BAGIKAN
Freepik

Tahun 2020 akan memasuki kuartal terakhir, pandemi masih terus berlangsung dan beberapa negara telah jatuh ke jurang resesi ekonomi karenanya. Seluruh warga dunia menanti dengan cemas, apakah vaksin untuk COVID-19 akan tersedia di awal tahun 2021 nanti. Seperti kita ketahui, perusahaan-perusahaan farmasi dari beberapa negara dunia tengah berlomba untuk menjadi yang pertama dalam memproduksi vaksin untuk virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19.

William Petri, seorang dokter spesialis penyakit infeksi sekaligus profesor bidang medis dari University of Virginia, ikut terlibat dalam riset tentang COVID-19 ini menuliskan dalam sebuah artikel di the conversation bahwa seringkali ia dipertanyakan, seberapa besar keyakinannya bahwa para peneliti akan berhasil mengembangkan vaksin yang mampu mencegah COVID-19. Dimana hingga saat ini, belum ada satupun vaksin yang dihasilkan untuk virus HIV, yang menjadi penyebab penyakit AIDS.

Dari perkembangan hasil penelitian vaksin COVID-19 hingga saat ini, Petri optimis bahwa vaksin untuk COVID-19 akan siap dalam lima bulan dari sekarang. Dan berikut adalah beberapa alasan mengapa kita harus optimis akan vaksin baru ini.

Sistem imun manusia dapat menyembuhkan COVID-19

Sebanyak 99 persen dari keseluruhan kasus COVID-19, dapat disembuhkan, dan virus dapat dibersihkan dari tubuh pasien.

Pada pasien yang terinfeksi COVID-19, jumlah virus di dalam tubuhnya akan menurun drastis dalam tiga bulan setelah infeksi. Tetapi pada hampir semua kasus, para pasien ini tidak akan menularkan virus pada orang lain dalam sepuluh hari setelah terserang penyakit.

Kondisi ini yang mempermudah para ilmuwan untuk mengembangkan sebuah vaksin bagi virus corona baru dibandingkan vaksin untuk virus HIV dimana sistem imun tubuh manusia gagal mengalahkannya secara alami. Virus SARS-CoV-2 tidak bermutasi seperti virus HIV, membuatnya menjadi target yang lebih mudah bagi sistem imun untuk mengatasinya atau bagi vaksin untuk mengendalikannya.

Antibodi menargetkan tonjolan protein pada permukaan virus untuk mencegah infeksi

Sebuah vaksin akan melindungi, atau secara bertahap akan merangsang terbentuknya antibodi yang akan menargetkan tonjolan protein pada permukaan virus SARS-Cov-2, virus penyebab COVID-19.

Tonjolan protein pada permukaan virus berfungsi sebagai pengikat sel manusia untuk kemudian virus akan menginfeksi dan bereproduksi. Para peneliti sebelumnya telah mengungkapkan bahwa antibodi, yang terbentuk oleh sistem imun manusia, akan mengikatkan dirinya pada tonjolan protein virus, menetralisirnya dan kemudian mencegah virus corona menginfeksi sel.

Vaksin dalam tahap trial klinis telah menunjukkan adanya kenaikan jumlah antibodi yang menargetkan tonjolan protein virus yang akan mencegah terjadinya infeksi virus pada sel.

Setidaknya ada tujuh perusahaan yang tengah mengembangkan antibodi monoklonal ini, yaitu antibodi yang dikembangkan di laboratorium yang dapat mengenali tonjolan protein (spike protein) pada virus corona baru. Antibodi jenis ini telah memasuki tahapan trial klinis untuk menguji kemampuannya dalam mencegah terjadinya infeksi pada mereka yang telah terpapar virus.

Antibodi monoklonal juga efektif digunakan dalam pengobatan. Selama terjadi infeksi, satu dosis dari antibodi monoklonal ini dapat menetralisir virus, memberikan kesempatan pada sistem imun untuk menghasilkan antibodi secara alami untuk melawan patogen.

