BAGIKAN
(img:literaturejunction.com)

Tidak hanya keindahan, Aljazair juga mempunyai sejarah panjang dalam melepaskan diri dari cengkeraman bangsa Romawi dan penjajahan Negara Perancis hingga merdeka dan bisa mandiri seperti saat ini.

Setelah melepaskan diri dan merdeka, negara yang saat ini dipimpin oleh Presiden Abdelaziz Bouteflika itu terus melakukan pembangunan-pembangunan guna mempercantik negaranya. Meski begitu, pemerintah Aljazair tetap menjaga dan melestarikan bangunan-bangunan kuno pada masa lampau yang dimilikinya. Bangunan-bangun kuno tersebut sebagaimana yang berada di wilayah Tipaza.

Terletak di pantai Mediterania, di Tipaza ini banyak peninggalan yang berupa reruntuhan unik dari kerajaan Romawi kuno. Dibilang unik, karena struktur dan artefaknya sangat terlihat berumuran ribuan tahun dan identik dengan romawi.

Situs Arkeologi dari Tipaza ini merupakan satu kompleks arkeologi yang paling luar biasa dari Aljazair, dan mungkin salah satu yang paling signifikan untuk mempelajari kontak antara peradaban timur dan barat.

Saat wartawan Koran Jakarta, Muhammad Umar Fadloli berkunjung ke wilayah tersebut pada Jumat (25/11) nampak betul bangunan kuno yang berada di dalamnya. Meski kuno, bangunan-bangunan tersebut terlihat indah dan eksotis, dan para pengunjung seolah-olah di bawa kepada masa lampau.

Saat memasuki gerbang komplek, pemandangan indah sudah tersaji yakni keberadaan bekas arena ‘duel’ antara gladiator melawan binatang buas yang diberi nama Collesium. Dengan bentuk menyerupai lapangan sepakbola, Collesium diberi empat pintu untuk mengeluarkan gladiator dan binatang buas yang akan diadunya.

Tumpukan batu khas Ajazair yang sedikit bercadas sebagai tempat untuk menyaksikan duel juga masih tersisa meski tidak seindah sewaktu masih dikuasai oleh bangsa Romawi.

“Ini dibangun pada abad 1 Masehi,” kata Staff Fungsi Politik KBRI Aljazair, Almunir Muchtar saat mendampingi rombongan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) mengunjungi Tipaza.

Reruntuhan Kerajaan

Setelah dari Collesium, kurang lebih sekitar 500 meter, langsung disuguhi bekas-bekas reruntuhan kerajaan Romawi. Dengan jalan sedikit berbatuan, bangunan kuno milik kerajaan Romawi tersebut hanya tersisa ribuan bebatuan khas Aljazair yang berdiri sampai ditepi laut Mediterania. Hal inilah yang membuat suasana nampak semakin indah.

“Ini tempatnya sangat indah karena langsung berbatasan dengan laut. Kalau ini saja sudah indah bagaimana saat kerajaan ini masih berdiri pada masa itu,” kata salah seorang anggota HIPSI Bagus Hermono yang ikut menyaksikan sisasisa sejarah kerajaan Romawi ini.

Selain itu, di wilayah Tipaza juga terdapat satu mosium tempat peninggalan benda-benda langka zaman romawi seperti batu yang dibuat untuk lantai, kaligrafi kuno di atas batu, kendi dan beberapa benda peninggalan lainya.

Tidak hanya itu, saat memasuki mosium, terlihat dinding tembok dipasangi lukisan bermotif kembang yang di tengahnya terdapat gambar seorang perempuan dan laki-laki yang tangannya diikat dan duduk di atas batas. Lukisan tersebut dibuat dengan cara dilukis di dinding mosium.

Sementara itu, di depan lukisan terdapat beberapa batu berbentuk persegi panjang yang ditaruh dengan diberdirikan. ”Semua benda-benda ini sudah ada sejak zaman romawi,” kata Almunir Muchtar.

Makam Raja Juda II dan Ratu Cleopatra Selleni VIII

Tidak hanya bangunan kuno dan bebatuan yang unik, di Aljazair juga ada bangunan dengan luas 80.0000 meter persegi yang semuanya terbuat dari batu asli Aljazair.

