BAGIKAN
(Edward Howell/Unsplash)
(Edward Howell/Unsplash)

Virus corona varian terbaru yang bisa lebih mudah menular dan telah menyebar di wilayah Eropa, tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Sebuah peneltian terbaru menunjukkan, yang dilansir dari Business Insider.

Tim peneliti dari Public Health England (PHE), sebuah badan kesehatan masyarakat pemerintah Inggris, membandingkan 1.769 orang yang telah terinfeksi virus corona varian B.1.1.7 dengan 1.769 orang yang terinfeksi virus varian “wild type” (varian yang telah ada sebelumnya). Dan mereka menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat rawat inap maupun tingkat kematian.

Susan Hopkins, penasehat medis senior di PHE mengatakan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa varian baru virus tersebut “tidak menyebabkan terbentuknya penyakit yang parah atau meningkatnya angka kematian”. Hingga kini para peneliti masih melanjutkan penyelidikan mereka.

Virus varian baru ini pertama kali teridentifikasi di Inggris pada bulan September dan menjadi penyebab terjadinya gelombang baru infeksi pada bulan Desember, dan menyebabkan negara-negara lainnya mengeluarkan pembatasan perjalanan dari Inggris.

Varian ini lebih menular dari varian asli SARS-CoV-2, virus corona yang menjadi penyebab penyakit COVID-19. Teori ini didukung oleh hasil penelitian PHE terbaru.

Varian baru ini, kini telah teridentifikasi di setidaknya 18 negara, termasuk Jerman, Swedia, Perancis, Kanada dan Jepang.

Pada hari Selasa (29/12/2020), Amerika Serikat mengkonfirmasi kasus pertama dari virus varian baru ini, di Colorado. Pasien yang terinfeksi, adalah seorang pria berusia 20-an yang tidak memiliki riwayat melakukan perjalan ke luar Amerika Serikat dalam beberapa waktu sebelumnya, demikian pejabat pemerintah AS, Jared Polis mengatakan. Pria tersebut kini sedang menjalani isolasi sementara pihak otoritas melakukan penyelidikan tentang penyebaran varian baru ini.

Trial yang dilakukan PHE adalah penelitian “pencocokan” pertama dari varian baru ini, artinya dengan melakukan perbandingan antara dua kelompok subjek yang memiliki usia, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal, dan waktu pengujian yang sama.

Dari total 42 orang partisipan, baik yang terinfeksi virus varian asli maupun varian B.1.1.7 yang dirawat di rumah sakit setelah terinfeksi, yang terdiri dari 26 orang dengan varian asli dan 16 orang dengan varian baru. Dua belas orang yang terinfeksi varian baru meninggal dunia, dan 10 orang dengan varian asli juga meninggal dunia. Perbedaan antara keduanya tidak signifikan secara statistik, kata para peneliti.

Kemungkinan terjadinya reinfeksi dari kelompok varian baru ini juga kecil. Para peneliti mengatakan bahwa hanya dua orang yang terinfeksi kembali dalam 90 hari dari infeksi pertama, dibandingkan dengan tiga orang pada kelompok varian asli.

Lima belas persen dari kelompok partisipan yang terinfeksi varian baru ini, setelah ditelusuri, pernah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi virus varian B.1.1.7 dan kemudian tertular, dibandingkan dengan 10 persen partisipan yang ditemukan pernah melakukan kontak orang yang terinfeksi varian lain. Para peneliti mengatakan hasil penelitian ini mendukung teori yang menyatakan bahwa virus corona varian baru lebih menular dibandingkan varian asli.

VIAadell
BAGIKAN