BAGIKAN
Credit : Kira Westaway

Homo erectus, salah satu leluhur langsung manusia modern, pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1891 dan selanjutnya ditemukan di seluruh Afrika dan di Cina. Sekitar 2 juta tahun yang lalu mereka telah berpetualang menyebar ke seluruh Afrika. Akhirnya mencapai Asia dan memungkinkannya singgah di Indonesia. Tetapi para ilmuwan tidak dapat mengidentifikasi kapan tepatnya yang terakhir punah.

Diperkirakan sebagian besar Homo erectus telah punah setelah munculnya manusia modern — tapi beberapa penemuan dari situs Ngandong, Jawa Tengah, memiliki penanggalan usia (dengan beberapa kontroversi) sampai pada 40.000 tahun lalu. Jika penanggalan ini benar, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka pernah hidup berdampingan dengan Homo sapiens, meski mungkin hanya di daerah yang sangat terbatas di Indonesia saja.

Upaya untuk menentukan usia pasti fosil Jawa yang dideskripsikan tahun 1933 sebagai Homo Soloensis oleh Oppenoorth, seorang antropolog Belanda, tidak banyak membantu, karena hal itu memberi banyak pilihan: Waktu kematian mereka diperkirakan antara 550.000 hingga 27.000 tahun yang lalu. Terlampang panjang rentang perkiraan waktunya. Bagaimanapun ini telah menimbulkan perdebatan.




Dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh University of Iowa; Macquarie University; dan Institut Teknologi Bandung, Indonesia, mempersempit perkiraan penanggalan keberadaan H. erectus terakhir di Ngandong, yaitu antara 108.000 hingga 117.000 tahun yang lalu. Ini berarti bahwa H. erectus yang ditemukan fosilnya di Indonesia adalah spesies yang terakhir sebelum kepunahannya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa H. erectus tidak bertahan cukup lama untuk berinteraksi dengan manusia modern di Jawa,” Russell Ciochon, rekan penulis studi baru ini, mengatakan kepada Business Insider. “Ngandong adalah situs H. erectus termuda di dunia.”

Lebih dari 25.000 spesimen fosil terkubur di lumpur sungai Bengawan Solo di situs Ngandong – terbesar yang ditemukan di satu lokasi, termasuk 12 atap tengkorak dan dua tulang kaki (tibia). Tengkorak Homo Soloensis Ngandong berukuran besar dengan volume otak rata-rata 1.100 cc, ciri yang lebih berevolusi dibandingkan dengan H. erectus dari Sangiran maupun Trinil.

Para peneliti tidak hanya terfokus pada fosil sisa-sisa jasad manusia purba saja, mereka juga menentukan penanggalan pada bentuk-bentuk tanah di sekitarnya, yang kebanyakannya teras di bawah dan di atas Ngandong, untuk membuat catatan yang akurat bagi kemungkinan manusia purba terakhir yang ada di Bumi.

Di samping fosil, para peneliti menemukan tulang-tulang dari setidaknya 64 mamalia yang juga terbawa ke hilir. “Fosil tidak akan terkonsentrasi di daerah kecil ini tanpa peristiwa banjir,” tambah Ciochon.




Fakta bahwa semua tulang tersapu ke hilir pada saat yang sama menunjukkan bahwa 12 individu H. erectus yang berasal dari mereka, mati secara bersamaan dalam apa yang bisa menjadi sebuah peristiwa kematian massal.

Penggalian di Ngandong, Solo, pada tahun 2010. (Russell L. Ciochon / University of Iowa)

“Situs ini adalah penampakan H. erectus terakhir yang diketahui ditemukan di mana pun di dunia,” kata Ciochon dalam sebuah pernyataan,  “Kita tidak bisa mengatakan kita telah menentukan penanggalan kepunahan, tetapi kita menentukan tanggal terjadinya kepunahan terakhir. Kami tidak memiliki bukti bahwa H. erectus hidup lebih lama dari situs itu di tempat lain.”

Tim peneliti menyajikan 52 perkiraan usia baru untuk bukti-bukti dari Ngandong. Fragmen fosil hewan, sedimen dari lapisan fosil yang ditemukan kembali. Di mana sisa-sisa H. erectus pernah ditemukan oleh surveyor Belanda pada 1930-an.

Selain itu, para peneliti juga menentukan kapan pegunungan selatan Ngandong pertama kali muncul dengan menentukan usia stalagmit dari gua-gua di Pegunungan Selatan. Ini memungkinkan mereka untuk menentukan kapan Sungai Bengawan Solo mulai mengalir melalui situs Ngandong, dan urutan teras dari sungai terbentuk.

