BAGIKAN
Photo by mostafa meraji on Unsplash

Peristiwa tumpahan minyak di perairan Mauritius telah mendorong penduduknya untuk bahu-membahu menyelamatkan lingkungannya dengan memotong rambut mereka.

Sebuah kapal Jepang yang menabrak terumbu karang di perairan Mauritius diperkirakan telah menumpahkan sekitar 1.000 ton minyak ke lautan. Dalam sekejap mengubah air laut yang biasanya biru kehijauan menjadi hitam pekat.

Meskipun tumpahan telah dihentikan secara resmi, namun masih tersisa sekitar 2.500 ton minyak di atas kapal yang perlu diselamatkan, sebelum diperkirakan kapal terbelah dua

Sementara pemerintah meminta bantuan internasional untuk menanggulangi tumpahan, para penduduk setempat melakukan  tindakannya sendiri dengan membuat penghalang terbuat dari jerami, daun tebu, dan rambut manusia yang dimasukkan ke dalam karung kain.

“Warga negara sedang membuat beberapa kilometer dari floating boom untuk menahan tumpahan dan kami telah membuatnya dari daun tebu, bahkan kami juga membuatnya dari rambut karena rambut adalah penyerap minyak yang baik,” anggota parlemen Mauritian Joanna Berenger, yang telah memotongnya sendiri rambut, kata Newsday BBC.

Gambar drone dari MV Wakashio. (Credit: Greenpeace Afrika)

Rambut sebenarnya adalah alat yang sempurna untuk membersihkan minyak dalam situasi seperti ini. Rambut manusia bersifat lipofilik, artinya menolak air tetapi menempel pada apapun yang berbahan minyak. Sehingga dapat digunakan dalam pemisahan minyak dan air. Satu kilogram rambut bisa menyerap 8 liter minyak, menurut Berenger.

Faktanya, para ilmuwan telah menganjurkan penggunaan rambut (manusia dan hewan) untuk menyerap tumpahan minyak selama bertahun-tahun. Ini pertama kali diuji pada tahun 1978 ketika kapal tanker Amoco Cadiz kandas di lepas pantai Brittany, Prancis, menumpahkan sekitar 220.880 ton minyak. Begitupun pada peristiwa tumpahan minyak Taylor tahun 2004 di Teluk Meksiko, yang masih berlangsung hingga kini dan menjadikannya sebagai tumpahan minyak yang paling lama terjadi.

Sebuah studi NASA pada akhir 1990-an menemukan bahwa 11.340 kilogram rambut mungkin cukup untuk menyerap 170.000 galon minyak yang tumpah dan 1 galon dapat diserap dalam waktu kurang dari 2 menit. Baru-baru ini pada Juli 2020, sebuah studi di jurnal Environments mengungkapkan bahwa rambut anjing dan manusia sama baiknya dengan kain sintetis seperti polypropylene yang saat ini digunakan untuk tumpahan minyak sebagai penyerap minyak mentah dan lebih berkelanjutan.

Sekarang penduduk setempat terdorong untuk memotong rambut mereka dan menyumbangkannya untuk tujuan tersebut. Imbalannya, seorang penata rambut menawarkan potongan rambut gratis bagi siapa pun yang menyumbangkan rambut mereka. Prancis, yang pernah menjadi penguasa kolonial Mauritius, juga telah bergabung, diperkirakan sekitar 20 ton rambut akan didatangkan, kata Berenger. 

Mauritius adalah negara kecil yang sangat bergantung pada kemolekan pariwisatanya. Pantainya yang indah, dan lautnya dihiasi oleh beragam satwa liar. Tumpahan minyak semakin mendekati Taman Laut Blue Bay negara itu dan sudah mengancam karang, ikan, dan lahan basah setempat, yang melindungi negara kepulauan itu dari kenaikan permukaan laut.  

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kester “Kit” Grant (@kesterkitgrant) on

BAGIKAN