BAGIKAN
(Wikedia Common)

Pandemi virus corona telah dibandingkan dengan berbagai jenis penularan penyakit sebelumnya, termasuk Great Plague (wabah besar London) dan pandemi flu Spanyol tahun 1918. Namun, hanya ada sedikit pertimbangan tentang sebuah episode penyakit yang mungkin paling signifikan dalam sejarah. Dunia modern seperti yang kita ketahui sekarang, tidak akan pernah ada tanpa epidemi yang melanda Amerika pada abad ke-16 hingga ke-17. Epidemi ini menciptakan dunia modern.

Setelah perjalanan eksplorasi Christopher Columbus, orang Eropa tiba di Amerika dalam jumlah yang terus meningkat. Mereka tanpa sadar turut membawa serta berbagai virus, seperti cacar, influenza, campak, gondongan dan cacar air. Di mana penduduk asli Amerika sebelumnya tidak pernah terpapar oleh virus-virus ini dan tidak memiliki kekebalan untuk menangkalnya. Para sejarawan menyebutkan epidemi yang diakibatkannya sebagai “wabah di bumi perawan”.

Virus corona telah menunjukkan bagaimana epidemi penyakit berdampak terhadap suatu masyarakat yang rentan. Demikian pula, wabah di bumi perawan ini dengan cepat melanda masyarakat Penduduk Asli Amerika. Masyarakat menjadi kewalahan. Semua orang langsung sakit berjatuhan: tidak ada yang merawat bagi mereka yang sakit, dan tidak ada orang yang bercocok tanam atau memanen tanaman.



Dampak dari epidemi begitu besar. Pada tingkat pertama,  menyingkirkan orang-orang yang berusaha menolak ekspansi Eropa. Studi saat ini, menunjukkan bahwa populasi Amerika mungkin mencapai 100 juta sebelum bertemu dengan orang Eropa. Di berbagai daerah, dalam satu abad setelah terpapar penyakit ini, 95% dari populasinya meninggal.

Kita sangat memahami bagaimana kekaisaran Aztec dan Inca, tetapi masyarakat serupa, jika tidak terlalu kompleks, ada di tempat lain. Ketika Hernando de Soto menjelajahi apa yang sekarang menjadi bagian tenggara dari Amerika Serikat pada tahun 1540-an, dia menemukan penduduk lokal tinggal di kota-kota besar, yang dapat mengumpulkan pasukan sebanyak ribuan orang. Ketika penjelajah Inggris memasuki wilayah tersebut pada akhir abad berikutnya, mereka hanya menemukan beberapa suku yang tersebar.

Selama bertahun-tahun, sejarawan mempertanyakan validitas catatan ekspedisi de Soto. Namun, arkeologi kini telah memverifikasi banyak deskripsi yang dibawa kembali oleh anak buahnya. Masyarakat ini punah oleh wabah di bumi perawan, meskipun kontak langsung mereka dengan orang Eropa terbatas.

Epidemi ini tidak hanya membunuh orang, tetapi juga merusak tatanan budaya dan moral. Sebagian besar masyarakat asli Amerika tidak melek huruf – mereka tidak memiliki bahasa tertulis. Akibatnya, ketika para sesepuhnya meninggal secara bersamaan, banyak kebudayan dan pengetahuan masyarakat juga turut punah. Kerugian ini berpengaruh pada siklus keputusasaan dan demoralisasi, di mana keduanya telah menggerogoti perlawanan penduduk asli Amerika dan memberikan pembenaran terhadap ekspansi Eropa.

Hernando de Soto. Wikimedia Commons



Takdir yang nyata

Beberapa pengamat di Asia Timur memandang kegagalan pemerintah barat dalam mengendalikan virus corona sebagai bukti lemah dan rapuhnya demokrasi barat. Demikian pula, pada abad ke-16, orang Eropa melihat wabah di bumi perawan sebagai bukti superioritas moral dan biologis mereka. Menurutnya, itu adalah bukti bahwa Tuhan bermaksud agar orang Eropa menguasai benua Amerika.

Ketika para peziarah tiba di New England pada tahun 1620-an, mereka menemukan penduduk lokal sudah hancur oleh penyakit. Di sepanjang pantaimya terdapat desa-desa yang telah ditinggalkan, menyediakan berbagai lokasi pemukiman yang sempurna. Seolah-olah Tuhan telah memberkati misi para peziarah.

Epidemi itu sendiri membantu merasionalisasi kolonialisme – bagaimanapun juga itu adalah kehendak Tuhan. Membiarkan orang Eropa-Amerika untuk mengambil alih tanah air sembari menghapus dosa-dosanya, dan memandang imperialisme mereka sebagai “takdir nyata” yang sebelumnya telah ditentukan oleh Tuhan.

Kita belum tahu seberapa luas dampak sosial dan ekonomi jangka panjang dari virus corona, tetapi wabah di bumi perawan ini memiliki konsekuensi yang tidak terduga. Banyak petualang Eropa awal mengantisipasi bahwa penduduk asli Amerika akan menyediakan tenaga untuk mengerjakan ladang-ladang mereka. Ketika mereka mulai menghasilkan tanaman pokok yang menguntungkan seperti gula, kopi dan tembakau, permintaan akan tenaga kerja semakin bertambah besar. Tanpa suatu penduduk lokal untuk dieksploitasi, orang Eropa akan beralih ke Afrika untuk memberikan mereka pekerjaan tersebut.

Perdagangan budak Atlantik

Perdagangan budak telah lama ada dalam berbagai bentuk, tetapi skalanya pada abad ke-17 hingga ke-18, metode yang digunakan, dan pembenaran yang diberikan, belum pernah terjadi sebelumnya. Kepemilikan absolut terhadap manusia – perbudakan harta benda – dibenarkan oleh konsep superioritas rasial, dalam banyak hal, adalah akibat dari wabah di bumi perawan ini.



Meskipun “sejarah alternatif” bisa jadi sulit dan berbahaya, jelaslah bahwa jika wabah di bumi perawan ini tidak melanda Amerika, dunia modern akan berkembang dengan sangat berbeda. Negara-negara Amerika, tidak terkecuali AS, tidak akan pernah ada dalam bentuk mereka seperti saat ini.

Rasisme yang terdefinisi dengan jelas dan rasa superioritas Eropa yang muncul pada abad ke-18, dan yang telah melanda dunia sejak saat itu, tidak akan berkembang dengan cara yang sama. Kita juga dapat mempertimbangkan apakah, tanpa keuntungan dari kekayaan alam Amerika, Eropa akan menjadi begitu dominan di dunia.

Tanpa wabah di bumi perawan, dunia akan sangat berbeda. Masih harus dilihat sejauh mana virus corona juga akan mengubah dunia.


Matthew Ward , Dosen Senior Sejarah, University of Dundee

The Conversation




BAGIKAN