Ada banyak target pada tonjolan glikoprotein pada virus

Tonjolan protein virus memiliki beberapa lokasi dimana antibodi dapat mengikatkan diri dan menetralisir virus. Dan ini adalah berita baik karena dengan banyaknya titik kelemahan pada virus, akan sangat sulit bagi virus untuk bermutasi dan kebal terhadap vaksin.

Untuk bisa kebal terhadap vaksin, tonjolan protein pada virus harus dapat bermutasi dan merubah strukturnya, dan perubahan ini akan membuat virus sulit untuk mengikatkan dirinya pada ACE2, yang menjadi kunci terjadinya infeksi pada sel-sel manusia.

Kita tahu bagaimana membuat vaksin yang aman

Keamanan vaksin baru untuk COVID-19 telah disempurnakan oleh para peneliti karena mereka telah memahami potensi efek samping dari sebuah vaksin dan bagaimana menghindarinya.

Salah satu efek samping vaksin yang pernah ada adalah ketika antibodi tidak mampu menetralisir virus dan malah membiarkan virus memasuki sel melalui sebuah reseptor yang awalnya terbentuk bagi antibodi.

Para peneliti menemukan bahwa dengan mengimunisasi tonjolan protein, antibodi penetral dalam jumlah besar akan terbentuk. Menurunkan resiko terbentuknya infeksi.

Potensi masalah yang timbul dari vaksin yang sebelumnya dikembangkan adalah terjadinya reaksi alergi yang menyebabkan pembengkakan pada paru-paru, seperti yang terjadi pada individu yang menerima vaksin virus sinsisial pernafasan pada tahun 1960an.

Efek samping ini cukup berbahaya mengingat pembengkakan pada paru dapat menyebabkan pasien kesulitan bernafas. Tetapi para peneliti kini telah mengetahui bagaimana mendesain vaksin agar dapat menghindari terjadinya reaksi alergi.

Beberapa vaksin telah melewati tahap trial klinis fase I dan II

Fase I dan fase II trial klinis adalah untuk menguji apakah sebuah vaksin aman dan mampu merangsang respon imun. Dan hasil trial klinis dari tiga vaksin yang berbeda cukup menjanjikan, dapat merangsang terbentuknya antibodi penetralisir tonjolan protein virus dalam jumlah dua hingga empat kali lipat dari yang terbentuk pada orang-orang yang telah sembuh dari COVID-19.

Vaksin Moderna, Oxford dan buatan perusahaan di china CanSino, semua telah menunjukkan keamanan vaksin produksinya dalam trial tahap I dan II.

Trial klinis fase III tengah berjalan saat ini

Trial klinis tahap II adalah tahapan terakhir dari pengembangan sebuah vaksin. Pada tahap ini vaksin akan diuji pada puluhan ribu individual untuk mengetahui apakah vaksin ini benar-benar bekerja untuk mencegah infeksi virus SARS-CoV-2 dan aman bagi manusia.

Vaksin yang diproduksi oleh Moderna dan NIH dan juga vaksin Oxford Astra Zaneca telah memulai trial klinis tahap III pada bulan Juli lalu.Dan vaksin COVID-19 lainnya akan memulai trial klinis pada minggu-minggu ini.

(Sementara itu, Indonesia juga menjadi lokasi trial klinis tahap III dari vaksin produksi SinoVac dan telah memulai trial klinis pada relawan sejak akhir Juli lalu.)

Distributor vaksin telah melakukan kontrak distribusi saat ini

McKesson corp., perusahaan distributor vaksin terbesar di AS, telah melakukan penandatanganan kontrak dengan CDC untuk mendistribusikan vaksin COVID-19 ke seluruh negara tersebut, termasuk ke rumah sakit dan klinik,

Dan Petri menuliskan pada the conversation,  ia meyakini bahwa sangat realistik untuk percaya bahwa pada akhir tahun 2020 ini, vaksin COVID-19 yang aman dan efektif akan dapat digunakan untuk melawan pandemi yang menerpa dunia setahun belakangan ini.

The Conversation

 

VIAadell
BAGIKAN