BAGIKAN
(Phillip Jervis)

Di seluruh dunia, sejumlah spesies katak dan kodok mengalami kepunahan akibat infeksi jamur yang tak kenal ampun, dikenal luas sebagai jamur chytrid. Infeksi oleh Batrachochytrium dendrobatidis pada kebanyakan amfibi hampir selalu berujung fatal; penyakit ini menyebabkan lebih banyak peristiwa kepunahan spesies global daripada penyakit menular lain mana pun. Namun, di kawasan Pyrenees, Prancis–Spanyol, para peneliti menemukan fenomena yang mengejutkan: beberapa populasi katak midwife toad (Alytes obstetricans) mampu bertahan dari wabah yang menghancurkan populasi tetangga mereka.

Midwife toad terkenal unik karena perilaku reproduksinya: pejantan membawa telur yang sudah dibuahi di punggung dan paha mereka sampai menetas, layaknya seorang bidan kecil. Ketika telur hampir menetas, pejantan menurunkan telur ke perairan terdekat dan beragam larva (berudu) melompat ke air. Di Pyrenees barat, lokasi-lokasi seperti Lac d’Arlet, Puits d’Arious, Lac de Lhurs, dan Ibón de Acherito menjadi habitat penting bagi populasi yang berhasil pulih.

Selama hampir dua dekade terakhir, jamur chytrid menyebar ke pegunungan ini dan hampir menghabisi midwife toad. Dulu, ketinggian dan suhu rendah danau — yang membeku setengah tahun — membuat lingkungan yang kurang ramah bagi jamur. Namun perubahan iklim yang menghangat telah mengubah kondisi itu; suhu yang lebih hangat dan kelembapan yang cukup justru mendukung penyebaran jamur. Meski demikian, beberapa populasi tetap hidup dan berkembang selama wabah berlangsung, memancing pertanyaan penting: apa yang membuat mereka tahan?

Tim ilmuwan dari University College London (UCL), Zoological Society London (ZSL), dan Imperial College London menemukan jawaban yang mengejutkan. Kunci ketahanan midwife toad ternyata bukan sekadar faktor lingkungan, melainkan perbedaan pada perkembangan sistem kekebalan kulit mereka. Pada populasi yang pulih, para berudu mulai menghasilkan peptida antimikroba (antimicrobial peptides, AMP) dari kulit mereka pada tahap yang lebih awal — bahkan saat masih berudu — sedangkan populasi yang runtuh baru mulai menghasilkan peptida tersebut setelah menjadi dewasa.

Perbedaan waktu ini sangat penting karena B. dendrobatidis hanya mampu hidup pada kulit yang mengandung keratin, yakni kulit pada katak yang telah dewasa. Berudu dan larva umumnya belum memproduksi keratin sehingga secara alami tidak menjadi target utama jamur. Namun, fase metamorfosis — ketika berudu berubah menjadi katak dengan kulit berkeratin — adalah masa paling rentan. Selama proses ini, jika jamur sudah mereplikasi pada kulit yang baru mengandung keratin, hal itu dapat mengganggu fungsi respirasi dan osmoregulasi katak, karena amfibi menyerap oksigen dan air melalui kulitnya. Infestasi kulit oleh jamur bisa menyebabkan kegagalan fisiologis yang berujung pada kematian.

Dengan hadirnya peptida antimikroba sejak masa berudu, beberapa individu mendapatkan perlindungan dini terhadap jamur ketika mereka memasuki fase paling rentan itu. Selain maturasi sistem kekebalan yang lebih cepat, para peneliti juga mencatat bahwa populasi yang bertahan memiliki keragaman peptida kulit yang sangat tinggi. Analisis menunjukkan ada 1.152 peptida berbeda yang terdeteksi dalam sekresi kulit, dan hanya tujuh yang sudah dikenal sebelumnya. Keragaman peptida yang besar ini tampaknya memberi keuntungan adaptif: populasi yang mengembangkan keragaman peptida lebih tinggi saat berudu lebih mampu bertahan dari infeksi massal dibandingkan populasi yang peptida mereka sedikit atau berkembang terlambat.

