BAGIKAN

Selama ini, tawa sering dianggap sebagai ciri khas manusia. Kita tertawa saat bercanda, saat merasa lega, atau ketika sesuatu terasa lucu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tawa manusia dan kera besar ternyata memiliki pola yang sangat mirip. Temuan ini membuka jendela penting untuk memahami bagaimana perilaku sosial, komunikasi emosional, dan bahkan asal-usul bahasa manusia berkembang dalam sejarah evolusi primata.

Studi yang dipublikasikan pada 2026 ini meninjau ulang rekaman lama tawa dari 13 kera besar yang hidup di penangkaran, termasuk gorila, orangutan, simpanse, dan bonobo. Para peneliti kemudian membandingkannya dengan tawa empat anak kecil yang direkam saat bermain dan digelitik di rumah. Hasilnya mengejutkan: ritme tawa manusia dan kera besar mengikuti pola yang sangat mirip, dengan jeda antartawa yang relatif teratur. Kesamaan ini menunjukkan bahwa tawa bukan inovasi baru pada manusia, melainkan warisan evolusioner yang sudah ada sejak nenek moyang bersama kita dengan kera besar jutaan tahun lalu.

Secara biologis, tawa merupakan sinyal sosial yang penting. Ia menandakan suasana bermain, aman, dan menyenangkan, tanpa harus memakai kata-kata. Pada banyak hewan, perilaku mirip tawa juga muncul, tetapi bentuknya tidak selalu sejalan dengan pola manusia. Tikus, misalnya, menghasilkan suara ultrasonik saat digelitik, sedangkan kera besar mengeluarkan vokalisasi yang lebih mirip tawa manusia. Ini menunjukkan bahwa tawa dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi pada primata besar, ia tampaknya mengikuti arsitektur vokal yang lebih dekat dengan manusia.

Yang menarik, manusia tidak hanya tertawa lebih sering, tetapi juga lebih fleksibel. Tawa kita dapat berubah sesuai konteks sosial: tawa sopan dalam percakapan formal, tawa lepas bersama teman dekat, hingga tawa gugup ketika merasa canggung. Pada kera besar, tawa juga berkaitan dengan permainan dan interaksi sosial, tetapi variasinya belum sekompleks manusia. Perbedaan ini memberi petunjuk bahwa manusia mungkin mewarisi bentuk dasar tawa dari nenek moyang primata, lalu mengembangkannya menjadi alat komunikasi sosial yang jauh lebih kaya.

Dari sudut pandang evolusi, temuan ini sangat penting. Jika tawa manusia dan kera besar memiliki ritme yang serupa, berarti pola vokalisasi tersebut kemungkinan sudah ada sebelum garis keturunan manusia dan kera besar berpisah. Para peneliti memperkirakan bahwa ciri ini bertahan sejak sekitar 15 juta tahun yang lalu. Artinya, tawa adalah salah satu bentuk komunikasi emosional yang sangat tua, dan bukan sekadar produk budaya modern.

Tawa juga erat kaitannya dengan perilaku bermain. Dalam biologi perilaku, bermain dianggap sebagai aktivitas penting bagi perkembangan sosial dan kognitif. Anak-anak primata sering menggunakan tawa saat bermain fisik, bergumul, atau saat terjadi kontak sosial yang menyenangkan. Dalam konteks ini, tawa berfungsi sebagai sinyal bahwa interaksi yang sedang berlangsung bukanlah ancaman. Dengan kata lain, tawa membantu menjaga permainan tetap aman dan sosial tetap harmonis.

Studi ini juga memberi kontribusi pada diskusi yang lebih besar tentang asal-usul bahasa manusia. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa bahasa tidak muncul begitu saja, melainkan berkembang dari sistem komunikasi yang lebih sederhana. Tawa mungkin salah satu kandidat kuat untuk sistem awal tersebut. Mengapa? Karena tawa adalah vokalisasi yang bersifat emosional, sosial, dan ritmis. Ciri-ciri ini sangat penting dalam komunikasi prabahasa, sebelum manusia mengembangkan struktur kata dan tata bahasa yang kompleks.

Selain itu, penelitian semacam ini membantu menjelaskan apa yang membedakan manusia dari primata lain, tetapi juga apa yang menyatukan kita. Manusia sering kali dipandang sebagai makhluk unik karena bahasa, budaya, dan teknologi. Namun, studi tentang tawa mengingatkan kita bahwa banyak aspek perilaku sosial kita berasal dari akar biologis yang sangat tua. Kita bukan terpisah sepenuhnya dari dunia hewan; kita justru membawa banyak warisan perilaku yang diwariskan dari leluhur bersama.

Dari sisi metodologi, penelitian ini juga menarik karena memanfaatkan rekaman lama yang sebelumnya mungkin dianggap kurang penting. Rekaman tawa pada kera besar yang dibuat puluhan tahun lalu ternyata masih sangat berguna ketika dibandingkan dengan data baru dari anak manusia. Ini menunjukkan pentingnya arsip data perilaku hewan dalam riset evolusi. Sering kali, jawaban besar justru tersembunyi dalam data lama yang dianalisis ulang dengan pertanyaan baru.

Implikasi penelitian ini tidak berhenti pada biologi evolusi. Ia juga relevan bagi psikologi, antropologi, dan ilmu saraf. Jika tawa adalah sinyal sosial yang sangat tua, maka otak primata mungkin telah berevolusi untuk memproses vokalisasi emosional jauh sebelum munculnya bahasa simbolik. Ini bisa membantu peneliti memahami bagaimana manusia mengenali emosi, membangun ikatan sosial, dan menafsirkan niat orang lain melalui suara.

Pada akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa tawa bukan hanya reaksi spontan terhadap humor. Ia adalah bagian dari sejarah panjang evolusi primata, sebuah jejak biologis yang menghubungkan manusia dengan kera besar. Saat kita tertawa bersama teman atau keluarga, mungkin kita sedang menghidupkan kembali pola komunikasi yang sudah diwariskan sejak jutaan tahun lalu. Dengan kata lain, tawa adalah salah satu bukti paling hangat bahwa kita masih membawa jejak nenek moyang primata dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan ini juga mengingatkan bahwa untuk memahami manusia, kita tidak bisa hanya melihat manusia itu sendiri. Kita perlu melihat kerabat evolusioner kita, mempelajari perilaku mereka, dan membandingkannya dengan perilaku kita. Dari sana, kita bisa melihat mana yang benar-benar baru dan mana yang sebenarnya sudah sangat tua. Tawa manusia dan kera besar memberi contoh sempurna bahwa sebagian dari apa yang kita anggap paling manusiawi ternyata telah ada jauh sebelum manusia modern muncul.


Referensi

De Gregorio, C., et al. 2026. Studi tentang ritme tawa manusia dan kera besar. Communications Biology.

Associated Press / ScienceAlert. 2026. “Humans and Apes Have Laughed The Same Way For Millions of Years, Study Suggests.”

Florkiewicz, B. 2026. Tinjauan tentang komunikasi vokal dan evolusi tawa pada primata.