BAGIKAN
Photo by Jorge Fernández Salas on Unsplash

Peristiwa kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl tahun 1986 telah menelan banyak korban jiwa serta menjadikan area ini sangat berbahaya karena potensi dari radio aktifnya. Namun, sejumlah spesies jamur diketahui telah mendiami lingkungan ini. Bahkan menjadikan radioaktif sebagai sumber tenaganya.

Dikenal sebagai jamur hitam atau jamur radiotropik, beberapa spesies ini dipersenjatai dengan suatu melanin – pigmen yang sama terdapat pada kulit manusia yang membantu melindungi dari radiasi ultraviolet – yang memungkinkan jamur-jamur ini untuk mengubah radiasi gamma menjadi energi kimia untuk pertumbuhannya, yang dikenal dengan radio sintesis.

Beberapa spesies jamur ini mampu menahan radiasi pengion sekitar 500 kali lebih tinggi. Selain itu, jamur ini sebenarnya lebih cepat tumbuh di hadapan radiasi. Sebuah studi lainnya bahkan telah mencatat bagaimana jamur ini mengarahkan spora dan hifanya ke arah sumber radiasi seolah sedang menjangkau makanannya.

Sebelumnya, jamur ini telah disebut-sebut bisa dijadikan sebagai sumber makanan bagi para astronot selama penerbangan jarak jauhnya. Namun, sebuah studi terbaru telah melaporkan potensi lainnya yang memungkinkan.

Jamur hitam ini, bisa menjadi suatu perisai yang melindungi para astronot dari bahaya radiasi ruang angkasa, selama berada di luar batas magnetosfer Bumi. Bahkan dapat menjadi pelindung yang pasif bagi hunian manusia ketika berada di Bulan atau Mars.

Para peneliti telah melaporkan hasil studinya terhadap jamur Cladosporium sphaerospermum yang dipelajari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama 30 hari, yang dimanfaatkan sebagai analog dari kondisi radiasi di Mars dan Bulan.

Jamur Cladosporium sphaerospermum (Wikimedia)

Dalam pengujiannya, sebuah sampel setebal 2 milimeter dapat memblokir sekitar 2 persen dari radiasi yang datang. Namun, suatu lapisan setebal 21 sentimeter kemungkinan akan cukup untuk melindungi manusia dari radiasi di Mars, penulis penelitian menyimpulkan. Tapi, bukan itu saja keampuhannya.

Para penulis mencatat bahwa lebih dari satu tahun, rata-rata orang di Bumi akan terpapar sekitar 6,2 mSv sementara rata-rata astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) akan terpapar radiasi sekitar 144 mSv. Satu tahun dalam menuju Mars, seorang astronot pasti sudah terpapar radiasi sekitar 400 mSv. Terutama dari Galactic Cosmic Radiation (GCR).

Cryptococcus neoformans, salah satu spesies radiotrofik jamur yang ditemukan di Chernobyl. (Credit : Dr Graham Beards)

“Apa yang membuat jamur ini hebat adalah Anda hanya perlu beberapa gram untuk memulainya, jamur ini mampu mereplikasi dan memperbaiki diri secara mandiri, jadi, jika ada suar matahari yang bahkan merusak perisai radiasi secara signifikan, jamur ini akan dapat tumbuh kembali dalam beberapa hari,” rekan penulis studi Nils Averesch dari Stanford University, California, mengatakan kepada New Scientist.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan beberapa hasil yang menjanjikan, tetapi pertimbangan teknis lebih lanjut diperlukan sebelum diluncurkan, lanjut Averesch. Sebagai permulaan, jamur tidak bisa ditanam di luar ruangan di Mars karena suhunya yang dingin dan kebutuhan tambahan akan air yang harus dipenuhi.

Alternatifnya adalah mengekstraksi pigmen melanin yang ditemukan pada jamur Cladosporium sphaerospermum dan memasukkannya ke dalam pakaian antariksa. Memang, tim yang berbeda dari Johns Hopkins University, baru-baru ini telah mengirim sampel melanin ke ISS, yang berasal dari jamur Chernobyl lainnya, Cryptococcus neoformans, untuk pengujian lebih lanjut dari pemblokiran terhadap radiasi.

SUMBERiflscience
BAGIKAN