BAGIKAN

Secara alami mata selalu dalam keadaan basah – yang terdiri dari tiga buah lapisan. Lacrimal glands mempoduksi air mata, dan lacrimal puncta sebagai nampan penampungnya. Setiap saat tanpa terasa air mata mengucur dari keran lacrimal puncta untuk membasahi mata. Dalam sehari saja, air mata yang diproduksi bisa mencapai 284.4 gram dan 132 kg dalam setahun.

Jika menangis pada bayi lebih dimaksudkan sebagai sinyal komunikatif agar ia mendapatkan pengasuhan dan perhatian, maka menangis pada orang dewasa lebih dipicu oleh dorongan emosional. Terlampau sedih atau terlampau bahagia, bisa membuat kehilangan kendali. Untuk membuat mood lebih stabil, maka air mata membanjiri secara otomatis dan diikuti dengan reaksi fisik lainnya seperti detak jantung yang semakin cepat atau lambat.

Air mata emosional terjadi sebagai sebab mekanisme sosial untuk meraih simpati atau semacam unjuk rasa. Para peneliti pun sempat kebingungan memecahkan hubungan dan manfaat air mata dengan kondisi emosi tersebut. Namun beberapa studi mendapatkan fakta yang ditemukan, misalnya, saat air mata emosional tercurah ternyata di dalamnya mengandung lebih banyak hormon stress seperti ACTH (Adrenocorticotropic hormone) atau enkephalin, endorphin, dan zat penghilang sakit – pain killer – alami. Pada saat ini terjadi, air mata emosi berangsur mereda serta mengisyaratkan kondisi emosionalnya kepada orang di sekitar.

Air mata juga secara refleks terjadi sebagai mekanisme pertahanan. Misalnya ketika ada debu atau serpihan yang masuk, maka keran lacrimal puncta akan terbuka membersihkan permukaan dari kotoran tersebut.

Keran air mata bisa juga terbuka ketika enzim Lachrymatory-factor synthase dilepaskan oleh bawang. Saat senyawa ini menyentuh iris, otak meresponnya sebagai intruder atau kotoran, sehingga otomatis membersihkannya dengan membanjiri air mata. Keberadaan senyawa tersebut pada bawang mungkin hasil evolusi sebagai mekanisme pertahanan, melindungi bawang merah terhadap mikroba dan hewan, atau bahkan manusia.

Tapi, air mata memiliki kekuatan lain. Para peneliti telah menemukan bahwa lisozim, protein yang ditemukan dalam air mata mamalia, dapat mengeluarkan percikan litrik saat dikompres. Ini berkat sesuatu yang dikenal dengan efek piezoelektrik, mengubah energi mekanis menjadi listrik.