BAGIKAN

Salah satu spesies siput yang bernasib naas dapat terjangkit parasit. Membuatnya tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia merayap menuju tempat yang bukan keinginannya sendiri layaknya zombie.

Penyebabnya adalah Leucochloridium, cacing parasit yang menyerang mata siput. Ia akan berdenyut-denyut meniru ulat dan menggoda setipa burung yang kelaparan. Dalam biologi dikenal dengan mimikri agresif. Saat organisme yang berpura-pura menjadi makhluk lain untuk memancing mangsanya atau membiarkan dirinya dimangsa. Meski sebenernya ini bukan sebuah ketulusan, evolusi telah membentuk jalur kehidupan yang rumit agar spesies tetap bertahan.

Cacing itu kemudian mengendalikannya dari tempat terbuka sehingga burung lapar bisa mencabut mata siput – yang percis ulat. Lalu cacing berkembang biak dalam usus burung. Melepaskan telurnya bersama dengan kotoran, yang dengan senang hati dimakan oleh siput lain untuk menyelesaikan keseluruhan siklus kehidupan yang aneh.



Ini adalah eksistensi hebat sekaligus absurd. Tapi sementara sains telah mengetahui tentang Leucochloridium selama lebih dari satu abad, baru pada 2013, ahli biologi Tomasz Wesołowski dari Universitas Wrocław Polandia mengkonfirmasi bahwa cacing tersebut memang mampu memanipulasi siput sebagai inangnya.

(Khususnya, untuk spesies amber snail – seperti kebanyakan parasit pengendali pikiran lainnya, spesies ini sangat spesifik. Ia tidak mampu memanipulasi perilaku lebih dari satu spesies.)

[Sketsa Leucochloridium. yang akan mengarah kembali ke sporocyst di hati siput. Wikimedia]
Di dalam siput, Wesołowski mengatakan, seluruh pertunjukan besar dimulai saat telur yang tertelan berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai sporokista, “yang tampak terlihat seperti sekumpulan jaringan berwarna putih, kebanyakannya berada di hati siput. Lalu tumbuh kurang lebih seperti tumor.”

Cacing parasit ini tidak memiliki mulut. Sebagaimana kebanyakan cacing parasit, seperti cacing bulu kuda yang menginfeksi dan mengendalikan pikiran jangkrik. Parasit ini hanya berdiam diri sambil menyerap sebisanya nutrisi siput melalui kulitnya.

Seolah-olah itu belumlah cukup untuk memberikan siksaan. Parasit Leucochloridium juga mengebiri inangnya. Hal ini memberikan pengertian evolusioner yang masuk akal. Energi yang biasanya dihabiskan untuk memproduksi telur dan sperma (siput adalah hermaprodit) lebih ditujukan untuk mempertahankan cacing.



Dengan ditenagai sepenuhnya oleh nutrisi yang dibutuhkan, sporocyst ini bercabang melalui terowongan tubuh siput dan menuju ke lubang mata. Dikenal juga sebagai tentakel, di mana ia membentuk sebuah kantung induk yang dipenuhi tubuh larva. Inilah larva yang akhirnya berdisko ria seolah menandai sebuah kemenangan.

Sekarang, ada baiknya berbicara sebentar tentang fisiologi  ‘kacamata’ siput. Di ujung tentakel terdapat mata yang sederhana, yang hanya benar-benar berfungsi untuk membedakan terang dan gelap saja.

Siput tidak bisa melihat warna. Mata yang berada di ujung tenrakel tidak memiliki otot-otot yang diperlukan untuk membuatnya fokus. Tapi apa yang dimiliki siput adalah otot yang dapat menarik tentakel, yang kemudian bisa dipindah-pindahkan dengan memompanya penuh cairan.

Setelah dikuasai parasit, ini sangat membengkakkan tentakel. Siput tidak mampu melepaskan parasitnya lagi. Jadi, sang inang dibiarkan dengan mata berisi larva besar yang tampak lezat bagi burung Passerine.

