BAGIKAN
[nattanan23]

Penelitian terbaru yang mengukur pentingnya agama di 109 negara yang mencakup seluruh abad ke-20 telah menghidupkan kembali debat kuno seputar hubungan antara sekularisasi dan pertumbuhan ekonomi. Studi yang dipublikasikan di Science Advances, menunjukkan bahwa penurunan dalam agama mempengaruhi kemakmuran ekonomi masa depan suatu negara.

Meskipun didokumentasikan dengan baik bahwa negara-negara kaya cenderung sekuler sementara negara-negara miskin cenderung beragama, masih belum jelas apakah sekularisasi menyebabkan kekayaan atau sebaliknya?

Subjek ini telah lama diperdebatkan oleh para sarjana klasik ilmu sosial termasuk sosiolog Perancis Emile Durkheim, yang mengklaim bahwa agama memudar setelah perkembangan ekonomi telah memenuhi kebutuhan material kita, sedangkan sosiolog Jerman Max Weber, berpendapat bahwa perubahan dalam agama mendorong produktivitas ekonomi. Perdebatan berlanjut sampai hari ini.

Para peneliti dari Universitas Bristol (Inggris) dan Tennessee (AS) menggunakan data dari kelompok kelahiran dari World Values ​​Survey untuk mendapatkan ukuran pentingnya agama yang mencakup seluruh abad ke-20 (1900-2000).

Temuan itu mengungkapkan bahwa sekularisasi mendahului perkembangan ekonomi dan bukan sebaliknya. Meskipun ini tidak menunjukkan jalur kausal, namun mengesampingkan kebalikannya.

Lebih lanjut, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa sekularisasi hanya memprediksi perkembangan ekonomi masa depan ketika disertai dengan rasa hormat dan toleransi terhadap hak-hak individu. Negara-negara di mana aborsi, perceraian, dan homoseksualitas ditoleransi memiliki peluang lebih besar untuk kemakmuran ekonomi di masa depan.

Damian Ruck, peneliti utama studi di University of Bristol Medical School: Ilmu Kesehatan Populasi , mengatakan: “Temuan kami menunjukkan bahwa sekularisasi mendahului perkembangan ekonomi dan bukan sebaliknya. Namun, kami menduga hubungan tersebut tidak secara langsung kausal. Kami melihat bahwa sekularisasi hanya mengarah pada pembangunan ekonomi ketika disertai dengan rasa hormat yang lebih besar terhadap hak-hak individu.

“Sangat sering sekularisasi memang disertai dengan toleransi yang lebih besar terhadap homoseksualitas, aborsi, perceraian, dll. Tetapi itu tidak berarti bahwa negara-negara beragama tidak bisa menjadi makmur. Lembaga agama perlu menemukan cara mereka sendiri untuk memodernkan dan menghormati hak-hak individu mereka. ”

Alex Bentley dari University of Tennessee , menambahkan: “Selama abad ke-20, perubahan dalam pentingnya praktik keagamaan tampaknya telah memprediksi perubahan dalam PDB –salah satu metode untuk menghitung pendapatan negara– di seluruh dunia. Ini tidak berarti bahwa sekularisasi menyebabkan pembangunan ekonomi, karena perubahan keduanya bisa disebabkan oleh beberapa faktor ketiga dengan jeda waktu yang berbeda, tetapi setidaknya kita bisa mengesampingkan pertumbuhan ekonomi sebagai penyebab sekularisasi di masa lalu.”