BAGIKAN
Medakit Ltd/Unsplash

Rapid test massal COVID-19 yang khusus dilakukan pada orang-orang yang tidak menunjukkan gejala terjadinya infeksi, diperkirakan dapat mengakhiri pandemi ini dalam enam minggu.  Demikian menurut hasil sebuah penelitian terbaru. Dilakukan oleh para peneliti dari Harvard TH chan School of Public Health dan University of Colorado Boulder.

Rapid test antibodi

Rapid test COVID-19 adalah salah satu metode pendeteksian antibodi di dalam darah. Yaitu IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona. Antibodi ini akan terbentuk di dalam tubuh ketika kita terpapar virus corona.

Ketika zat antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang, maka bisa diartikan bahwa orang tersebut sebelumnya pernah terpapar. Atau, dimasuki oleh virus corona. Dan yang perlu kita ketahui, pembentukan antibodi ini memerlukan waktu sampai beberapa minggu. 

Hal ini yang menyebabkan keakuratan dari rapid test antibodi ini sangat rendah. Bahkan dari hasil berbagai penelitian, diketahui bahwa tingkat keakuratan dari rapid test ini hanya sekitar 18 persen. Artinya, jika 100 orang mendapatkan hasil negatif dari rapid test, maka hanya 18 orang saja yang benar-benar tidak terinfeksi virus. Sementara 82 orang lainnya mungkin saja telah terpapar virus, namun tidak terdeteksi oleh pengujian ini.

Selain rapid test antibodi, telah dikembangkan pula rapid test yang mendeteksi antigen. Atau, protein yang membentuk virus SARS-coV-2, virus penyebab COVID-19. Metode ini lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi. Namun, hanya pada orang-orang yang memiliki jumlah virus yang tinggi di dalam tubuhnya. Tingkat keakuratan tes ini sekitar 30 persen. Sejauh ini, tes ini direkomendasikan untuk dijadikan skrining awal sebelum dilakukan tes seka PCR (polymerase chain reaction) yang lebih akurat.

Melansir Business Insider, laporan penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sciences Advances. Mengungkapkan bahwa rapid test COVID-19, walaupun hasilnya kurang akurat, memungkinkan otoritas kesehatan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan yang lebih bertarget. Dibandingkan dengan melakukan lockdown ekonomi secara luas, jika dilakukan dalam skala yang besar.

Rapid test tidak memerlukan biaya yang mahal dan dapat memberikan hasil dalam hitungan menit. Jika dibandingkan dengan tes PCR yang memerlukan beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya. Dan jika setengah dari populasi di Amerika Serikat melakukan tes ini setiap minggunya, dengan konsekuensi mereka yang hasilnya tesnya positif harus melakukan isolasi, dampaknya akan sangat besar, demikian para peneliti mengatakan.

Perlunya hasil tes yang cepat

“Gambaran besar dari hasil penelitian ini adalah, dalam konteks kesehatan publik, lebih baik melakukan tes dengan alat tes yang kurang sensitif tetapi hasilnya dapat diketahui hari itu juga. Dibandingkan dengan melakukan tes dengan alat yang akurat, tetapi hasilnya baru bisa diketahui keesokan harinya,” kata Daniel Larrimore, seorang profesor ilmuwan komputer di University of Colorado Boulder yang juga penulis utama dari hasil penelitian ini.

Dibandingkan dengan mengatakan pada semua orang untuk tetap berada di rumah, anda bisa yakin bahwa mereka yang sedang sakit tidak akan menulari mereka yang sehat. Kita hanya memerintahkan pada mereka yang tertular untuk tetap tinggal di rumah sehingga yang lainnya dapat melanjutkan kegiatan mereka di luar, Larrimore menambahkan.

Menurut hasil penelitian ini, berdasarkan pemodelan matematika, dengan melakukan tes cepat pada tiga perempat populasi sebuah kota setiap tiga hari, akan memangkas angka yang terinfeksi hingga 88 persen. Metode ini dapat mengakhiri epidemi dalam waktu enam minggu.

“Tes cepat ini adalah tes penularan,” kata Michael Mina, seorang profesor ilmu epidemiologi di Harvard dan juga penulis kedua dari hasil penelitian ini.

Metode ini dinilai efektif dalam mendeteksi COVID-19 diantara orang-orang yang berpotensi menularkan penyakit, Mina menambahkan.

VIAadell
BAGIKAN