BAGIKAN
(Credit: flickr/pawl_Manchess)

Pada masa transisi dari zaman Pleistosen (atau zaman es; 2,58 juta hingga 11.700 tahun lalu) menuju zaman Holosen (11.700 tahun lalu hingga sekarang), suhu permukaan bumi mengalami perubahan besar.

Di periode fluktuatif ini, es di kutub mulai mencair dan level permukaan air laut meningkat.

Hasilnya, pulau-pulau di Wallacea – daerah perairan di Indonesia bagian tengah – semakin mengecil dan terisolasi. Area ini juga mengalami perubahan vegetasi yang memaksa manusia di sana untuk lebih beradaptasi dengan sumber daya makanan yang tersedia.

Keunikan geografi prasejarah ini membuat kepulauan Wallacea sangat cocok untuk diteliti terkait pola hidup manusia prasejarah dalam beradaptasi setelah berakhirnya zaman es.

Pada bulan September dan Oktober 2015, tim kami yang terdiri dari peneliti Indonesia dan Australia melakukan penggalian di Gua Here Sorot Entapa di Pulau Kisar – suatu pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang kaya akan jejak peninggalan manusia prasejarah – khususnya untuk mempelajari perubahan pola konsumsi manusia akibat perubahan iklim.

Peta yang menunjukkan lokasi Pulau Kisar. Warna abu-abu merupakan luas daratan yang timbul ketika masa Pleistosen.

Ketika iklim tiba-tiba mendingin di Indonesia

Manusia mulai menghuni Gua Here Sorot Entapa 15.000 tahun yang lalu ketika level air laut meningkat setelah berakhirnya puncak zaman es. Fenomena iklim tersebut diperkirakan mendorong tumbuh suburnya kehidupan pesisir dan meningkatnya intensitas hunian di banyak situs prasejarah di Wallacea.

Pada awal periode tersebut, manusia penghuni Here Sorot Entapa dominan mengkonsumsi ikan, penyu, kerang, kepiting, dan bulu babi.

Tiba-tiba, perubahan iklim secara drastis terjadi selama tahap akhir masa pencairan es, atau disebut periode Bølling-Allerød pada 14.500-12.800 tahun lalu, mengakibatkan meningkatnya intensitas hunian di Gua Here Sorot Entapa.

Ketika itu, daerah sekitar Kepulauan Sunda Kecil termasuk Kisar justru menunjukkan pendinginan bahkan saat es di belahan bumi utara mencair.

Kombinasi kedua peristiwa di atas membuat iklim di Wallacea menjadi dingin, namun level air laut terus meningkat karena penghangatan di belahan bumi utara.

Kami menemukan banyak kail terbuat dari kerang pada era tersebut yang mendukung kemungkinan bahwa mereka semakin sering pergi berburu ikan hingga ke perairan laut dalam.

Pada periode ini, manusia di Pulau Kisar juga menambahkan menu konsumsinya dengan hewan darat terutama reptil seperti ular dan kadal.

Hewan-hewan tersebut dapat berkembang-biak dengan baik karena memiliki kemampuan bertahan pada kondisi iklim yang dingin.

Lalu perlahan menghangat kembali

Kemudian, pada 12.800-9.500 ribu tahun yang lalu, intensitas penghunian di Gua Here Sorot Entapa semakin berkurang, hingga akhirnya ditinggalkan selama sekitar 3.000 tahun.

Periode hunian ini bertepatan dengan masa Younger Dryas, peristiwa turbulensi iklim di Eropa di mana sebelumnya iklim mulai menghangat namun tiba-tiba kembali dingin selama beberapa ratus tahun.

Namun lagi-lagi di sekitar ekuator, yang terjadi adalah sebaliknya. Selama Younger Dryas, kondisi iklim di sekitar khatulistiwa justru menghangat.

Situasi tersebut – di mana suhu menjadi semakin panas, padahal level air laut berhenti meningkat – kemungkinan menyebabkan penghuni Here Sorot Entapa pergi, berpindah ke pulau yang memiliki lebih banyak sumber daya untuk bertahan hidup.

Selama masa minim hunian ini, penggalian fosil kami menunjukkan bahwa intensitas perburuan hewan laut menurun, sedangkan hewan darat meningkat.

Hewan darat yang sebelumnya didominasi ular yang tergolong sebagai reptil, kini juga didominasi tikus yang masuk dalam kelompok mamalia.

Berbagai studi arkeologi dan paleontologi menunjukkan bahwa populasi tikus bertambah banyak seiring meningkatnya aktivitas transportasi antar pulau, bercocok tanam, dan pembersihan lahan di awal masa Holosen.

Populasi tikus kemungkinan besar meningkat di Pulau Kisar karena terbawa kapal dari pulau lain.

Tim Indonesia-Australia melakukan penggalian di Gua Here Sorot Entapa, Pulau Kisar.

Menuju kestabilan iklim Holosen

Berdasarkan data arkeologi kami, Gua Here Sorot Entapa kembali dihuni pada 5.000-1.600 tahun yang lalu.

Pada masa ini, iklim perlahan menjadi stabil – karena berakhirnya proses pencairan es akibat iklim yang menghangat – hingga pada keadaan yang serupa dengan masa sekarang.

Idealnya iklim ini membuat manusia mulai semakin dapat mengembangkan teknologi bercocok tanam dan berternak. Mereka juga mulai hidup lebih berkelompok dan membangun komunitas yang lebih besar.

Hal ini didukung dengan ditemukannya pecahan tembikar dan sisa arang yang tinggi yang berasal dari pertengahan masa Holosen, yaitu sekitar 4.000 tahun lalu. Penemuan ini mengindikasikan awal berkembangnya teknologi dalam mengolah dan menyimpan makanan.

Belajar dari masa lalu untuk mempersiapkan masa depan

Dengan ilmu arkeologi dan paleontologi, kita dapat mempelajari bagaimana lingkungan berperan sebagai faktor sentral dalam perkembangan peradaban manusia.

Memahami masa lalu bisa membantu kita mengetahui posisi kita dalam peradaban umat manusia. Manusia telah mampu bertahan hidup melewati berbagai perubahan iklim yang terjadi di muka bumi dengan memanfaatkan sumber daya di sekitarnya.

Pemanasan global yang terjadi belakangan ini merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan saksama. Kebakaran hutan, banjir, dan kondisi cuaca yang fluktuatif semakin rentan terjadi.

Oleh karena itu, kita dituntut untuk lebih baik dalam mengelola alam. Seluruh lapisan masyarakat sepatutnya dapat memenuhi kebutuhan energi, pangan, dan air bersih dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Komunitas awal Pulau Kisar telah menunjukkan daya tahan dan adaptabilitas yang menakjubkan dari spesies kita. Kita memiliki kapasitas untuk mengatasi perubahan di depan mata – rekaman sejarah kita telah membuktikannya.

Kita adalah ‘manusia bijak’ atau ‘Homo sapiensHomo sapiens’, dalam bahasa latin. Maka kita harus terus bersikap bijak, atau masa kita di bumi harus berakhir.


The Conversation

Hendri Kaharudin, Higher Degree Research Candidate, Australian National University dan Shimona Kealy, Postdoctoral Researcher, College of Asia & the Pacific, Australian National University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.