BAGIKAN
[Matthieu Paley / National Geographic]

Masyarakat Hadza di Tanzania setidaknya bisa mewakili bagaimana masyarakat purba ketika hidup sekitar 10.000 tahun yang lalu. Mereka masih berperilaku layaknya masyarakat pemburu-pengumpul, sesaat sebelum manusia mengenal pertanian, peternakan, hewan-hewan yang dipelihara dan tinggal menetap membentuk suatu komunitas hingga tercipta peradaban yang lebih maju.

Seorang antropolog Herman Pontzer telah menghabiskan satu dekade terakhir dari waktunya untuk mempelajari kesehatan dan fisiologi masyarakat Hadza, menemukan bahwa meski kehidupan masyarakat Hadza tidak pernah berubah sejak ribuan tahun yang lalu namun kesehatan dan kebugaran mereka menakjubkan.

Saat orang-orang di berbagai negara maju berlomba-lomba menjaga kebugaran dengan latihan fisik yang intens, orang-orang Hadza bahkan mungkin tidak pernah memiliki resolusi setiap akhir tahun untuk mengecilkan perutnya.

Layaknya masyarakat pemburu-pengumpul, orang-orang Hadza menempuh perjalanan yang bisa mencapai 6 hingga 10 km dalam sehari. Untuk memenuhi kebutuhan pangannya, mereka berburu hewan buruan seperti zebra, jerapah, dan impala menggunakan panah beracun. Mereka juga mengambil madu, menggali umbi-umbian, memetik buah beri, atau mengambil air dan kayu bakar.

“Mereka tidak lari,” kata Pontzer, tentu saja, kecuali, “seseorang melompat keluar dari semak-semak ke arah mereka.” Tetapi cukup berjalan terus menerus, hanya sesekali diselingi istirahat di tengah hari untuk menghindari teriknya panas, kata Pontzer.

Wanita pergi berkelompok, bersama dengan anak-anak di bawah usia 2 tahun, yang biasanya terbungkus nyaman di punggung ibunya. Tugas yang lebih sulit adalah menggali tanah yang keras dan berbatu menggunakan tongkat tajam untuk mengumpulkan umbi-umbian, yang merupakan makanan pokok mereka. Di mana dengan latihan fisik untuk tubuh bagian atas bisa memakan waktu berjam-jam, kata Pontze

Hal yang sama berlaku untuk anak-anak Hadza. Begitu balita cukup besar yang telah melewati mencari makan bersama ibunya, mereka bergabung dengan gerombolan anak-anak yang pada dasarnya hanya berlarian sepanjang hari, kata Pontzer. Selain beberapa kesempatan terbatas untuk pergi ke sekolah, “seorang anak Hadza tidak pernah menghabiskan hari di dalam ruangan, karena tidak ada ruangan,” katanya.

“Hadza mendapatkan lebih banyak aktivitas dalam sehari daripada standar orang Amerika dalam seminggu,” kata Pontzer.

Hasilnya, orang-orang Hadza menikmati kesehatan yang luar biasa. Obesitas jarang terjadi. Penyakit jantung dan diabetes hampir tidak pernah terjadi. Garis pinggang mereka tidak membesar, tekanan darah mereka juga tidak merayap seiring bertambahnya usia. Orang dewasa bisa mencapai usia 60-an, 70-an, bahkan 80-an, tanpa perlu perlakuan khusus.

Dalam salah satu studi mereka, Pontzer dan rekannya mengukur pengeluaran energi harian untuk 46 pria dan wanita Hadza menggunakan metode “berlabel ganda”. Setelah mereka minum air khusus berlabel isotop oksigen dan hidrogen, tes urine menunjukkan kepada para ilmuwan bahwa kalori mereka terbakar per hari.

[Andreas Lederer via Wikimedia Commons]
Yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa masyarakat Hadza tidak membakar lebih banyak kalori daripada rata-rata orang dewasa di negara-negara maju. Pria Hadza membakar sekitar 2.500 kalori sehari, dan wanitanya 1.900 kalori.

Bagi Pontzer, ini berarti bahwa tubuh manusia tampaknya menyesuaikan diri dengan aktivitas fisik dengan menyimpan kalori pada proses fisiologis lainnya untuk menjaga pengeluaran energi total tetap terkendali.

Menurut Charlie Foster dari University of Oxford yang mengatakan di NPR jika studi Hadza ini sangat relevan. Dalam arti tertentu, katanya, semua manusia masih pemburu-pengumpul. “Kita pandai mengumpulkan makanan kapan saja sebisa kita. Kita hanya tidak perlu memperolehnya terlamapau jauh, dalam jarak 100 meter dari pintu depan rumah, Anda mungkin sudah bisa membeli kopi.” kata Foster.

Ini tidak berarti bahwa naik tangga atau parkir jauh dari kantor adalah buang-buang waktu, kata Pontzer. Sejumlah penelitian menunjukkan olahraga mengurangi risiko kanker, penyakit jantung, dan demensia; mengurangi stres dan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur.

Jadi berolahraga tetap bagus. Hanya saja tidak akan membantu Anda menurunkan berat badan sebesar 7 kilogram dengan sendirinya. Apa yang membuat kita gemuk, menurut data, adalah makan terlalu banyak dibandingkan pergerakan yang terlalu sedikit.

“Bertolak belakang dengan para pecetus pola makan Paleo [dikenal dengan nama pola makan manusia purba (caveman diet) adalah diet yang mengadaptasi kebiasaan makan nenek moyang pada zaman dulu], pemburu-pengumpul makan banyak makanan yang kaya tepung, gula, kaya karbohidrat: umbi-umbian, madu, dan bahkan biji-bijian,” kata Pontzer.

Wawasan penting dari karyanya adalah bahwa manusia dapat tetap sehat sambil makan berbagai diet. Tidak ada satu pun makanan manusia yang “alami” yang harus kita cita-citakan.

Dalam sebuah artikel ulasan baru-baru ini, Pontzer dan rekannya menunjukkan bahwa penelitian yang telah dilakukan terhadap lebih dari 250 populasi pemburu-pengumpul di seluruh dunia menunjukkan, bahwa mereka memiliki kesehatan metabolisme yang sangat baik meskipun memakan daging, tanaman dan makanan lain yang sangat beragam. Nenek moyang kita juga memiliki diet beragam tergantung pada musim, iklim, dan tempat mereka tinggal.

SUMBERDuke University
BAGIKAN