BAGIKAN
Anak-anak tunawisma di Ghetto Warsawa (Wikipedia)

Ghetto Warsawa adalah sebuah kamp NAZI seluas 3,6 km untuk memenjarakan sekitar 460.000 Yahudi di tahun 1941. Dalam kondisi terparahnya sebagaimana perang, wabah tifus pun mulai menghantui tempat ini.

Namun, para peneliti menemukan suatu kejanggalan di mana saat itu penyebaran wabah lenyap secara tiba-tiba. Meskipun kondisi tempat tersebut merupakan sarang yang sempurna untuk berkembangnya penyakit, bahkan di luar dugaan ketika menjelang musim dingin di mana epidemi seharusnya memuncak.

Para peneliti menunjukkan bahwa program kesehatan masyarakat dan praktik jarak sosial sebagai penjelasan yang paling memungkinkan untuk lenyapnya epidemi secara tiba-tiba, yang dielu-elukan oleh para penyintas pada saat itu sebagai sebuah keajaiban.

Dalam kaitannya dengan pandemi COVID-19 saat ini, para peneliti dari RMIT University menggarisbawahi pentingnya kerja sama dan peran serta aktif dari masyarakat dalam upaya untuk mengalahkan epidemi dan pandemi seperti COVID-19, daripada terlalu bergantung pada peraturan pemerintah.

Hasil dari penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Science Advances.

“Dengan kondisi yang buruk, kelaparan yang merajalela, dan kepadatan populasi 5 hingga 10 kali lebih tinggi daripada kota mana pun di dunia saat ini, Ghetto Warsawa menyajikan tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri untuk menyebarkan Tifus dan merobek populasi seperti api liar  terutama Yahudi yang ada di sana. Tentu saja, Nazi sangat sadar ini akan terjadi,” kata Lewi Stone, pemimpin penelitian dari RMIT University.

Sebanyak 120.000 narapidana ghetto terinfeksi oleh Tifus, 30.000 di antaranya meninggal di tempat dan banyak lagi jumlahnya yang disebabkan kelaparan atau kombinasi dari keduanya.

Stone mengatakan itu adalah sebuah kasus penyakit yang didokumentasikan secara historis telah digunakan sebagai senjata perang dan genosida sebagai alasan.

“Kemudian, pada Oktober 1941, ketika musim dingin yang parah telah dimulai dan seperti halnya tifus, diperkirakan akan meroket, namun kurva epidemi secara tiba-tiba dan tak terduga merosot tajam menuju kepunahan,” katanya.

“Itu tidak bisa dijelaskan pada saat itu dan banyak yang mengira itu adalah suatu keajaiban atau tidak rasional.”

Menurutnya, penurunan yang stabil dalam tingkat penularan penyakit kemungkinan besar mencerminkan keberhasilan dari intervensi perilaku.

Tifus menyebar lebih luas selama musim dingin, namun menurun tajam saat musim dingin 1941-1942. Stone et al / Science Advance

Melalui pemodelan matematika tim peneliti menunjukkan bahwa saat itu epidemi sebenarnya berada di jalur untuk lebih besar 2 hingga 3 kali dan puncaknya di tengah musim dingin, tepat sebelum menghilang.

“Untungnya, banyak kegiatan dan intervensi anti-epidemi telah didokumentasikan dan ternyata Ghetto Warsawa memiliki banyak dokter dan spesialis yang berpengalaman,” katanya.

Dari upaya dan penelusuran sejarah di seluruh dunia, Stone menemukan berbagai bukti adanya kursus pelatihan yang terorganisasi dengan baik. Meliputi kebersihan umum dan tentang penyakit menular, ratusan kuliah umum tentang perang melawan Tifus dan universitas kedokteran bawah tanah untuk para mahasiswa.

“Tidak ada cara lain yang bisa kita temukan untuk menjelaskan data-data tersebut.” kata Stone

Dilansir dari Iflscience, Stone dan rekan penulisnya menunjukkan bahwa Nazi menggunakan ancaman tifus bagi orang-orang Jerman sebagai pembenaran awal untuk menggiring orang-orang Yahudi ke dalam ghetto, dan kemudian mengirimnya menuju kamp kematian. “Ini mencontohkan kemampuan manusia untuk menghidupkan dirinya sendiri, berdasarkan pada prinsip-prinsip epidemiologi yang dipandu oleh ras, hanya karena kemunculan dari suatu bakteri,” tulis mereka.

“Hari ini, lebih dari sebelumnya, masyarakat perlu memahami bagaimana kerusakan yang disebabkan oleh virus kecil atau bakteri dapat menciptakan malapetaka, menyeret umat manusia ke titik kejahatan seperti yang disaksikan di Holocaust,” kata Stone.

“Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Ghetto Warsawa, tindakan individu dalam mempraktikkan kebersihan, jarak sosial dan isolasi diri ketika sakit, dapat membuat perbedaan besar dalam masyarakat untuk mengurangi penyebaran.” kata rekan peneliti Yael Artzy-Randrup dari Universitas Amsterdam.