BAGIKAN

The European Space Agency (ESA) semakin tertarik pada 3D-Printing  menggunakan bahan luar angkasa. Mereka menggunakan debu bulan (moondust) simulasi dan panas matahari  yang difokuskan untuk mencetak batu bata yang memiliki kekuatan setara dengan gypsum . Keberhasilan proyek yang tengah mereka kerjakan menunjukkan bagaimana penjelajah bulan  suatu hari nanti bisa menggunakan metode serupa untuk membangun koloni di sana.

Selain itu tak lama sebelumnya para engineer di University of California, San Diego yang didanai oleh NASA telah berhasil menciptakan batu bata super kuat dengan bahan baku dari debu Mars simulasi, dan sekarang ilmuwan ESA telah mampu menggunakan debu dengan komposisi dan ukuran butiran yang sama seperti bahan di bulan (moondust) menjadi batu bata dengan cara 3D-printing. Jadi, bukan mustahil jika di masa mendatang para pelancong luar angkasa dapat membangun pemukiman baru baik di Mars maupun Bulan.

Material Engineer  Advenit Makaya mengatakan bahwa mereka telah berhasil memasak lapisan moondust setebal 0,1 milimeter dalam tungku surya pada suhu 1.000 derajat Celsius – atau 1.832 derajat Fahrenheit. Tim bisa menyelesaikan 7,9 x 3,9 dengan batu bata 1,1 inci dalam waktu sekitar lima jam. Tungku surya terletak di DLR German Aerospace Centre , tempat yang baru saja berhasil membangun sinar matahari buatan terbesar di dunia.

Tungku surya

Sebagai bahan baku, uji coba menggunakan tanah lunar simulasi yang tersedia secara komersial berdasarkan material vulkanik terestrial, diproses untuk meniru komposisi dan ukuran butir moondust asli.

Tungku surya di  fasilitas  DLR German Aerospace Centre, Cologne memiliki dua cara kerja. Sebagai garis dasar, 147 cermin melengkung memusatkan sinar matahari sehingga menjadi  berkas cahaya yang  bersuhu tinggi untuk mencairkan butiran tanah secara bersama-sama. Tapi cuaca di Eropa Utara tidak selalu bisa bersahabat, sehingga cahaya Matahari kadang disimulasikan dengan rangkaian lampu xenon sebagaimana sering dijumpai pada proyektor bioskop.

Saat ini batu bata akan melalui serangkain pengujian mekanik yang ekstensif. Mereka belum sempurna; Sebagai contoh, beberapa produk telah melengkung di tepinya karena pada bagian pusatnya  proses pendinginan lebih lambat dibandingkan dengan bagian  ujungnya. Advenit mengatakan mereka mencari cara untuk mengatasi pelengkungan ini, “namun, untuk saat ini proyek ini bertujuan sebatas pada konsep pembuktian, menunjukkan bahwa metode konstruksi di bulan seperti yang telah diujicoba memang layak untuk dilakukan.”

Program Horizon 2020 Uni Eropa akan mendukung proyek tindak lanjut RegoLight  yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi 3D-printing untuk membentuk regolith bulan, atau “lapisan debu, tanah, dan pecahan batu yang berada di permukaan Bulan.” Advenit mengatakan bahwa Proyek ESA baru-baru ini dilakukan pada kondisi suhu dan tekanan atmosfir yang normal, namun RegoLight akan mencoba melakukan 3D-printing pada suhu tinggi ekstrem dan kondisi vakum  sebagaimana ditemukan di Bulan.

VIAaum
SUMBERESA
BAGIKAN