Bangunan ini disebutsebut sebagai makam Raja Juda II dan Ratu Cleopatra Selleni VIII. Makam yang terletak tidak jauh dari Tipaza ini menjadi bangunan kuno bersejarah serta menjadi tempat wisata bagi warga Aljazair. Bangunan kuno yang hampir menyerupai piramida ini memiliki diameter 185,5 meter, tinggi 32,4 meter, 60 tiang dan empat pintu rahasia. “Untuk lorong yang berada di dalamnya memutar menyerupai hewan kaki seribu,” kata Staff Fungsi Politik KBRI Aljazair Almunir Muchtar saat ikut masuk ke dalam lorong untuk melihat makam yang berada di dalam.

Makam Raja Juda II dan Ratu Cleopatra Selleni VIII . Dikenal juga sebagai The Royal Mausoleum of Mauretania.

Ia lalu mengajak rombongan HIPSI masuk untuk melihat langsung makam milik Ratu Cleopatra tersebut. Dengan didampingi petugas Aljazair, satu persatu pengunjung masuk ke dalam lorong dengan didampingi oleh pejabat dan polisi Aljazair.

Lorong yang dilewati untuk menuju makam tersebut sangat gelap dan tidak ada penerangan kecuali lewat lampu dari handphone masing- masing pengunjung agar bisa sampai ke makam. ”Menurut sejarah, ini (tempat) adalah sebagai makam dari Cleopatra,” ujar Munir.

Dalam kesempatan itu Munir juga sedikit menceritakan terkait makam tersebut. Menurutnya, pada tahun 1555 masehi, Napoleon Bonaparte sudah memerintah untuk menggali makam yang diyakini terkubur jasad Raja Juda II dan Ratu Cleopatra VIII.

“Tapi jenazah tidak ditemukan karena ada bangsa vandal (vandalisme) yang merusak peninggalan romawi,” tutup Munir seraya menambahkan bahwa tidak sembarang pengunjung bisa memasuki makam tersebut.

Monumen Bersejarah

Aljazair yang memiliki hubungan dekat dekat dengan Indonesia juga memiliki monumen bersejarah layaknya Monumen Nasional (Monas) yang dimiliki oleh Indonesia.

Monumen yang berada di Aljazair diberi nama ‘Maqam Echahid’ atau Makam Sahid. Monumen ini terdiri dari tiga sirip bergaya yang sama tinggi dan di tengahnya terdapat semacam kubah kecil.

Maqam Echahid

Monumen yang dibangun dari beton ini mencapai ketinggian 92 meter. Riciannya, tiga sirip tinnginya 14 meter dari tanah lalu menara Islam dengan diameter 10 meter dengan tinggi 7,6 meter dan atap kubah 6 meter. Monumen itu terletak pada sebuah lapangan terbuka yang berada ditengah kota. Di mana, di setiap tepi sirip monumen yang berbentuk daun kelapa berdiri patung prajurit yang masing-masing mewakili tahap perjuangan Aljazair.

Pembangunan monumen ini sebagai bentuk penghormatan serta untuk mengenang para syuhada (orang yang mati sahid) saat Perang Kemerdekaan. Pembangunan ini adalah gagasan dari Presiden Houari Boumedienne. Pembangunan monumen ini memakan waktu sembilan bulan (15 November 1981 hingga 5 Juli 1982). Monumen ini diresmikan oleh Presiden Chadli Bendjedid pada Februari 1986.

Sepintas, monumen ini hampir mirip seperti Menara Eiffel di Prancis, bedanya, kalau di Prancis menggunakan besi, sementara di Aljazair menggunakan beton. Kenapa hampir sama, karena Aljazair juga bagian dari jajahan Prancis.

Makam Sahid ini menjadi salah satu icon dari Aljazair. Di tempat ini menjadi saksi sejarah para pejuang Aljazair merebut kemerdekannya dari Prancis. Banyak pejuang yang meninggal di sini. Selain itu, tempat ini juga menjadi salah satu wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Alzair.

“Kalau ada pejabat negara yang ke Aljazair pasti juga akan dibawa ke sini (Makam Sahid) untuk meletakkan karangan bunga sebagai penghormatan. Ibu Megawati saat ke sini juga melakukan hal yang sama,” kata Staf Fungsi Politik KBRI Aljazair Almunir Muchtar.  fdl/E-3

SUMBERkoran jakarta
BAGIKAN