BAGIKAN
Rekonstruksi rumah dewa Nordik kuno (University Museum of Bergen)

Para peneliti telah menemukan sisa-sisa reruntuhan dari sebuah kuil pagan yang berasal dari abad ke-8 di sebuah lahan pertanian Norwegia.

Tim peneliti merekonstruksi bangunan dalam 3-dimensi, untuk mengilustrasikan gaya dan ukuran bangunan. Diperkirakan, saat masih berdiri kokoh kuil ini panjangnya sekitar 14 meter, lebar 8 m, dan tingginya hingga 12 m. Sebuah tempat yang digunakan untuk ritual pengorbanan dan penyembahan terhadap dewa-dewa Nordik seperti Thor dan Odin. Terutama pada waktu-waktu tertentu selama pertengahan musim panas dan pertengahan musim dingin.

Pada awalnya, sebuah desa yang bernama Ose, tengah dipersiapkan untuk pembangunan perumahan. Setelah dilakukan penggalian di desa yang terletak di wilayah pegunungan Ørsta di Norwegia Barat ini. para arkeolog menemukan sebuah fondasi dari bangunan kuno yang diduga sisa-sisa sebuah kuil dari Zaman Viking.

Tim peneliti belum melakukan penanggalan secara terperinci menggunakan radiokarbon. Sehingga usia kuil tersebut belum bisa ditentukan secara pasti usianya. Namun, berdasarkan bentuk dan gaya strukturnya, para peneliti berpendapat bahwa situs tersebut berisi bangunan dari zaman besi pra-Romawi (500 hingga 0 SM) dan Zaman Besi Akhir hingga Abad Pertengahan (575 hingga 1500 M).

“Meskipun bangunan kayunya sekarang sudah lama hilang, lubang tiang yang tersisa menunjukkan bentuknya, termasuk tiang tengah menara yang bundar – konstruksi yang sangat khas yang hanya pernah digunakan di rumah dewa,” kata Søren Diinhoff, seorang arkeolog dari University Museum of Bergen.

University Museum of Bergen

Selain itu, para peneliti juga menemukan jejak permukiman pertanian awal di sekitar kuil kuno itu. Di antaranya sisa-sisa dua rumah panjang khas Nordik kuno yang berasal dari 2.000 hingga 2.500 tahun lalu. Di mana masing-masing akan menjadi pusat pertanian kecil untuk sebuah keluarga dan hewan ternaknya. Namun, kuil itu dibangun setelahnya, ketika Ose dan sekitarnya mulai didominasi oleh kelompok elit keluarga kaya.

“Ketika masyarakat baru yang terdiferensiasi secara sosial masuk, di Zaman Besi Romawi, keluarga terkemuka mengambil kendali dari kultus,” kata Diinhoff kepada Livescience.

Ini membawa pengaruh terhadap agama Nordik dan tempat peribadatannya. Kuil di Ose mencontoh dari arsitektur basilika Kristen yang pernah dilihat oleh para pelancong di daratan selatan. Akibatnya, kuil-kuil Nordik kuno menampilkan menara tinggi yang khas, di mana merupakan salinan dari menara gereja-gereja Kristen awal.

University Museum of Bergen

Daging, minuman, dan terkadang logam mulia seperti emas akan dipersembahkan kepada patung-patung kayu di dalam bangunan yang mewakili dewa-dewa Nordik Kuno. Yaitu, dewa perang Odin, dewa badai Thor, dan dewa kesuburan Freyr.

Karena para dewa hanya dapat mengambil bagian dari makanan yang dipersembahkan secara batin, maka fisik makanan dan minuman yang masih utuh akan dinikmati oleh para penyembah mereka.

Agama Nordik kuno ditindas sejak abad ke-11. Saat itu raja-raja Norwegia secara paksa memberlakukan agama Kristen dan merobohkan atau membakar gedung-gedung seperti rumah dewa di Ose. Lalu, memakasa orang-orang untuk beribadah di gereja-gereja baru Kristen. Sejauh ini, tidak ada bukti bahwa rumah dewa di Ose adalah bagian dari penyingkiran itu, kata Diinhoff.

BAGIKAN