BAGIKAN
(Nick Bolton/Unsplash)

Masker bedah, yang selama pandemi COVID-19 sekarang ini merupakan sebuah senjata ampuh dalam menangkal penyebaran penyakit ini, dianjurkan oleh otoritas kesehatan untuk tidak digunakan kembali setelah dipakai. Dan anjuran ini tentunya memberikan dampak negatif bagi lingkungan, sehingga kini para ilmuwan mulai mempertanyakan rekomendasi tersebut.

Dengan semakin meluasnya pemakaian masker sekali pakai untuk mencegah penyebaran virus corona, menimbulkan masalah baru bagi lingkungan, dan faktanya, telah ditemukan banyak masker bedah sekali pakai berbahan plastik yang sulit terurai di berbagai perairan dan lautan.

Satu alternatif terbaik adalah dengan menggunakan masker kain yang dapat dipergunakan berulang kali, tetapi banyak orang yang lebih memilih menggunakan masker bedah sekali pakai karena dinilai lebih ringan dan juga lebih murah.

“Masker medis hanya untuk sekali pakai saja,” begitu saran organisasi kesehatan dunia (WHO). “Buang segera masker tidak lama setelah tidak digunakan, disarankan ke dalam tempat sampah yang tertutup.”

Tetapi, dalam konteks kelangkaan masker bedah pada masa gelombang pertama pandemi COVID-19, WHO pada bulan April mengijinkan penggunaan kembali masker sekali pakai yang telah disucihamakan ketika terjadi krisis pasokan APD (alat pelindung diri), atau tidak tersedianya APD.”

Lembaga pengawas obat dan makanan AS (FDA) mengijinkan dalam kondisi darurat, penggunaan uap hidrogen peroksida untuk mensucihamakan masker N95 yang telah digunakan oleh para pekerja bidang kesehatan.

Melansri AFP, metode lainnya untuk mensucihamakan masker sekali pakai adalah dengan memanaskannya pada temperatur tinggi atau dengan radiasi ultraviolet.

Denis Corpet, seorang ahli mikrobiologi yang juga anggota dari Adios corona mengatakan bahwa metode-metode tersebut sulit dilakukan oleh orang-orang biasa di rumah mereka.

Adios corona, sebuah grup ilmuwan yang memberikan informasi tentang COVID-19 pada masyarakat, merekomendasikan “menempatkan masker pada amplop kertas dan ditandai tanggal penyimpanannya, kemudian dibiarkan selama tujuh hari.”

“Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa seluruh virus pada masker akan mati setelah tujuh hari,” kata Corpet kepada AFP.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet menemukan bahwa hanya 0,1 persen dari virus yang melekat pada bagian luar masker yang masih terdeteksi setelah satu minggu.

Namun metode ini tidak dapat diaplikasikan pada masker yang telah digunakan oleh para pekerja kesehatan yang pastinya telah terpapar oleh virus dalam jumlah yang sangat tinggi.

Peter Tsai, penemu bahan filter yang ber elektrostatis untuk masker N95 juga setuju dengan metode tujuh hari tersebut.

Tetapi dia menyarankan untuk membiarkan masker yang telah digunakan di tempat terbuka selama satu minggu, dan maksimal pemakaian ulang dengan metode ini adalah lima sampai sepuluh hari.

Masker sekali pakai juga dapat disucihamakan di dalam oven, demikian Tsai mengatakan pada AFP, disarankan pada suhu 70 hingga 75 derajat Celcius, tidak pada suhu lebih tinggi lagi untuk menghindari terbakarnya bahan plastik pada masker, tetapi cukup ampuh untuk membunuh virus.

Peneliti Philippe Vroman dari French engineering University Ensaid menganjurkan untuk mencuci masker bedah sekali pakai pada suhu 60 derajat Celcius. Dan setelah lima kali pencucian, “tidak akan merubah daya filtrasi masker sebesar 3 mikron,” kata Vroman. Saran ini berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang  belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah peer reviewed.

“Dan saya lebih memilih untuk menukar masker setiap empat jam dan kemudian mencucinya, daripada menggunakannya selama beberapa hari berturut-turut seperti yang orang lain lakukan. Mirip seperti penggunaan pakaian dalam,” kata Vroman.

Tetapi tidak semua ilmuwan sependapat dengan Vroman.

“Mencuci masker di rumah berpotensi menyebabkan kontaminasi sekunder dan menyebarkan virus jika tidak dicuci dengan benar,” kata Kaiming Ye, kepala dari departemen biomedical engineering di New York Binghamton University.

Hingga adanya penelitian lebih jauh, saran resmi dari para pejabat kesehatan untuk penggunaan masker sekali pakai belum berubah, yaitu untuk membuang masker bedah sekali pakai ke tempat sampah setelah digunakan.

VIAadell
BAGIKAN