BAGIKAN
(Credit : Nicole Ottawa & Oliver Meckes / NASA)

Tardigrada adalah makhluk berukuran mikroskopis yang terkenal tangguh, mampu bertahan hidup dalam keadaan paling ekstrim sekalipun. Makhluk ini mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dengan mengeringkan tubuh mereka, merubah struktur tubuh mereka untuk kemudian masuk dalam kondisi mati suri – sebuah kondisi yang disebut dengan proses desikasi – dalam kurun waktu hingga mencapai beberapa tahun. Anda bisa menempatkan mereka dalam sebuah lingkungan yang ekstrim, seperti pada temperatur di bawah nol derajat (beku), tekanan udara tinggi, lingkungan tanpa oksigen, radiasi kosmis bahkan ketika mereka direbus.

Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa hewan tangguh ini ternyata memiliki kelemahan, yaitu paparan jangka panjang pada temperatur tinggi, walaupun ketika mereka dalam kondisi mati suri (desikasi). Semakin lama mereka berada dalam temperatur tinggi, semakin kecil kemungkinan bagi tardigrada untuk bisa bertahan hidup.

Para peneliti mengatakan bahwa hasil riset ini menunjukkan pada kita pentingnya memahami dampak dari pemanasan global, naiknya temperatur global akibat perubahan iklim antropogenik pada hampir semua makhluk penghuni planet Bumi.



Di seluruh dunia, saat ini, naiknya temperatur bumi telah berdampak pada kehidupan tumbuhan dan hewan. Beberapa spesies diharapkan dapat beradaptasi lebih baik terhadap perubahan iklim dibanding spesies lainnya. Pada kecoak, misalnya, diketahui dapat beradaptasi dengan baik.

Tardigrada, makhluk invertebrata mikroskopis yang juga dikenal dengan sebutan beruang air atau babi lumut, berada dalam kelompok hewan terkuat yang pernah ada di planet Bumi. Terdapat sekitar 1300 spesies tardigrada, dan ukuran panjangnya antara 0,3 dan 0,5 milimeter.

Kebanyakan dari mereka hidup di lingkungan basah, baik di laut maupun pada sedimen air tawar, pada lumut dan algae, sampah dedaunan dan lumpur gunung berapi. Mereka memiliki bentuk tubuh lonjong gemuk pendek, dengan delapan buah kaki-kaki pendek dan gemuk, dan memiliki penampilan wajah yang cenderung terlihat lucu dan menggemaskan.

Untuk selalu tetap aktif, tardigrada harus berada pada selaput air yang ada di atas sedimen atau batuan di dalam air. Dan ketika mereka berhibernasi, mereka akan menarik kepala dan kaki-kaki mereka, kemudian mereka membiarkan tubuh mereka mengering, bentuk tubuh mereka dikenal dengan “tun” atau tong besar.

Mereka mampu bertahan hidup ketika berada dalam kondisi hibernasi terhadap kondisi ekstrim di sekitar mereka. Tardigrada diketahui mampu bertahan hidup dan mampu melewati lima tahapan kepunahan besar dalam sejarah planet Bumi. Dan hasil dari penelitian pada tahun 2017, ditemukan bahwa satu-satunya cara untuk memusnahkan makhluk ini adalah dengan merebus mereka di lautan bumi (yang terjadi hanya dalam satu hari, mungkin pada milyaran tahun yang akan datang).

Tetapi, kondisi perubahan iklim yang saat ini telah terjadi bisa saja merubah kemampuan bertahan hidup makhluk ini. Dan dari hasil penelitian di tahun 2018 ditemukan sebuah spesies tardigrada Antartika, Acutuncus antarcticus, yang telah terancam punah akibat perubahan iklim. Dan kini, spesies kedua tardigrada, Ramazzottius varieornatus, telah menunjukkan kelemahan yang sama.



“Spesimen yang kami gunakan dalam penelitian ini diambil dari talang atap sebuah rumah yang berlokasi di Niva, Denmark,” kata ahli biologi Ricardo Neves dari the university of Copenhagen, Denmark.

“Kami telah mengevaluasi pengaruh dari paparan temperatur tinggi pada tardigrada aktif dan dalam kondisi desikasi. Kami juga menyelidiki pengaruh dari proses aklimatisasi singkat (perubahan fisiologis atau adaptasi suatu organisme terhadap lingkungan baru) pada hewan yang aktif.

Bagi tardigrada aktif yang tidak dapat menyesuaikan dirinya pada temperatur yang lebih tinggi, populasi mereka mencapai 50 persen angka kematian setelah 24 jam berada pada suhu 37,1 derajat celcius. 

Periode aklimatisasi singkat selama dua jam pada suhu 30 ºC, dilanjutkan pada suhu 35 ºC selama dua jam, menaikkan ambang batas angka kematian menjadi 37,6 ºC. Jadi proses aklimatisasi bisa meningkatkan kemampuan bertahan hidup tardigrada.

Pada tardigrada dengan kondisi desikasi, kemampuan bertahan hidup mereka pada suhu tinggi meningkat hingga mencapai 50 persen angka kematian setelah dilakukan pengamatan selama 24 jam pada suhu 63,1 ºC . Dan pada eksperimen tambahan bisa diketahui bahwa makhluk ini akan lebih cepat mati ketika temperatur terus naik.

Dari hasil penelitian terdahulu di tahun 2006 diketahui bahwa tardigrada dalam kondisi desikasi mampu bertahan hidup hingga suhu 151 ºC selama 30 menit. Dan dari dari hasil studi terbaru bisa diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat ketahanan hidup dari tardigrada turun drastis ketika berada pada suhu tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Dari hasil penelitian ini, kami menyimpulkan bahwa tardigrada aktif sangat rentan pada temperatur tinggi, walaupun terlihat makhluk ini mampu beradaptasi pada peningkatan suhu di habitat alami mereka,” kata Neve.

Tardigrada dalam kondisi desikasi jauh lebih tangguh dan memiliki kemampuan bertahan hidup pada suhu yang lebih tinggi dibandingkan tardigrada aktif. Walaupun tetap ada batasan waktu tertentu bagi mereka untuk bisa bertahan pada suhu tinggi.”

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Scientific Reports.