BAGIKAN
(Adobe stock)

Para peneliti menemukan spesies baru dari pterosaurus, berdasarkan analisisnya terhadap fosil kerangka berusia sekitar 110 juta tahun. Reptil yang mampu terbang ini, diperkirakan memiliki sayap hingga selebar 7 meter. Paruhnya yang besar, dipenuhi oleh sederetan gigi runcing yang mengerikan.

Fosil itu ditemukan di Queensland Barat Daya. Merupakan sisa-sisa dari hewan yang dinamai sebagai Thapunngaka shawi. Ia adalah spesies pterosaurus terbesar yang pernah ditemukan di benua Australia. Di era dinosaurus, mungkin hewan ini akan selalu mengawasi mangsanya dari udara di tepi Laut Eromanga yang sudah tidak ada lagi.

“Ini adalah sesuatu yang paling mirip dengan naga di kehidupan nyata yang kita miliki,” kata ahli paleontologi Tim Richards dari University of Queensland di Australia, dalam sebuah pernyataan.

“Ia akan menjadi binatang yang menakutkan, dengan mulut seperti tombak dan lebar sayap sekitar tujuh meter. Pada dasarnya ia hanya tengkorak yang memilki leher panjang, yang direkatkan pada sepasang sayap yang membentang.”

Sisa-sisa Pterosaurus di Australia sangat langka. Sebagaimana kebanyakan burung pada umumnya, tulang mereka berongga dan rapuh karena dirancang untuk memudahkan penerbangannya. Dengan demikian sangat sedikit yang mampu bertahan hingga hari ini. Kurang dari 20 spesimen telah dideskripsikan dari benua itu, dan hanya tiga yang telah diberi nama sebelum T. shawi.

Selain itu, hanya dua pterosaurus Australia yang termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai pterosaurus anhanguerian, keduanya berasal dari negara bagian Queensland di timur laut.  T. shawi menandai anhanguerian ketiga yang berasal dari Australia yang juga dari Queensland.

Dengan tengkoraknya sepanjang satu meter dengan sekitar 40 gigi, diperkirakan ia tidak hanya memakan ikan di lautan, tapi juga hewan kecil di daratan. Saat ia terbang di udara, bayangannya akan menaungi dinosaurus kecil yang gemetaran, yang tidak akan menyadari kemunculannya sampai semuanya terlambat, kata Richards.

 

 

Credit: Tim Richards.

Fosil bagian depan rahang bawahnya ditemukan oleh seorang pemburu fosil amatir bernama Len Shaw di sebuah tambang dekat Richmond. Nama Shaw ini yang akhirnya mendasari atas penamaan makhluk itu. Lalu menggabungkan kata-kata dari bahasa orang-orang Bangsa Wanamara yang mendiami wilayah tersebut.

“Nama genus, Thapunngaka, menggabungkan thapun dan ngaka, kata Wanamara untuk ‘tombak’ dan ‘mulut’, masing-masing,” kata ahli paleontologi Steve Salisbury dari University of Queensland.

Sebagian besar kerangka tidak dapat ditemukan, termasuk rahang atasnya. Potongan yang ditemukan dibedakan oleh bagian jambul yang sangat besar. Mungkin itu memainkan peran dalam dinamika penerbangan makhluk-makhluk ini, kata Salisbury.

 

 

Credit: Tim Richards.

Dari jambul inilah para peneliti memperkirakan ukuran pterosaurus itu, kata mereka, puncak mandibula terbesar yang diketahui dari semua anhanguerian. Jika perkiraan mereka benar, T. shawi akan menjadi pterosaurus anhanguerian terbesar ketiga yang dikenal di seluruh dunia.

Ini menunjukkan bahwa pterosaurus Australia menyaingi spesies sezaman dari benua lain dalam hal ukuran. Selain itu, kesamaan anatomi antara tulang rahang T. shawi dan pterosaurus Australia lainnya menunjukkan bahwa mungkin ada diversifikasi spesies pterosaurus lokal di sekitar laut Eromanga.

“Sungguh menakjubkan fosil hewan ini ada sama sekali,” kata Richards.

“Dengan standar dunia, catatan pterosaurus Australia buruk, tetapi penemuan Thapunngaka berkontribusi besar pada pemahaman kita tentang keragaman pterosaurus Australia.”

Penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of Vertebrate Paleontology.