BAGIKAN
Seni dinding Mesir Kuno menunjukkan Hyksos mengenakan pakaian berwarna cerah, sedangkan orang Mesir sering memilih pakaian putih. Gambar prosesi makam kelompok Aamu Khnumhotep II di Beni Hassan. (Wikimedia)

Hyksos dikenal sebagai orang-orang asing yang menjajah Mesir kuno lalu menguasainya selama empat dinasti sejak Dinasti ke-15. Seperti itulah setidaknya menurut teks-teks kuno. Namun, menurut sebuah penelitian terbaru, Hyksos bukanlah siapa-siapa, mereka adalah sekelompok imigran kelahiran Mesir yang bangkit dari dalam dan meraih kekuasaannya. Mereka bisa dikatakan sebagai sekelompok imigran yang memberontak terhadap sebagian dari sebuah kekuasaan yang sah .

Penelitian ini diterbitkan di jurnal PLOS ONE.

Selama kekuasaannya, Firaun yang memerintah Mesir dari sekitar 3100 SM hingga 30 SM, tidak selalu berada dalam komando sepenuhnya terhadap wilayah-wilayah mereka. Salah satu periode dari kerentanan ini dimulai pada sekitar 1800 SM, di mana firaun tidak efektif dalam berupaya untuk menjaga ketertiban. Keluarga Hyksos memanfaatkan situasi kekosongan ini dengan menguasai Mesir utara, menurut teks-teks kuno, sehingga para firaun hanya bertanggung jawab atas sebidang kecil wilayah di selatan.



Dilansir dari Public Library of Science, Hyksos adalah dinasti asing yang memerintah sebagian Mesir antara sekitar 1638-1530 SM, contoh pertama di mana Mesir diperintah oleh orang-orang yang berasal dari luar. Cerita yang umumnya berkembang adalah bahwa Hyksos adalah penjajah dari negeri yang jauh, tetapi gagasan ini telah dipertanyakan. Berbagai bukti arkeologis memang menghubungkan budaya Hyksos dengan asalnya dari Timur Dekat, tetapi bagaimana tepatnya mereka naik ke tampuk kekuasaan tidaklah jelas.

Para arkeolog tahu bahwa Hyksos tidak seperti kebanyakan orang Mesir pada umumnya. Mereka mempunyai nama-nama seperti orang-orang yang berasal dari daerah tetangga di Asia barat daya. Karya-karya seni kuno menggambarkan bahwa mereka mengenakan pakaian panjang berwarna-warni, tidak seperti orang Mesir yang umumnya berpakaian putih.

“Hasil penelitian ini bertentangan dengan narasi klasik Hyksos sebagai suatu kekuatan penjajah. Sebaliknya, penelitian ini mendukung teori bahwa penguasa Hyksos bukan berasal dari tempat asal yang bersatu, tetapi orang Asia Barat yang leluhurnya pindah ke Mesir selama Kerajaan Tengah, tinggal di sana selama berabad-abad, dan kemudian bangkit untuk memerintah Mesir utara.” tulis para peneliti yang dilansir dari ScienceAlert.

Dalam studi ini, arkeolog Chris Stantis dari Bournemouth University dan rekan-rekannya mengumpulkan sampel enamel dari gigi 75 manusia yang terkubur di ibu kota kuno Hyksos, Tell el-Dab’a di timur laut Delta Nil. Membandingkan rasio isotop strontium di gigi dengan sidik jari isotop lingkungan dari Mesir dan di tempat lainnya, mereka menilai asal geografis setiap orang yang tinggal di kota. Mereka menemukan bahwa sebagian besar penduduk tersebut adalah bukan penduduk setempat yang bermigrasi dari berbagai tempat lain. Pola ini benar, baik sebelum maupun selama dinasti Hyksos.

Pola ini tidak cocok dengan kisah yang telah berkembang selama ini, yang mengatakan sebuah serangan mendadak dari sebuah wilayah yang jauh. Tetapi, dari sebuah wilayah dari berbagai budaya di mana sebuah kelompok internal – Hyksos – akhirnya naik ke tampuk kekuasaan setelah tinggal di sana selama beberapa generasi.



Namun, seperti kebanyakan sejarah, ini ditulis ulang oleh para pemenangnya. Setelah satu abad atau lebih, para firaun kembali mengambil tanah ‘mereka’ dari Hyksos untuk selamanya. Lalu, mengusir mereka untuk mencari tanah sendiri – mungkin ini yang mengilhami kisah alkitab tentang Keluaran, seperti yang dilansir dari ScienceAlert.

Bukti arkeologis lainnya mendukung gagasan ini. Daripada menemukan jejak-jejak pertempuran di wilayah ini, para peneliti yang telah berupaya menelusuri berbagai peninggalan makam malah menemukan dokumentasi di mana para pria Mesir yang menikahi wanita-wanita dengan nama bukan Mesir.

Bukankah sebagian besar sebuah invasi dalam sejarah selalu dilakukan oleh pria. Namun analisis terbaru menunjukkan bahwa sebelum pemberontakan Hyksos, ada jauh lebih banyak perempuan yang bukan penduduk setempat berimigrasi ke wilayah ini daripada para prianya.

“Berbagai pemakaman dan kuburan domestik yang digali mengasumsikan lebih mewakili para elit kota daripada populasi ‘umum’, dan ada kemungkinan bahwa para wanita ini datang ke wilayah itu pernikahannya untuk memperkuat aliansi dengan keluarga yang berkuasa dari luar Sungai Nil” para penulis menjelaskan.

Seorang ahli sejarah Mesir kuno, Orly Goldwasser, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada Science Magazine dia berpikir bahwa sebagian besar dari para imigran yang mendatangi Mesir selama waktu ini pada awalnya dengan niat damai.

Sementara sejarawan kuno menggambarkan mereka sebagai “Suatu kaum penjajah dari ras yang tidak jelas”, beberapa arkeolog menduga itu sebenarnya ‘berita palsu’ atau propaganda kuno. Mereka berpendapat bahwa Hyksos mungkin memperoleh tampuk kekuasaannya secara perlahan dan damai, menghadirkan berbagai teknologi mereka seperti berkuda dan kereta.