BAGIKAN
Image by Pezibear from Pixabay

Apa yang menyebabkan wajah manusia modern berbeda dengan wajah manusia purba ? para peneliti memiliki keyakinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh evolusi yang sebagian disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan akan kemampuan sosial yang lebih baik.

Sebuah ulasan baru yang diterbitkan dalam Nature Ecology and Evolution dan ditulis oleh tim ahli internasional, termasuk para peneliti dari University of York, melacak perubahan evolusi dalam wajah dari hominin awal Afrika sampai ke penampilan anatomi wajah manusia modern.

Mereka menyimpulkan bahwa komunikasi sosial sepertinya telah sedikit diabaikan sebagai faktor yang mendasari pembentukan wajah manusia modern. Wajah manusia harus dilihat sebagai hasil dari berbagai kombinasi akibat pengaruh biomekanik, fisiologis dan sosial, kata penulis penelitian.

Para peneliti memperkirakan bahwa wajah kita berevolusi tidak hanya karena faktor-faktor seperti pola makan dan iklim saja, tetapi mungkin juga untuk memudahkan dalam menghadirkan gestur dan komunikasi nonverbal — keterampilan vital untuk membangun jejaring sosial besar yang diyakini telah membantu Homo sapiens untuk bertahan hidup.

Tengkorak hominin selama 4,4 juta tahun terakhir. [Credit: Rodrigo Lacruz]
“Saat ini kita dapat menggunakan wajah kita untuk mengisyaratkan lebih dari 20 kategori emosi yang berbeda-beda melalui kontraksi atau relaksasi otot,” kata Paul O’Higgins, dari University of York. “Tidak mungkin nenek moyang manusia purba kita memiliki interaksi wajah yang sama karena bentuk keseluruhan wajah dan posisi otot-ototnya berbeda.”

Manusia mengembangkan dahi yang halus dengan alis yang lebih terlihat dan berbulu yang mampu melakukan gerakan dengan jangkauan yang lebih luas. Ini, di samping wajah kita menjadi lebih ramping, memungkinkan kita untuk mengekspresikan berbagai emosi yang lebih lembut — termasuk pengakuan dan simpati.

“Kita tahu bahwa faktor-faktor lain seperti pola makan, fisiologi pernapasan, dan iklim telah berkontribusi pada bentuk wajah manusia modern, tetapi untuk menafsirkan evolusinya semata-mata dalam hal faktor-faktor ini akan menjadi penyederhanaan yang berlebihan,” tambah Profesor O’Higgins.

Wajah manusia sebagian dibentuk oleh tuntutan secara mekanis terhadap makanan dan lebih dari 100.000 tahun yang lalu wajah kita semakin mengecil karena kemampuan manusia dalam memasak dan mengolah makanan menyebabkan berkurangnya kebutuhan dalam mengunyah.

Proses penyusutan wajah ini telah menjadi sangat penting sejak revolusi pertanian, ketika manusia beralih dari pemburu-pengumpul menjadi petani dan kemudian tinggal di kota-kota — gaya hidup yang mengarah pada semakin banyaknya makanan yang telah diproses terlebih dulu dan lebih memudahkan dalam mengunyahnya.

“Pola makan modern yang lebih lembut dan masyarakat industri mungkin menunjukkan bahwa wajah manusia terus berkurang ukurannya”, kata Profesor O’Higgins. “Namun ada batas seberapa banyak wajah manusia dapat berubah, misalnya untuk bernapas membutuhkan rongga hidung yang cukup besar.”

“Namun, dalam batas-batas ini, evolusi wajah manusia kemungkinan akan terus berlanjut selama spesies kita bertahan, bermigrasi dan menghadapi berbagai kondisi lingkungan, sosial dan budaya baru.”