Temuan ini menimbulkan beberapa pertanyaan lanjutan yang penting untuk konservasi dan ekologi evolusi. Apakah maturasi awal sistem kekebalan ini ditentukan oleh genetika, atau oleh faktor lingkungan seperti suhu air, kehadiran predator (misalnya ikan trout yang memangsa berudu), atau kualitas nutrisi? Salah satu hipotesis yang diajukan adalah tekanan lingkungan yang menyebabkan peralihan metamorfosis lebih cepat — misalnya ketika predator hadir, berudu berkembang lebih cepat menjadi katak untuk keluar dari air — justru dapat mengurangi waktu yang tersedia bagi sistem kekebalan untuk matang, sehingga menempatkan individu pada risiko lebih besar ketika jamur menyerang.

Para peneliti, termasuk herpetolog ZSL Phillip Jervis, menekankan pentingnya mempelajari faktor-faktor yang menghambat atau mendorong maturasi sistem kekebalan ini. Jika faktor-faktor lingkungan yang dapat diubah diidentifikasi, intervensi konservasi yang sederhana — seperti pengelolaan predator, perlindungan habitat, atau pengaturan mikroklimat perairan — bisa membantu meningkatkan peluang bertahan populasi rentan. Di sisi lain, jika dasar ketahanan ini bersifat genetik, program pemulihan mungkin perlu memasukkan strategi manajemen genetik seperti relokasi individu yang tahan ke populasi yang lemah atau pengembangbiakan terkontrol.

Selain implikasi konservasi, penemuan peptida baru ini membuka peluang bagi ilmu kedokteran. Banyak obat manusia berasal dari senyawa alami—contohnya penisilin yang berasal dari jamur—dan peptida antimikroba baru bisa menjadi kandidat terapeutik untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba yang semakin mendesak. Dengan ditemukannya ratusan peptida baru, tim kimia peneliti menyatakan perlu penelitian lanjut untuk mengetahui mekanisme kerja masing-masing peptida, mana yang efektif terhadap patogen tertentu, dan apakah ada potensi aplikasi pada kesehatan manusia.

Namun, setiap prospek aplikasi medis harus ditimbang dengan etika konservasi. Eksplorasi sumber daya biologi dari populasi yang sangat terancam membutuhkan pendekatan hati-hati: penelitian harus memastikan bahwa pengambilan sampel tidak merusak populasi liar dan harus berkoordinasi dengan upaya perlindungan habitat. Selain itu, meski peptida tersebut menawarkan harapan, proses pengembangan obat baru panjang dan berisiko; kandidat yang menjanjikan di laboratorium belum tentu sukses menjadi obat aman dan efektif pada manusia.

Penelitian yang dimuat dalam Nature Chemical Biology ini menyoroti bagaimana kombinasi faktor biologis halus — maturasi imun dini dan keragaman peptida — dapat mengubah nasib seluruh populasi di tengah krisis penyakit menular dan perubahan iklim. Untuk konservasionis dan ilmuwan, temuan ini memberi arah baru: selain mengendalikan penyebaran jamur dan menjaga habitat, memahami dinamika perkembangan imun pada tahap awal hidup amfibi dapat menjadi strategi kunci menyelamatkan spesies yang tersisa.

Akhirnya, cerita midwife toad di Pyrenees menjadi pengingat dua hal sekaligus: bagaimana dampak perubahan iklim dan penyakit menular dapat mengguncang ekosistem, serta bagaimana evolusi dan variasi biokimiawi di tingkat mikro — seperti peptida kulit — dapat menawarkan harapan bagi kelangsungan hidup spesies. Menyelamatkan amfibi dari ambang kepunahan akan memerlukan pendekatan multidisiplin: dari ekologi lapangan, genetika, dan kimia biomedis, hingga kebijakan lingkungan yang mengurangi pemanasan global yang memicu wabah ini.


Referensi:

Jervis, P., et al. 2026. “Mystery why some toads survive deadly fungus revealed.” University College London news release.

Tabor, A., et al. 2026. “DOI: 10.1038/s41589-026-02254-6Nature Chemical Biology (penelitian asli). DOI: 10.1038/s41589-026-02254-6

Imperial College London. 2026. “Climate change driving toad disease from mountains.” Imperial College news.