BAGIKAN
[Roman Klementschitz]

Tikus mondok telanjang ternyata pendengarannya kurang baik. sehingga hampir tidak dapat mendengar suara pekikan yang terus menerus mereka keluarkan. Tapi, kurangnya pendengaran ini, merupakan sifat adaptif yang bisa menguntungkan mereka sendiri. Demikian, menurut sebuah studi terbaru yang telah dipublikasikan di jurnal Current Biology. 

Temuan ini menunjukkan bahwa tikus mondok bisa menjadi model hewan yang baik untuk menyelidiki berbagai gangguan pendengaran pada manusia.

Tikus mondok telanjang adalah hewan sosial yang sering menggunakan suaranya. Hidup dalam suatu koloni di bawah tanah, setiap anggota memiliki perannya masing-masing seperti struktur sosial pada lebah. Diperlukan banyak kerja sama agar koloninya dapat berfungsi. Mulai dari memutuskan lokasi penggalian, cara mempertahankan koloni, dan cara menyampaikan lokasi sumber makanan. Tentu saja semua itu umumnya dilakukan dengan komunikasi vokal.



“Kami penasaran dengan pendengaran mereka karena mereka sangat vokal, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pendengaran mereka sebenarnya cukup buruk,” kata Thomas Park, profesor ilmu biologi dan ilmu saraf dari University of Illinois Chicago dan salah satu penulis utama studi ini.

Bersama dengan rekannya, Park menguji pendengaran tikus mondok menggunakan teknologi yang mirip dengan yang digunakan untuk menguji pendengaran pada manusia. Mereka melakukan tes respons batang otak pendengaran, di mana sebuah elektroda diletakkan pada kulit kepalanya untuk menangkap sinyal yang mengindikasikan suara yang sedang diproses di otak.

Para peneliti menemukan sinyalnya lemah, menandakan bahwa tikus mondok telanjang memiliki pendengaran yang buruk. Faktanya, “pendengaran mereka sangat buruk sehingga mereka akan menjadi kandidat pengguna alat bantu dengar jika mereka adalah manusia,” kata Park.

Setelah melakukan pengujian secara genetika, mereka  menemukan bahwa telah terjadi mutasi genetika yang memicu pendengaran yang buruk pada tikus mondok telanjang. Terdapat enam mutasi pada gen, seperti yang terkait dengan gangguan pendengaran pada manusia. Menurut Park, mutasi ini dipilih karena hal tersebut adaptif dalam beberapa hal.

Para peneliti juga menemukan bahwa tikus mondok telanjang tidak memiliki amplifikasi koklea – rumah siput, sebuah proses di mana sel-sel khusus di telinga bagian dalam, membantu memperkuat sinyal suara sebelum sinyal tersebut dikirim ke otak. Amplifikasi koklea dibantu oleh sel yang disebut sel rambut luar, yang terletak di telinga bagian dalam. Tanpa berfungsinya sel-sel ini, suara menjadi sangat kecil. 



“Jika tikus mondok telanjang tidak mengalami mutasi ini, suara konstan yang mereka hasilkan sebenarnya dapat membunuh sel-sel rambut yang membantu pendengaran,” kata Park.

Sel-sel rambut menerima getaran pendengaran dan mengirimkan sinyalnya pada otak, kemudian diinterpretasikan sebagai suara. Suara yang sangat keras sebenarnya dapat mematikan sel-sel rambut. Sayangnya, sel-sel rambut ini tidak tidak dapat beregenerasi. Park mengatakan inilah mengapa gangguan pendengaran pada kebanyakan mamalia bersifat progresif.

“Karena tikus mondik telanjang amplifikasi kokleanya kurang berfunsi, suara yang didengar tidak pernah mencapai tingkat di mana itu dapat mematikan sel-sel rambutnya, sehingga tikus mondok telanjang dapat menahan hiruk-pikuk yang terus-menerus, tanpa menjadi benar-benar tuli,” Kata Park. “Mereka adalah satu-satunya mamalia yang kita tahu yang tidak memiliki amplifikasi koklea.”