BAGIKAN

Kebanyakan dari kita tidak menyadari, bahwa mayoritas bahan bangunan yang kita gunakan didapatkan dari proses penambangan. Artinya, untuk setiap bangunan yang didirikan, ada bagian dari gunung kapur berkurang untuk dibuat bahan bangunan. Terhitung sejak tahun 1985, sebanyak 27 meter kubik sumber daya hutan Indonesia (setara 1.312 Milyar USD) telah berkurang untuk aktivitas penambangan sumber daya bahan bangunan. Nilai yang besar, bukan?

Negara Indonesia memiliki 120 juta ton limbah pertanian setiap tahun, dan sudah seharusnya hal tersebut dimanfaatkan menjadi hal yang lebih bermanfaat. Inilah yang dilakukan oleh tim Mycotech, “memanen” limbah pertanian tersebut untuk dirubah menjadi bahan bangunan—tanpa perlu melakukan penambangan.

Mycotech menggantikan konsep ‘end-of-live’ bahan bagunan hasil penambangan dengan sebuah perbaikan, perubahan menuju penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, menghilangkan penggunaan banyak bahan kimia berbahaya, dan mengurangi limbah material bangunan. (penggagas.com)

Rumah Jamur kerap dikisahkan sebagai bagian dari dongeng pengantar tidur. Siapa sangka, di tangan sekelompok ilmuwan muda jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran, rumah jamur bisa menjadi kenyataan. Ia bukan hanya kisah hunian para peri imut, melainkan berpotensi ditinggali manusia hidup.

Sekelompok anak muda tersebut tergabung dalam organisasi usaha bernama Ideas. Mereka terdiri dari Adi Reza Nugroho, Annisa Wibi Ismarlant, Derri Abraham, dan M Arekha Bentangan Lazuar. Dari hasil penelitian sejak empat tahun lalu, mereka berhasil membuat bata dan lempengan berbahan limbah pertanian yang direkatkan dengan jamur.

Dan siapa sangka jika penemuan ini  berawal dari ketidaksengajaan.

Empat tahun lalu tim yang bernama Mycotech ini  sedang meriset pembuatan betaglukan dari jamur.  Tidak sengaja tim yang terdiri dari oleh Adi Reza Nugroho, M. Arekha Bentangan Lazuar, Derri Abraham, dan Annisa Wibi Ismarlant ini menemukan fenomena jamur yang dapat memperkuat media tanamnya (baglog). Namun karena temuan tersebut bukan tujuan utama riset mereka, hal tersebut mereka tidak dipublikasikan.

Awal tahun 2014, mereka pun mulai mengembangkan kembali penemuan empat tahun lalu. Mereka tak sendirian namun berkerjasama dengan Dr. Hardaning Pranamuda, dari Laboraturium Bio industri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selama enam bulan riset yang dilakukan dengan dana yang terbatas dan tidak menggunakan dana hibah ini mereka awali dengan proses mengisolasi bibit jamur.

Proses ini ternyata sangat sulit  karena bibit rawan terkena kontaminasi sehingga untuk membuat bibit yang  berkualitas mereka memerlukan ruangan yang steril yang menggunakan alat laminar air flow. Setelah itu mereka menggabungkan limbah baglog jamur dan  limbah tapioka menjadi  material (agregat atau medium) yang kuat.  Namun pembuatan bahan bangunan belum selesai, material tersebut harus disterilisasi pada suhu 121º C pada tekanan 2 ATM selama 30 menit. Agar steril bebas dari mikroba dan hama jamur.

Kemudian dilakukan inkubasi yang memerlukan waktu yang tak singkat  Proses ini  dilakukan setelah agregat diberi bibit jamur (inokulasi). Diperlukan waktu 1 bulan dengan suhu 30º – 32º C  didalam inkubator sehingga jamur tumbuh menutupi seluruh permukaan medium.