“Masalah dengan penanggalan Ngandong hanya bisa diselesaikan dengan apresiasi terhadap lanskap yang lebih luas,” kata Kira Westaway, dari Macquarie University. “Fosil adalah produk sampingan dari proses lanskap yang kompleks. Kami dapat menentukan usia lokasi karena kami membatasi fosil dalam endapan sungai, teras sungai, urutan teras, dan lanskap aktif vulkanik.”

Penelitian sebelumnya oleh Ciochon dan lainnya menunjukkan bahwa H. erectus berpindah-pindah tempat. Melintasi kepulauan Indonesia, dan tiba di pulau Jawa sekitar 1,6 juta tahun yang lalu. Waktunya baik: Wilayah di sekitar Ngandong sebagian besar adalah padang rumput, lingkungan yang sama di mana spesies di Afrika bertahan. Tumbuhan dan hewan berlimpah. Spesies ini terus berkelana ke pulau-pulau lain. Namun, Pulau Jawa tampaknya tetap menjadi sebuah rumah — atau paling tidak stasiun jalan — bagi sejumlah gerombolan spesies.




Namun, sekitar 130.000 tahun yang lalu, lingkungan di Ngandong berubah, dan begitu pula nasib H. erectus. Antara sekitar 120.000 hingga  110.000 tahun yang lalu, dunia bergeser dari periode glasial ke periode interglasial, dan suhunya meningkat. Begitupun dengan kondisi alam di Pulau Jawa saat itu.

Ciochon mengatakan timnya tidak yakin bagaimana orang-orang tertentu ini mati. Tetapi, satu teori tentang mengapa H. erectus mati di Jawa secara keseluruhan mungkin penyebabnya terdengar akrab.

“Ada perubahan iklim,” Ciochon menjelaskan. “Kami tahu fauna berubah dari keadaan terbuka, padang rumput, menjadi hutan hujan tropis (membentang ke selatan dari Malaysia sekarang). Itu bukan tumbuhan dan hewan yang biasa dimanfaatkan oleh H. erectus, dan spesies itu tidak bisa beradaptasi.”

Ciochon bersama-sama memimpin 12 anggota. Tim internasional yang menggali di Ngandong pada tahun 2008 hingga 2010. Didampingi oleh Yan Rizal dan Yahdi Zaim, peneliti utama dari Institut Teknologi Bandung. Mereka menggunakan catatan dari penggalian surveyor Belanda pada tahun 1930-an. Tim menemukan lapisan tulang H. erectus awal di Ngandong dan memaparkannya kembali. Mengumpulkan serta Menelaah 867 fragmen fosil hewan. Sementara itu, tim Westaway telah menentukan penanggalan pada lanskap di sekitarnya. Teras sungai selama kurun waktu itu.

“Ini kebetulan” tim bekerja di tempat yang sama. Satu kelompok mengerjakan lapisan fosil, sementara yang lainnya menentukan penanggalan pada daerah sekitarnya, kata Ciochon.

“Dengan data-data yang kami miliki, kami benar-benar tidak dapat menenetukan penanggalan fosil Ngandong,” lanjut Ciochon.

Di sisi lain, jika sempat bertemu dengan manusia modern, bagaimana pertemuan itu dengan manusia lainnya pada kurun waktu yang sama. Misalnya, tidak jelas apakah Denisovan dan H. erectus kawin silang secara khusus di Jawa.

“Ada spekulasi yang cukup besar tentang di mana dan kapan Denisovan bertemu H. erectus dan apa hasil dari interaksi itu,” tambah Ciochon.




Penemuan baru ini juga membuka kemungkinan bahwa dua spesies leluhur Asia Timur lainnya diturunkan dari H. erectus.

Lebih dari 50.000 tahun yang lalu, H. luzonensis hidup dan berkembang di tempat yang sekarang menjadi pulau Luzon Filipina. Di pulau Flores Indonesia, H. floresiensis , hidup antara 100.000 hingga 60.000 tahun yang lalu.

“Tidak ada keraguan” bahwa ketiga spesies ini tumpang tindih untuk waktu yang tak lama, kata Westaway.

Penelitian baru Ciochon dan Westaway mengukuhkan status H. erectus sebagai salah satu manusia purba yang berumur panjang. Spesies ini bertahan sekitar 1,8 juta tahun – kira-kira enam kali sejak H. sapiens ada.

Nenek moyang ini berhasil mencapai Pulau Jawa dan pulau-pulau Pasifik di dekatnya dengan melintasi ‘jembatan darat’ ketika permukaan laut masih rendah, kata Ciochon.



Dia menambahkan bahwa ada kemungkinan populasi H. erectus lain hidup lebih lama daripada rekan yang ditemukan di situs Jawa.

“Pekerjaan kami memberikan usia penampilan terakhir yang diketahui dari H. erectus. Tetapi, ini tidak berarti bahwa itu adalah zaman kepunahan,” katanya. “Sekelompok kecil H. erectus mungkin hidup lebih lama lagi tanpa meninggalkan bukti fosil.”