BAGIKAN
Jerem Leach, Proyek DHSC

Bagi sebagian besar dari sejarah manusia di Australia, permukaan lautnya jauh lebih rendah daripada saat ini, dan ada sebagaian daratan kering di mana orang bisa tinggal di sana.

Para arkeolog hanya bisa berspekulasi tentang bagaimana orang-orang menggunakan daratan yang saat ini telah tenggelam, dan apakah terdapat jejak-jejak yang masih tersisa hingga hari ini.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE, kami melaporkan situs arkeologi Aborigin kuno pertama yang ditemukan di dasar laut, di perairan Australia Barat.

Banjir besar

Ketika orang pertama kali tiba di Australia pada 65.000 tahun yang lalu, permukaan lautnya saat itu sekitar 80 meter lebih rendah dari hari ini.

Permukaan laut berfluktuasi tetapi semakin menurun ketika iklim global bertambah dingin. Ketika dunia sampai pada akhir zaman es, yang memuncak sekitar 20.000 tahun yang lalu, permukaan lautnya turun hingga 130 meter lebih rendah dari sekarang.

Antara 18.000 hingga 8.000 tahun yang lalu dunia menghangat. Lapisan es yang mencair menyebabkan permukaan laut kembali naik. Tasmania terputus dari daratan sekitar 11.000 tahun yang lalu. Papua dipisahkan dari Australia sekitar 8.000 tahun yang lalu.




Kenaikan permukaan laut membanjiri 2,12 juta kilometer persegi tanah di landasan benua yang mengelilingi Australia. Ribuan generasi manusia akan menjalani kehidupan mereka di lanskap ini, yang sekarang berada di bawah air.

Bentang alam di bawah air

Selama empat tahun terakhir, tim arkeolog, spesialis seni cadas, ahli geomorfologi, ahli geologi, pilot spesialis, dan penyelam ilmiah di Proyek Sejarah Negara Laut yang didanai Dewan Riset Australia telah bekerja sama dengan Perusahaan Aborigin Murujuga untuk menemukan dan merekam situs arkeologi yang terendam di lepas pantai Pilbara di WA.

Lokasi penemuan di barat laut Australia (kiri) dan Kepulauan Dampier (kanan).  Copernicus Sentinel Data and Geoscience Australia

Kami mempelajari bagan navigasi, peta geologi, dan situs arkeologi yang terletak di daratan untuk mempersempit area-area prospektif sebelum mensurvei dasar laut menggunakan pemindai laser yang dipasang pada pesawat kecil dan sonar beresolusi tinggi yang ditarik di belakang kapal .

Pada tahap akhir penelitian, tim penyelam ilmiah kami melakukan survei arkeologi bawah laut untuk memeriksa, mencatat, dan menelaah dasar laut secara fisik.

Kami menemukan dua situs arkeologi bawah laut di Kepulauan Dampier.

Yang pertama, di Cape Bruguieres, terdiri dari ratusan artefak batuan – termasuk muller dan batu gerinda – di dasar laut pada kedalaman hingga 2,4 m.

Sejumlah artefak batu ditemukan di dasar laut. (John McCarthy, Chelsea Wiseman)

Di situs kedua, di Flying Foam Passage, kami menemukan jejak aktivitas manusia yang terkait dengan mata air tawar yang terendam, 14 meter di bawah permukaan laut, termasuk setidaknya satu alat pemotong batu yang dikonfirmasi terbuat dari bahan yang bersumber dari area setempat.

Data lingkungan dan tanggal radiokarbon menunjukkan bahwa situs-situs ini pastilah lebih tua dari 7.000 tahun ketika tenggelam oleh naiknya permukaan laut.

Studi kami menunjukkan situs arkeologi ada di dasar laut di Australia dengan barang-barang milik orang-orang kuno tidak terganggu selama ribuan tahun.
Di Murujuga (juga dikenal sebagai Semenanjung Burrup) ini menambah bukti yang sudah kita miliki tentang aktivitas manusia dan pembuatan karya seni cadas di tempat Warisan Nasional yang penting ini.

