BAGIKAN

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh pemerintah AS menyebutkan bahwa penggunaan bedak talkum di area genital wanita tidak menyebabkan penyakit kanker ovarium. Hasil ini didapat setelah mereka mengumpulkan data dari 250.000 wanita.

Laporan ilmiah ini dipublikasikan dalam Journal of American Medical Assosiation (JAMA). Metode penelitian ini juga mendapat pujian dari editor dan menyebut penemuan ini “sangat meyakinkan”.

Selama beberapa dekade, para wanita terbiasa menggunakan bedak talkum untuk kebersihan area genital. Bedak talkum dipercaya mampu menyerap bau dan lembab. Baik dengan pemakaian langsung maupun melalui produk pakaian dalam dan pembalut.  Dan ini adalah sebuah kebiasaan umum yang menurun dalam beberapa generasi.

Dan kemudian timbul kontroversi dalam pemakaian bedak talkum karena dilaporkan bisa menyebabkan kanker.

Pada tahun 2018, perusahaan farmasi raksasa AS Johnson & Johnson diharuskan membayar hingga US$ 4,7 milyar kepada 22 orang wanita yang mengklaim terkena penyakit kanker ovarium. Karena disinyalir terkandung kontaminasi asbestos dalam produk bedak talkum produksi perusahaan tersebut. Hingga kini sidang banding kasus ini masih berlangsung.

Pada tahun 1970an, berkembang kekhawatiran akan kemungkinan adanya kontaminasi asbestos pada bahan baku talk, diketahui kedua zat ini terbentuk berdampingan di alam.

Dari beberapa hasil penelitian, menunjukkan adanya resiko tinggi penyakit kanker ovarium pada pengguna produk bedak talkum, dan disinyalir bisa masuk kedalam ovarium melalui vagina dan uterus.

Tetapi hasil penelitian ini masih dinilai dangkal karena jumlah riset secara keseluruhan masih sangat sedikit. Dan beberapa ilmuwan mengkritisi metologi penelitian ini yang kemungkinan terjadi “recall bias” (kesalahan sistematik yang timbul akibat partisipan tidak bisa mengingat kejadian atau pengalaman sebelumnya secara akurat atau hilangnya detail kejadian). Dan metodologi lainnya dianggap tidak menghasilkan data yang akurat secara statistik.

Sangat sulit untuk bisa menghubungkan penyakit kanker ovarium dengan kontaminasi yang terjadi pada bedak talkum karena hanya sekitar 1,3 persen dari keseluruhan wanita yang beresiko terkena penyakit ini sepanjang hidupnya.

Dalam laporan ilmiah JAMA terbaru, yang ditulis oleh Katie O’Brien dari National Institute of Environmental Health Sciences, para peneliti menggabungkan data dari empat buah penelitian besar yang meliputi data dari seperempat juta wanita dari tahun 1982 sampai 2017.

Keempat penelitian tersebut mensurvey partisipan setiap satu atau dua tahun dengan dengan beragam jenis kelompok pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan, termasuk didalamnya penggunaan bedak talk.

Diharapkan dengan penggabungan ini, jumlah partisipan akan bertambah sehingga bisa menutupi kelemahan validitas statistik dari penelitian, yang tidak bisa terdeteksi pada populasi yang lebih kecil.

Diantara 252.745 orang wanita yang menjadi partisipan dalam periode median 11,2 tahun, 2.168 orang terkena kanker ovarium.

Dan tidak ditemukan hubungan secara statistik ketika mereka membandingkan wanita yang menggunakan bedak talk dengan wanita yang tidak pernah menggunakannya sama sekali. Juga tidak ditemukan hubungan yang signifikan ketika membandingkannya dengan frekuensi atau lamanya pemakaian.

Tetapi walaupun riset ini adalah riset terbesar untuk jenis ini dengan waktu pelaksanaan yang paling lama. Penulis artikel mengatakan bahwa masih ada banyak kelemahan atas riset ini. Antara lain ada dua dari empat set data yaitu pada frekuensi dan durasi penggunaan yang salah informasi.

Juga terdapat kekurangan yang melekat yang berhubungan dengan penelitian yang bersifat observasi secara keseluruhan dari sebuah populasi. Termasuk didalamnya kegagalan untuk memasukkan semua kemungkinan faktor-faktor eksternal. 

Kevin Mc Conway seorang professor emeritus ilmu aplikasi statistik di Britain’s open University menyebut metode ini sebagai “Baik, kompeten dan teliti”.  Tetapi dia juga menambahkan bahwa hasil penelitian ini tidak bisa mengesampingkan adanya hubungan antara talk dan kanker secara keseluruhan.

“Hampir semua perbedaaan resiko yang dihasilkan oleh para peneliti tidak sepenuhnya signifikan,” kata Mc Conway. Tetapi tidak berarti tidak ada perbedaan sama sekali, hanya perbedaan tersebut sangat kecil sekali sehingga hanya akan terlihat hanya pada variasi yang random.”

Dari hasil riset ini para peneliti mengambil kesimpulan bahwa jika memang resiko tersebut memang ada, kemungkinan sangat kecil sekali.

“Saya bukan seorang wanita, jadi hal ini bukanlah sesuatu yang harus saya khawatirkan. Tetapi jika saya seorang wanita, masalah ini tentunya menjadi kekhawatiran utama saya.”

VIAAdell
SUMBERScienceAlert
BAGIKAN