Di sisi lain, cacing sebenarnya memiliki masalah. Siput sebagian besar adalah hewan nokturnal yang hanya giat di malam hari. Sementara burung-burung yang berkeliaran, yang berburu dengan penglihatan, pastinya muncul hanya di siang hari. Jadi setelah Leucochloridiumcukup berkembang di dalam tentakel, ia mulai memanipulasi perilaku inangnya. Memaksanya keluar menuju bahaya cahaya terang siang hari, di mana predator berkerumun dan matahari dengan cepatnya dapat mengeringkannya.



Penyebab perilakunya, mungkin dengan menggunakan sejenis bahan kimia. Tapi bagaimana cara mendapatkan hasil yang luar biasa ini, tetap menjadi misteri. Begitu pula rahasia bahan kimia dari sejumlah parasit zombifikasi lainnya. Walaupun para ilmuwan membuat kemajuan dalam memecahkan kode senyawa yang digunakan jamur Ophiocordyceps untuk mengendalikan semut.

Jadi sangat aneh cacing Leucochloridium mengatahui secara pasti perbedaan antara siang dan malam. “Apa yang paling menakjubkan adalah bahwa kantung induk ini berdenyut-denyut hanya di siang hari,” kata Wesołowski.

“Mereka tidak memiliki sesuatu yang fotosensitif – tidak ada jejak pendeteksi cahaya, katakanlah, sistem saraf apa pun, tidak ada organ indra. Tidak ada. Tapi mereka masih mengetahui kapan saat yang layak untuk berdenyut dan kapan layaknya untuk terdiam. Jadi itu sangat-sangat tidak biasa. Tidak ada yang tahu bagaimana cara pencapaiannya.”

Wesołowski juga menemukan siput yang telah terinfeksi sampai tiga kali, lebih aktif dari kerabatnya yang tidak berimigrasi: Dia bahkan mengamati satu perjalanan sepanjang 1 meter penuh ditempuh hanya dalam 15 menit – termasuk cepat untuk seekor siput yang sering dikalahkan oleh kancil.

Itu mungkin tidak terdengar mengesankan, tapi “untuk siput, itu bagai sebuah perlombaan balap,” katanya. Selain itu, ia menemukan bahwa cacing tersebut meyakinkan inang mereka untuk tinggal “di bagian atas tanaman dan tempat-tempat yang lebih tinggi. Jadi semua kombinasi ini membuat mereka lebih mudah ditemukan oleh burung yang mencari makan.”
Dan saat perhitungannya tiba, siput itu berakhir dengan matanya yang dipelatuk oleh burung. Tapi karena burung biasanya tidak mengejar siput – hanya saat bola matanya terlihat seperti ulat – burung akan lepas landas tanpa memakan sisa tubuh siput. Jika bekas luka itu pecah dengan sendirinya, ulat palsu akan jatuh di daun dan berdenyut-denyut untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengering. Cacing itu benar-benar ingin dimakan.

Untungnya, atau mungkin mengerikan, siput tidak hanya aklan mampu bertahan. Tapi juga akan menumbuhkan kembali tentakel dan mata yang telah lenyap dan mendapatkan kembali kemampuannya untuk bereproduksi. Itu sebenarnya cukup bermanfaat untuk spesies parasit ini. Karena, siput yang telah terluka akhirnya menjadi inang potensial bagi parasit lain. Dan mampu mereproduksi lebih banyak lagi inang potensial.

Jadi siklusnya dimulai lagi saat cacing tumbuh dan bereproduksi di dalam usus burung. Anehnya, Leucochloridium dan cacing trematoda lainnya (yang semuanya parasit, meski belum tentu zombifier) sepertinya sudah tahu bagaimana melewatkan satu langkah.

Mereka termasuk dalam filum cacing pipih, yang anggotanya biasanya melalui dua inang perantara dalam perjalanan menuju tuan rumah utama mereka, menurut Wesołowski – bekas Leucochloridium yang menjadi siput dan yang terakhir adalah burung itu.




Cacing usus Metagonimus yokogawai, misalnya, berawal di siput yang dimakan ikan, lalu ikan di konsumsi, yang jika tidak dimasak dengan baik oleh manusia cacing akan bercokol di usus.

Kabar lainnya, lebih dari separuh makhluk di Bumi memiliki parasit. Jadi kita sebagai manusia, menjadi minoritas di kerajaan hewan.