BAGIKAN
[NASA's Goddard Space Flight Center/Chris Smith]

Tim astronom internasional telah menemukan salah satu planet terdekat yang pertama kalinya berpotensi dapat dihuni di luar tata surya kita, karena dimungkinkan menyimpan air di permukaannya.

Berjarak sekitar 31 tahun cahaya dari Bumi, planet yang bernama GJ 357 d ini merupakan planet Bumi super yang ditemukan pada awal 2019 yang awalnya dipicu oleh upaya satelit TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite) milik NASA, sebuah misi yang dirancang untuk menyisir langit menggunakan metoda ‘transit’ dalam penelusurannya terhadap planet ekstrasurya – planet di luar tata surya yang disebut juga sebagai eksoplanet. Hasil penelitiannya diterbitkan di Astrophysical Journal Letters.

TESS menemukan tiga buah planet yang mengorbit pada sebuah bintang kerdil tipe M berukuran sepertiga dari matahari bernama GJ 357, di mana suhunya sekitar 40% lebih dingin dari matahari. Salah satu dari ketiga planet itu adalah GJ 357 d yang berada di zona layak huni. Sistem planet ini berada di konstelasi Hydra.

Metode transit merupakan salah satu cara dalam memindai langit untuk menemukan planet ekstrasurya, biasanya para astronom mencari sesuatu yang menghalangi cahaya dari sebuah bintang, karena ini adalah saat sebuah planet sedang melintas di hadapan bintangnya.

“Ini menggembirakan, karena planet ini adalah Bumi super terdekat pertama yang dapat menampung kehidupan manusia – terungkap dengan bantuan dari TESS, sebuah misi kecil dan berani kami dengan jangkauan luas,” kata Kaltenegger, dari Carl Sagan Institute at Cornell dan anggota tim sains TESS.

Disebut sebagai Bumi super karena planet ekstrasurya ini berukuran lebih besar dari Bumi, dan jika memang terbuat dari batuan dimungkinkan ukurannya dua kali Bumi. Namun, ukuran dan komposisi planet ini yang sebenarnya belum diketahui.


Tata ruang sistem bintang GJ 357 – Planet d berada di zona layak huni.(Goddard Space Flight Center NASA/Chris Smith)

“Dengan atmosfernya yang tebal, planet GJ 357 d dapat mempertahankan air di permukaannya tetap mencair seperti di Bumi, dan kita bisa menentukan tanda-tanda kehidupan dengan teleskop yang akan segera online,” kata Kaltenegger.

Namun, tanpa atmosfer, suhunya mungkin sekitar -53 derajat Celcius, yang akan membuat planet ini tampak lebih glasial daripada layak huni. Planet ini memiliki berat setidaknya 6,1 kali massa Bumi, dan mengelilingi bintangnya setiap 55,7 hari pada kisaran sekitar 20% dari jarak antara Bumi dengan Matahari.

Sebelumnya, berdasarkan pengamatan yang dilakukan satelit TESS, bintang kerdil GJ 357 sempat meredup sangat sedikit saja  setiap 3,9 hari, yang menunjukkan bukti adanya sebuah planet transit yang bergerak melintas di depannya. Planet itu adalah GJ 357 b, yang disebut sebagai “Bumi panas”, sekitar 22% lebih besar dari Bumi, menurut Goddard Space Flight Center NASA, yang memandu TESS.

Pengamatan selanjutnya yang diamati dari daratan menyebabkan ditemukannya dua eksoplanet lainnya: GJ 357 c dan GJ 357 d. Tim ilmuwan internasional mengumpulkan data-data teleskopik berbasis Bumi pada dua dekade yang lalu — untuk mengungkap tarikan gravitasi kecil eksoplanet yang baru ditemukan pada bintang inangnya, menurut NASA.

Eksoplanet GJ 357 c suhunya sekitar 127 derajat Celcius dan 3,4 kali massa Bumi. Namun, planet yang berada di sistem terluar yang diketahui — GJ 357 d, sebuah super-Bumi — dapat memberikan kondisi yang mirip dengan Bumi dan mengorbit pada sebuah bintang katai setiap 55,7 hari pada jarak sekitar seperlima jarak Bumi dari matahari.

VIACornell University
BAGIKAN