Beranda SerbaSerbi Air liur kutu bantu perpanjang hidup pasien HIV

Air liur kutu bantu perpanjang hidup pasien HIV

145
BAGIKAN
Kutu penyebab penyakit Lyme © Pixabay
Kutu tak selalu mengganggu, bisa juga membantu.Orang yang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat hidup lebih lama, berkat kemajuan medis dan ketersediaan obat antiretroviral yang semakin luas.

Namun, peneliti University of Pittsburgh, Amerika Serikat, Ivona Pandrea, mengatakan orang yang hidup dengan HIV memiliki dua kali peluang lebih besar terkena penyakit jantung.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang dengan status HIV-positif memiliki kemungkinan 50 persen sampai 75 persen lebih besar mengalami infark miokard akut daripada mereka yang tidak memiliki virus tersebut, bahkan ketika infeksi dikendalikan dengan baik oleh antiretroviral.

Peradangan kronis dicurigai sebagai penyebab penyakit kardiovaskular. Dalam jurnal di Science Translational Medicine, para ilmuwan menjelaskan bahwa risiko penyakit jantung yang meningkat didorong oleh sel kekebalan pada orang dengan HIV, yang terus menghasilkan protein pemicu pembekuan darah dan pembengkakan.

Penelitian baru ini menunjukkan jawaban atas masalah tersebut. Temuan ini juga menunjukkan bahwa obat eksperimental dapat menjanjikan sebagai pengobatan potensial.

Pandrea dan rekan-rekannya di University of Pittsburgh dan National Institutes of Health telah menemukan bahwa orang-orang HIV-positif dapat melawan risiko tinggi penyakit jantung ini dengan memanfaatkan sumber yang tidak umum, yakni sebuah properti peredam peradangan yang ditemukan dalam air liur kutu.

Para periset menemukan bahwa Ixolaris, obat percobaan yang diisolasi dari air liur kutu dan sebelumnya diuji untuk mengobati penggumpalan darah pada hewan, berhasil mengurangi peradangan pada monyet yang terinfeksi dengan Simian immunodeficiency virus (SIV), bentuk HIV untuk primata.

“Perawatan ini berpotensi memperbaiki pengelolaan klinis pasien terinfeksi HIV dan membantu mereka untuk hidup lebih lama dan lebih sehat dengan HIV,” kata Pandrea.

Irini Sereti, dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) National Institutes of Health menguji sampel darah dari orang-orang tanpa HIV, orang dengan HIV yang infeksinya terkontrol dengan baik oleh terapi antiretroviral, dan orang dengan HIV yang tidak memakai obat-obatan.

Para peneliti menemukan sejumlah sel kekebalan yang disebut monosit. Monosit menghasilkan kadar protein jaringan tingkat tinggi, yang terkait dengan penggumpalan darah dan protein inflamasi lainnya, dalam darah dari orang dengan HIV, terlepas dari seberapa baik infeksi mereka dikendalikan.

Temuan ini dikonfirmasi oleh Pandrea dan timnya. Ketika diuji pada sekelompok kecil monyet selama infeksi HIV awal, pengobatan tersebut secara signifikan menurunkan tingkat protein inflamasi yang terkait dengan penyakit kardiovaskular.

Para peneliti kemudian memaparkan sampel darah manusia ke Ixolaris dan mengamati bahwa obat tersebut menghambat aktivitas faktor jaringan.

Ixodes scapularis dewasa
Ixodes scapularis dewasa © Scott Bauer /Wikimedia Commons

National Institutes of Health memegang hak paten untuk Ixolaris, yang merupakan versi sintetis molekul kecil yang ditemukan di dalam air liur dari kutu pembawa penyakit Lyme, Ixodes scapularis, yang biasa dikenal dengan sebutan rusa atau kutu hitam.

Ixolaris ditemukan oleh rekan penulis studi Ivo M. B. Francischetti, MD, Ph.D., dari NIAID.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji keamanan dan interaksi obat dengan obat lain yang digunakan untuk pasien HIV. Para peneliti turut mengingatkan, Ixolaris belum pernah diuji pada manusia dan hasilnya bisa berbeda.

“Perawatan ini berpotensi memperbaiki pengelolaan klinis pasien terinfeksi HIV dan membantu mereka untuk hidup lebih lama dan lebih sehat dengan HIV,” kata Pandrea.

Air liur kutu dapat dikumpulkan untuk studi ilmiah dengan tabung kecil yang dimasukkan ke dalam mulut kutu, atau dengan mengeluarkan kelenjar ludah kutu.

Namun air liur kutu asli tetaplah berbahaya, dan bukan solusi instan. “Saya tidak akan merekomendasikan orang untuk membiarkan mereka digigit oleh kutu. Mereka masih akan terkena penyakit Lyme,” tegas Pandrea.