BAGIKAN
Jong Marshes / Unsplash

Dari berbagai karakteristiknya, ular laut memberikan petunjuk bahwa leluhurnya berasal dari daratan. Mereka memiliki gigitan berbisa dan melahirkan sebagai cara untuk meneruskan keturunannya. Ketika di dalam perairan, ia tidak bernapas dengan insang melainkan melalui sebuah sistem pembuluh darah kompleks yang berada di kepalanya. Bahkan, mereka sanggup menahan haus daripada harus meminum air laut, dan seringkali mengalami dehidrasi.

Melalui sebuah studi terbarunya, para peneliti menunjukkan bahwa ular laut pertama kali memasuki lingkungan laut sejak 15 juta tahun yang lalu. Sejak itu, telah berevolusi untuk bertahan hidup dalam kondisi cahaya berbeda dari sebelumnya agar dapat memiliki visual seoptimal mungkin.

Ini menunjukkan bahwa penglihatan ular laut telah dimodifikasi secara genetik selama jutaan generasi, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sehingga, memungkinkan mereka untuk terus dapat melihat mangsa dan predator yang berada jauh di bawah permukaan laut.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, dipimpin oleh Bruno Simões dari University of Plymouth dan bekerja sama dengan para ilmuwan internasional. Untuk pertama kalinya memberikan bukti di mana, kapan dan seberapa sering spesies ini menyesuaikan kemampuannya untuk dapat melihat dalam beraneka ragam warna.



Namun, hasil dari penelitian juga menunjukkan sesuatu yang mengejutkan. Perilaku menyelam pada ular laut sebenarnya karena berbagi sifat adaptifnya, tidak dengan ular lain atau mamalia laut, tetapi malahan dengan beberapa primata pemakan buah.

Simões mengatakan: “Di dunia alami, spesies benar-benar harus beradaptasi ketika lingkungan di sekitarnya berubah. Tetapi untuk melihat perubahan yang begitu cepat pada penglihatan ular laut selama kurang dari 15 juta tahun, benar-benar mencengangkan. Laju diversifikasi antara ular laut, dibandingkan dengan amfibi dan kerabat terdekatnya dari daratan, mungkin merupakan demonstrasi dari lingkungan tempat mereka tinggal yang sangat menantang dan kebutuhan bagi mereka untuk terus beradaptasi agar dapat bertahan hidup.

“Studi kami juga menunjukkan bahwa penglihatan ular dan mamalia telah berevolusi sangat berbeda pada transisi dari daratan menuju laut. Ular laut telah mempertahankan atau memperluas penglihatan warnanya dibandingkan dengan kerabat daratannya, sedangkan pinniped (anjing laut) dan cetacea (paus, lumba-lumba dan pesut) mengalami pengurangan lebih lanjut dalam berbagai dimensi penglihatan warna mereka. Perbedaan yang mencolok ini adalah sebagai bukti lebih lanjut tentang keanekaragaman evolusi luar biasa dari penglihatan ular.”

Dalam studi tersebut, para ilmuwan mengatakan bahwa meskipun diturunkan dari kadal yang sangat visual, ular memiliki penglihatan warna yang terbatas (biasanya hanya dua warna), yang dikaitkan dengan gaya hidup yang didominasi oleh cahaya redup, dari nenek moyang pertamanya.

Namun, spesies hidup dari elapid bertaring depan dan berbisa, secara ekologis sangat beragam. Di mana terdapat sekitar 300 spesies daratan (seperti kobra, ular karang, dan taipan) dan 63 ular laut keseluruhan.

Untuk mencoba dan menetapkan bagaimana keragaman ini terjadi, para ilmuwan menganalisis berbagai spesies ular daratan dan ular laut dari berbagai sumber, termasuk kerja lapangan di Asia dan Australia dan berbagai koleksi dari museum sejarah.

Mereka menyelidiki evolusi sensitivitas spektral dalam elapid dengan menganalisis gen opsin mereka (yang menghasilkan pigmen visual yang bertanggung jawab dalam sensitivitas terhadap sinar ultraviolet dan cahaya tampak), fotoreseptor retina dan lensa mata.



Hasil mereka menunjukkan bahwa ular laut telah mengalami diversifikasi adaptif secara cepat dari pigmen visual mereka, bila dibandingkan dengan kerabat terestrial dan amfibinya.

Dalam satu contoh spesifik, garis keturunan ular laut tertentu telah memperluas sensitivitas UV-Blue-nya. Ular laut mencari makan di dasar laut dengan kedalaman melebihi 80 meter, namun harus berenang ke permukaan untuk bernafas setidaknya sekali setiap beberapa jam. Kepekaan UV-Blue yang diperluas ini membantu ular untuk melihat dalam kondisi cahaya yang bervariasi pada kolom air laut.

Pada beberapa primata pemakan buah, dua salinan mungkin sedikit berbeda (alel) menghasilkan pigmen visual dengan sifat spektral yang berbeda, memperluas penglihatan warnanya. Studi ini menunjukkan bahwa beberapa ular laut menggunakan mekanisme yang sama untuk memperluas penglihatan di bawah laut.




SUMBERUniversity of Plymouth
BAGIKAN