Alat batu yang terkait dengan mata air tawar, sekarang 14 meter di bawah air.(Hiro Yoshida and Katarina Jerbić, DHSC Project)

Arkeologi bawah laut penting

Alat-alat batu yang tenggelam ditemukan di Murujuga membuat kita memikirkan kembali apa yang kita ketahui tentang masa lalu.

Pengetahuan kita tentang zaman kuno di Australia berasal dari berbagai situs arkeologi di daratan dan dari sejarah lisan Pribumi. Tetapi orang-orang pertama yang datang ke pantai Australia adalah orang-orang pantai yang berlayar dengan perahu melintasi pulau-pulau di Indonesia timur.

Orang-orang Australia awal terjadi di tanah yang sekarang di bawah air. Untuk sepenuhnya memahami pertanyaan-pertanyaan kunci dalam sejarah manusia, setua mereka, para peneliti harus beralih ke arkeologi dan ilmu kelautan.

Melindungi warisan terendam yang tak ternilai

Situs arkeologi yang terendam berada dalam bahaya kehancuran oleh erosi dan dari kegiatan pembangunan, seperti instalasi minyak dan gas, pipa, pengembangan pelabuhan, pengerukan, pembuangan sampah dan penangkapan ikan industri.




Perlindungan situs budaya bawah laut yang berusia lebih dari 100 tahun diabadikan oleh Konvensi UNESCO tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air (2001), yang diadopsi sebagai undang-undang oleh lebih dari 60 negara tetapi tidak diratifikasi oleh Australia.

Di Australia, undang-undang federal yang melindungi warisan budaya bawah laut di perairan Persemakmuran baru-baru ini telah dimodernisasi dengan Historic Shipwreck Act Act (1976) ditinjau dan dilabeli kembali sebagai Undang-Undang Warisan Budaya Bawah Air Australia (2018), yang mulai berlaku pada Juli 2019.

Undang-undang baru ini gagal untuk secara otomatis melindungi semua jenis situs dan memberi hak istimewa perlindungan terhadap warisan non-Pribumi yang terendam. Misalnya, semua bangkai kapal yang berumur lebih dari 75 tahun dan pesawat yang tenggelam di perairan Persemakmuran Australia diberi perlindungan otomatis.

Jenis situs lainnya, tanpa memandang usia dan termasuk situs Aborigin dan Torres Strait Islander, dapat terlindungi tetapi hanya dengan persetujuan menteri.

Ada ruang bagi negara bagian dan teritori untuk melindungi warisan Pribumi yang tenggelam berdasarkan hukum yang ada, tetapi para pembuat kebijakan secara konvensional hanya mengelola warisan bawah laut dari periode sejarah yang lebih baru.

Dengan temuan kami yang mengkonfirmasi bahwa situs-situs adat kuno dapat terlestarikan di bawah air, kami membutuhkan para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan kembali pendekatan untuk melindungi warisan budaya bawah laut di Australia.

Kami yakin masih banyak situs yang terendam lainnya yang akan ditemukan di tahun-tahun mendatang. Ini akan menantang pemahaman kita saat ini dan mengarah pada sebuah alur cerita yang lebih lengkap tentang masa lalu manusia kita, sehingga membutuhkan perlindungan kita sekarang.


Jonathan Benjamin, Associate Professor in Maritime Archaeology, Flinders University and ARC Centre of Excellence for Australian Biodiversity and Heritage, Flinders UniversityGeoff Bailey, Emeritus Professor of Archaeology, University of YorkJo McDonald, Director, Centre for Rock Art Research + Management, University of Western AustraliaMichael O’Leary, Senior Lecturer in Climate Geoscience, University of Western Australia, and Sean Ulm, Deputy Director, ARC Centre of Excellence for Australian Biodiversity and Heritage, James Cook University

The Conversation




BAGIKAN