BAGIKAN
Image by Myriams-Fotos from Pixabay

Sudah menjadi kebiasaan banyak orang untuk memulai harinya dengan secangkir teh. Menurut penelitian terbaru, mereka yang terbiasa meminumnya ketika masih sangat panas ternyata bisa meningkatkan resiko terkena kanker esofagus.

Para peneliti menemukan bahwa para peminum teh yang suka meminumnya ketika suhunya lebih hangat dari 60 derajat celcius dan mengonsumsinya sebanyak 700 ml perhari – sekitar dua cangkir besar— mempunyai 90% resiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker esofagus dibanding mereka yang meminumnya dalam jumlah yang lebih sedikit dan suhu yang lebih rendah.

Studi ini telah mengamati lebih dari 50,000 orang di Golestan, sebuah propinsi di Iran Utara.

“Banyak orang yang lebih menikmati minuman teh, kopi atau minuman lainnya ketika masih panas. Dan berdasarkan penelitian kami, meminum minuman yang sangat panas bisa meningkatkan resiko terkena kanker esofagus, dan kami menyarankan untuk menunggu hingga minuman panas menjadi lebih dingin sebelum meminumnya,” demikian Dr. Farhad Islami, dari The American Cancer society dan juga peneliti utama di penelitian ini mengatakan.

Penelitian sebelumnya telah mengungkap hubungan antara meminum teh panas dan kanker esofagus. Menurut para peneliti, studi ini, yang dipublikasikan hari Rabu lalu di International Journal of Cancer, merupakan yang pertama kali merujuk pada temperatur tertentu.

Kanker esofagus ada dalam urutan ke-delapan kanker yang terbanyak diderita di dunia, dan seringkali berakibat fatal, membunuh lebih dari 400,000 orang setiap tahun, menurut The International Agency for Research on Cancer. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh luka yang berulang terjadi di esofagus yang disebabkan karena rokok, alkohol dan refluks asam dan – mungkin saja – minuman panas.

Esofagus adalah saluran panjang dimana makanan dan minuman yang ditelan akan melewatinya untuk mencapai lambung atau disebut juga dengan kerongkongan.

The American Cancer Society memperkirakan sekitar 50,045 orang, berusia antara 40-75 tahun dengan rata rata 10 tahun. Antara tahun 2004 – 2017, para peneliti menemukan 317 kasus baru dari kanker esofagus.

Studi ini masih memerlukan riset lanjutan tentang mengapa meminum teh yang sangat panas bisa meningkatkan resiko terkena kanker esofagus.

Stephen Evans, professor dari pharmacoepidemiology di The London School of Hygene amd Tropical Medicine, mengatakan bahwa panas dari minuman- lah yang menjadi penyebab utama dibandingkan jenis minumannya.

Pada kenyataannya, mungkin semua yang panas: seperti selai yang dibuat dengan microwave (microwave jam) yang telah dikenal selama ini sebagai penyebab luka esofagus. Sangat mungkin jika luka menyebabkan sel esofagus berubah dan menjadi kanker,” Evans mengatakan kepada the Science Media Center. Evans tidak ikut terlibat dalam penelitian tersebut.

Di US dan Eropa, teh sangat jarang dikonsumsi pada suhu diatas 65 derajat celcius (149 derajat Fahrenheit)—tetapi di negara negara seperti Rusia, Iran, Turki dan Amerika Selatan, sangat umum untuk meminum teh yang panas bahkan sangat-sangat panas.

“Jika kamu pergi ke Timur Tengah atau Rusia, mereka meminumnya dari wadah yang disebut Samovar yang terus dipanaskan,” kata Peter Goggi, president of the Tea Association of The USA (Asosiasi the Amerika) memberikan pernyataan pada CNN tahun lalu. “ Minuman ini sangat, sangat panas.”

Dr. James Doidge, senior research associate di University College London, berkata bahwa minuman panas mempunyai resiko tinggi terkena kanker esofagus.

“Tidak perlu menjadi seorang ilmuwan untuk mengetahui bahwa iritasi yang berulang pada semua bagian tubuh bisa meningkatkan resiko terkena kanker. Sunburn (kulit yang terbakar oleh matahari) bisa menyebabkan kanker kulit, merokok menyebabkan kanker paru-paru, dan berbagai makanan dan minuman ikut berkontribusi akan resiko kanker gastrointestinal (kanker lambung).” Doidge, yang tidak ikut telibat dalam riset ini, mengatakan pada The Science Media Center.