BAGIKAN
(NASA)

Biosfer Bumi, atau jumlah seluruh ekosistem yang ada di bumi, memiliki semua faktor yang dibutuhkan untuk sebuah membentuk sebuah kehidupan, yaitu: air dalam bentuk cair, setidaknya satu sumber energi utama dan berbagai elemen biologis yang digunakan untuk membangun sebuah sistem kehidupan.

Dan ditemukannya kemungkinan senyawa fosfina biogenik (yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup) pada awan di planet Venus baru-baru ini, mengingatkan kita bahwa setidaknya beberapa material pembentuk kehidupan ada di tempat lainnya di sistem tata surya kita. Dan dimana saja lokasi yang paling memungkinkan adanya kehidupan selain di Bumi?

Mars

Mars adalah salah satu planet yang memiliki kondisi yang paling mirip dengan Bumi di sistem tata surya kita. Planet ini memiliki 24,5 jam per hari, lapisan es kutub yang luasnya tergantung dengan iklim, dan bentuk permukaan yang luas yang dulunya terbentuk oleh air, yang diperkirakan pernah melimpahi planet ini.

Deteksi keberadaan sebuah danau di bawah permukaan lapisan es kutub dan gas metana di atmosfer Mars (dengan komposisi yang bervariasi tergantung pada iklim) menjadikan Mars kandidat yang menarik.

Metana adalah senyawa penting untuk membentuk kehidupan dan terbentuk dari proses biologis. Tetapi dari mana sebenarnya sumber gas metana di planet Mars masih belum diketahui dengan pasti.

Berdasarkan bukti bahwa planet Mars pernah memiliki lingkungan yang cukup ramah bagi kehidupan, ada kemungkinan bahwa sebelumnya pernah ada kehidupan di planet ini. 

Saat ini, Mars memiliki atmosfer yang sangat tipis, kering dan hampir seluruhnya terdiri dari karbon dioksida. Akibatnya, hanya sedikit sekali perlindungan terhadap radiasi matahari dan kosmis di permukaan planet ini. Jika saja Mars dapat menyediakan sedikit saja sumber air di bawah permukaannya, kemungkinan ada sebuah bentuk kehidupan di planet tersebut.

Europa

Europa ditemukan pertama kali oleh Galileo Galilei pada tahun 1610, bersama dengan tiga bulan terbesar planet Jupiter lainnya. Europa berukuran sedikit lebih kecil dari bulan planet bumi dan mengorbit planet gas raksasa Jupiter pada jarak sekitar 670.000 kilometer setiap 3,6 hari.

Europa secara konstan mengerut dan meregang akibat medan gravitasi dari Jupiter dan bulan Galilean, sebuah proses yang dikenal dengan “tidal flexing”.

(NASA)

Europa diyakini memiliki lingkungan yang aktif secara geologis seperti di Bumi, karena energi panas yang besar dari proses tidak flexing memanaskan batuan dan kandungan logam di dalamnya serta membuatnya selalu berada dalam bentuk cair.

Hampir seluruh permukaan Europa ditutupi oleh lapisan es. Banyak ilmuwan yang menduga bahwa di bawah permukaan yang membeku tersebut ada lapisan air dalam bentuk cair – sebuah lautan global – yang tidak membeku akibat adanya panas dari proses flexing dan diperkirakan ada pada kedalaman lebih dari 100 km.

Bukti keberadaan lautan adalah munculnya geyser di permukaan dari celah yang terbentuk di permukaan es, sebuah medan magnet yang lemah dan bentuk permukaan yang tidak beraturan seperti terbentuk dari gelombang lautan di bawah permukaan.

Pada dasar lautan ini kemungkinan akan ditemukan ventilasi hidrotermal dan gunung berapi di dasar laut. Di Bumi, kondisi ini mendukung terbentuknya ekosistem yang mendukung terbentuknya kehidupan.

Enceladus

Seperti Europa, Enceladus adalah bulan yang permukaannya ditutupi oleh lapisan es dengan kemungkinan adanya lautan air dalam bentuk cair di bawah permukaannya. Enceladus mengorbit planet Saturnus dan pertama kali menarik perhatian pada ilmuwan sebagai dunia yang berpotensi memiliki bentuk kehidupan di dalamnya setelah ditemukannya geyser yang sangat besar di dekat kutub selatan Enceladus.

Semburan air keluar dari celah besar di permukaannya, akibat medan gravitasi Enceladus yang lemah, menyemburkan air ke udara. Ini adalah bukti nyata keberadaan air dalam bentuk cair yang tersimpan di bawah permukaan bulan tersebut.

 


Tidak hanya air yang terdeteksi pada geyser di permukaan Enceladus, tetapi juga berbagai bentuk molekul dan yang terpenting adalah butiran-butiran halus dari partikel batuan silikat yang hanya dapat terbentuk akibat adanya lautan air di bawah permukaan yang bersentuhan dengan batuan di dasar laut pada temperatur setidaknya 90oC.

Ini adalah bukti kuat keberadaan ventilasi hidrotermal pada dasar lautan, membentuk senyawa-senyawa kimia yang dibutuhkan bagi kehidupan dan menjadi sumber energi.

Titan

Titan adalah bulan terbesar dari planet Saturnus dan satu-satunya bulan di sistem tata surya yang memiliki lapisan atmosfer yang substansial. Terdiri dari lapisan kabut tebal berwarna oranye dari molekul-molekul organik dan sistem iklim metana, bukan air, lengkap dengan musim hujan, musim kering dan bukit-bukit pasir di permukaannya yang terbentuk oleh aliran angin.

(NASA)

Lapisan atmosfernya sebagian besar terdiri dari nitrogen, unsur kimia yang penting untuk membentuk struktur protein pada semua bentuk kehidupan yang pernah ada. Hasil pengamatan Titan selama ini mendeteksi adanya sungai dan danau dari metana berbentuk cair dan etan dan kemungkinan adanya cryovolcano – mirip gunung berapi, yang mengalirkan air dalam bentuk cair, bukan lahar.

Kondisi ini menjadi bukti bahwa Titan, seperti juga pada Europa dan Enceladus, memiliki sumber air cair di bawah permukaannya.

Dengan jarak yang sangat jauh dari matahari, temperatur permukaan Titan sangatlah dingin, sekitar -180oC, terlalu dingin untuk dapat menyimpan air dalam bentuk cair. Tetapi, senyawa-senyawa kimia yang melimpah di Titan menimbulkan spekulasi adanya potensi terbentuknya kehidupan di sana.


Gareth Dorrian, Post Doctoral Research Fellow in Space Science, University of Birmingham

The Conversation

VIAadell
BAGIKAN