BAGIKAN
((Credit : Mark Moffett/Minden Pictures/Newscom)

Di antara sekian banyaknya tanaman dan hewan menarik yang menghuni hutan hujan tropis Asia Tenggara – khususnya Kalimantan, terdapat “semut peledak” yang spektakuler, sekelompok semut pohon, yang menghuni kanopi dan mendapatkan julukkannya dikarenakan perilaku defensif yang unik dari mereka.

Ketika sedang terancam oleh serangga lain, semut pekerja kecil dapat secara aktif meledakkan tubuhnya sendiri. Selain dapat menyebabkan kematian bagi yang berada di dekatnya, ledakan tersebut melepaskan cairan yang lengket dan beracun yang berasal dari kelenjar yang membesar, yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dan untuk membunuh musuh-musuhnya.

Anehnya, meskipun perilaku semut ini pertama kali telah disebutkan pada tahun 1916, namun tidak ada spesies baru yang secara formal dideskripsikan sejak 1935, dikarenakan tidak adanya bukti yang mencukupi. Sebaliknya, para ilmuwan biasa menyebut mereka sebagai anggota kelompok spesies yang luar biasa – Colobopsis cylindrica, yang lebih dikenal sebagai “semut peledak”.


Pada tahun 2014, telah ada kerja sama di antara tim peneliti interdisipliner dari Austria, Thailand dan Brunei, yang didasari oleh kesamaan daya tarik mereka terhadap serangga dan mekanisme luar biasa dari pengorbanan diri (juga disebut autotisis).

Dengan demikian, para ahli entomologi, ahli botani, mikrobiologi, dan ahli kimia dari Natural History Museum WinaUniversitas Teknik Vienna,  IFA Tulln dan  Universiti Brunei Darussalam bersama-sama mengidentifikasi sekitar 15 spesies berbeda dari semut peledak. Di mana salah satu spesies di antaranya sekarang digambarkan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal akses terbuka ZooKeys.

Nama yang sebenarnya adalah Colobopsis explodens, yang sebelumnya dijuluki “Yellow Goo” karena sekresi kelenjarnya yang berwarna kuning cerah. Spesies baru ini telah dipilih sebagai spesies model kelompok, setelah para ilmuwan menganggapnya “sangat rentan terhadap pengorbanan diri ketika terancam oleh musuh arthropoda-nya, termasuk para peneliti yang dianggap telah mengganggunya”.



Menjadi “model spesies” berarti bahwa semut tersebut akan berfungsi sebagai titik navigasi penting dalam studi masa depan tentang semut peledak. Publikasi mengenai perilaku mereka, profil kimia, mikrobiologi, anatomi dan evolusi saat ini sedang dipersiapkan, kata para penulis. Selain itu, ada beberapa spesies baru yang diperkirakan akan dijelaskan dalam waktu dekat.

Sementara pekerja kecil menunjukkan kemampuan untuk “meledak”, kasta lainnya masing-masing memiliki spesialisasinya sendiri. Misalnya, para pekerja utama (juga disebut “penjaga pintu”) memiliki kepala berukuran besar berbentuk penyumbat yang secara fisik digunakan untuk menghalangi pintu masuk sarang, dari para penyusup.

Selama perjalanan sampling ke Brunei pada tahun 2015, anggota proyek Alexey Kopchinskiy dan Alice Laciny bahkan berhasil mengamati ratu dan pejantan yang melakukan perkawinan sambil terbang. Mereka kemudian mengambil sampel dari semut-semut pertama yang pernah dilihat.

Ekspedisi yang sama digunakan untuk merekam jadwal aktivitas semut dan melakukan percobaan pertama pada preferensi makanan dan perilaku meledak.

Sementara semut peledak memainkan peran dominan di hutan hujan, biologi mereka masih menyimpan sejumlah rahasia. Pengamatan dan percobaan yang dilakukan pada spesies yang baru dideskripsikan telah meletakkan landasan penting untuk penelitian masa depan yang akan mengungkap lebih banyak rincian tentang serangga peledak yang misterius ini.