Sebulan kemudian terlihat mycelium yang tumbuh tebal di permukaan. Ini menandakan bahwa medium sudah diikat penuh oleh jamur. Setelah itu media dipadatkan dengan cara ditekan (press) dengan kekuatan 3 – 5 ton/m2. Kemudian dikeringkan agar kandungan air (moisture content) berkurang dari 80% – 0%. Pengeringan ini membuat ikatan jamur semakin lekat, dan massa material menjadi ringan.

Terinspirasi oleh Tempe

Mycotech yang diketuai oleh Adi Reza Nugroho ini terinspirasi dari makanan lokal Indonesia, yaitu tempe yang terbuat dari kedelai yang terfermentasi oleh jamur Rhizopus. Kedelai ini memadat dan saling mengikat satu sama lain dengan bantuan (mycelium) ‘akar’ jamur. Dengan kata lain mycelium putih ini berfungsi sebagai lem pada tempe. Hal ini lah yang membuat  lulusan Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran ini meyakini bahwa jamur bisa menjadi material yang kuat.

Meski brand Mycotech belum familiar di telinga orang Indonesia namun mereka meyakini Mycotech bisa diterima di pasaran Indonesia. Dilihat dari kebutuhan akan bahan material untuk membuat  rumah  di Indonesia cukup tinggi namun belum bisa dipenuhi oleh material lokal.

Padahal jika dilihat dari data jumlah penduduk di Indonesia yang hampir 241 juta jiwa dengan angka pertumbuhan penduduk 1,3 % per tahun. Jumlah rata-rata orang per Kepala Keluarga (KK) lebih kurang 4,3 jiwa.  Menurut Real Estate Indonesia (REI) dengan perhitungan jumlah kebutuhan rumah 241 juta x 1,3% = 4,3 juta. Sehingga setiap tahunnya dibutuhkan 728.604 unit rumah per tahun atau jika dibulatkan menjadi 729 ribu unit rumah pertahun.

Selain itu, data BPS juga menyebutkan jumlah rumah di Indonesia mencapai angka 49,3 juta unit. Dari jumlah itu 3%-nya perlu diperbaiki karena rusak sehingga jumlah rumah yang harus direhabilitasi mencapai 1.479.000 unit berasal dari perhitungan 49,3 juta x 3%.

Sebut saja sekarang jumlah backlog nasional hanya 8 juta unit. Jika diasumsikan angka itu bisa dipenuhi dalam jangka waktu 20 tahun, artinya jumlah backlog pertahun mencapai 400 ribu unit rumah. Sehingga total kebutuhan rumah di Indonesia per tahun = akibat pertumbuhan penduduk + rehabilitasi/ upgradation + backlog = 729.000 unit + 1.479.000 unit + 400.000 unit = 2.608.000 unit rumah per tahun.

Dan diperkirakan untuk memenuhi kebutuhan produksi panel pada rumah yang ada di Indonesia, perputaran uang yang ada memiliki potensi sebesar Rp 39 Triliun per tahunnya. Sehingga Mycotech optimis bisa masuk ke pasaran Indonesia.

Jadi tak usah kaget jika beberapa tahun yang akan datang. Rumah-rumah jamur bukan hanya di negeri dongeng tapi juga ada di negeri kita.

Setelah bootstraping (modal dengan duit para peneliti sendiri), akhirnya Mycotech selama 2016 – 2018 riset akan didanai sekitar Rp 1.3 Milyar dari dana Riset Produktif LPDP kategori ‘Advance Material’ agar riset Adi Reza Nugroho dan teman-teman bisa naik kelas ke tahap komersialisasi dan akan terus berinovasi dengan BPPT dengan skema ‘joint research’

Setelah lulus kuliah para tim peneliti memang nekat usaha jamur Growbox. Dengan pengetahuan yang minim akan jamur ternyata usaha jualan jamur ini menghasilkan. Semakin dalam kami jamur dipelajari, semakin kagum akan manfaat makhluk ini. Paul Stamet, mikologi dari US mengatakan “mushroom can save the world.” Selain enak dimakan sebetulnya jamur bisa dimanfaatkan sebagai bio-remediasi area ‘ex-mining’, bio-etanol, baterai mobil listrik dan material bangunan. Dari literatur ini lah yang menginspirasi untuk mengembangkan teknologi jamur