologi perairan dan konservasi sungai, sosok kecil oranye-hitam yang merayap di batu basah ini menjadi pengingat bahwa keajaiban evolusi sering terjadi dalam skala yang sangat kecil, namun dengan implikasi yang besar.


Referensi (gaya media/populer)