BAGIKAN
(Assaf et al. PLOS One, 2020)

Situs-situs purbakala yang berada di belahan bumi utara masih menyimpan banyak misteri. Disekitar situs yang diperkirakan merupakan lokasi hominin bermukim, seringkali ditemukan batuan berbentuk bola. Para arkeolog memperkirakan bola-bola batu ini berusia hampir dua juta tahun dan mereka menduga memang sengaja dipahat dan dibentuk untuk tujuan tertentu.

Hasil penelitian terbaru memperkirakan nenek moyang manusia menggunakan benda aneh tersebut digunakan untuk menghancurkan tulang belulang hewan untuk mengambil sumsum tulang didalamnya.

Sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh arkeolog Ella Assaf dari Tel-Aviv University di Israel melakukan penelitian pada sepuluh buah batu berbentuk bola yang ditemukan di gua Qesem, situs Paleolitik di bawah bumi yang pernah menjadi lokasi pemukiman manusia purbakala antara 400.000 hingga 200.000 tahun yang lalu.

Penemuan peralatan purbakala ini mengundang keingintahuan para arkeolog, karena berdasarkan periode waktu ketika peralatan tersebut dibuat, pada manusia purba pada masa itu sudah tidak menggunakan peralatan semacam itu lagi.

Tidak hanya mereka menemukan bukti peralatan purbakala yang digunakan untuk mengambil sumsum tulang, tetapi penemuan ini menunjukkan manusia purba pada masa itu telah mengerti bahwa di dalam tulang yang keras bisa ditemukan sumber makanan lezat dan bergizi.

“Sumsum tulang menjadi sumber makanan bergizi di masa Paleolitikum, dan hasil eksperimen kami menunjukkan bahwa morfologi dan karakteristik dari replika bola batu ini sangat cocok dengan alat pemecah tulang untuk diambil sumsumnya.”

Tim peneliti menggunakan dua macam pendekatan dalam mempelajari fungsi dari bola batu ini.

Pertama, mereka melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap 29 buah bola-bola batu purba yang ditemukan di dalam gua. Bola-bola batu tersebut tidaklah berbentuk bulat sempurna, tetapi dipahat dan dibentuk secara kasar.

Diantara bola-bola batu purba tersebut, ada satu buah yang merupakan merupakan batuan dolomite atau limestone alami, ditemukan pada tempat yang terpisah dari batuan lainnya, dan terlihat warna permukaannya berbeda dari peralatan batu yang ditemukan di gua tersebut. Tim peneliti memperkirakan bola batu tersebut berada pada lingkungan berbeda selama beberapa waktu sebelum akhirnya berada pada gua Qesem.

Penemuan ini menarik perhatian para arkeolog, karena konsisten dengan penemuan peralatan purba di gua tersebut. Siapapun yang pernah menghuni lokasi tersebut, mereka memiliki kebiasaan untuk membawa peralatan yang mereka temukan di tempat lain ke tempat tinggal mereka untuk mereka pergunakan. Dengan kata lain mereka melakukan kegiatan daur ulang benda-benda disekitar mereka.

Dari 29 bola-bola batu tersebut, 10 buah diantaranya ditemukan jejak residu dan penggunaan di masa lalu. Tim melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan menggunakan digital microscope dan metallographic microscopy. Mereka menganalisa residu yang ditemukan pada bola-bola batu yang diperkirakan berhubungan dengan fungsinya sebagai alat bantu. Dan apa yang mereka temukan ternyata cukup menarik.

Pada permukaan bola batu yang menonjol tajam, terdapat residu berupa lapisan mengkilap yang juga bergaris. Ditemukan pula residu berupa bintik-bintik tidak beraturan berwarna putih yang konsisten dengan lemak tulang dan serat kolagen yang menempel pada bagian bola batu yang berfungsi sebagai penghancur tulang.

Residu-residu arkeologis yang ditemukan memiliki karakteristik morfologis, penampilan, warna dan distribusi yang kompatibel dengan tulang padat dan lunak, tulang organik, selaput yang mengkilap, serat kolagen dan lemak yang berasal dari hewan. Mereka berkesimpulan bahwa bola-bola batu ini digunakan dalam aktifitas mengambil sumsum tulang.” Demikian para peneliti menuliskan dalam laporannya.

Pada pendekatan kedua, berdasarkan pola lekukan-lekukan dan residu dari bola batu purba tersebut, tim peneliti mencoba membuat replika bola batu dari jenis batu yang berbeda, kemudian mengujicobakannya untuk menghancurkan tulang domba. 

Mereka menemukan bahwa replika bola batu gua Qesem adalah yang paling efisien dalam menghancurkan tulang untuk mengambil sumsum di dalamnya, dan tonjolan tajam di permukaan bola mempermudah proses penghancuran tulang.

Penemuan ini memberi petunjuk bahwa para penghuni gua purba telah cukup cerdas untuk bisa mengetahui bagaimana membentuk peralatan yang efisien untuk membantu mereka dalam mengerjakan sesuatu. Mengapa harus bersusah payah membuat peralatan baru sedangkan sebenarnya bentuk yang sama tersedia di alam?

Kesimpulan ini memiliki korelasi dengan hasil riset sebelumnya yang dipublikasikan tahun lalu. Sebuah tim peneliti yang berbeda menemukan bukti bahwa sumsum tulang merupakan sumber makanan utama bagi homonim yang menghuni gua Qesem. Mereka menyimpan sumsum tulang ini di gua hingga sembilan minggu sebagai persediaan makanan mereka.

Yang menjadi pertanyaan kini, apakah bola-bola batu tersebut pernah digunakan sebelum mereka menghuni gua Qesem? Jawabannya masih menjadi misteri besar yang menunggu untuk diungkap.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam PLOS one.