BAGIKAN
Gambar tangan negatif pada gorden kalkit di Gua Cosquer (Calanque de Morgiou, Prancis). (Foto: © Jean Clottes)

Munculnya temuan-temuan dari lukisan stensil kuno di gua berupa cetakan tangan yang tidak utuh di mana sebagian dari jarinya terindikasi telah terputus, telah lama diperdebatkan. Namun, sekelompok peneliti dari Simon Fraser University di Kanada memiliki teori bahwa pemotongan jari merupakan kegiatan ritualistik semacam permohonan bantuan supranatural dan tujuan lainnya, sehingga dapat menjelaskan tentang sejumlah jari yang hilang dalam pencetakannya di dinding-dinding batu di dalam gua selama era Paleolitik Atas sekitar 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu.

Brea McCauley, David Maxwell dan Mark Collard menguraikan alasan untuk teori mereka, meskipun mereka mengakui diperlukan lebih banyak bukti untuk memverifikasinya. Mereka menjelaskannya secara terperinci dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di Journal of Paleolithic Archaeology. 

[the_ad id=”22738″]

Seni lukisan stensil kuno di dalam gua yang menampilkan tangan merupakan hal yang umum bahkan termasuk lukisan gua tertua. Para arkeolog yang mempelajari karya seni kuno pada dinding batu yang sebagian besar terdiri dari cetakan tangan atau garis tangan telah menemukan banyak gambar tangan dengan jari-jari yang telah hilang tidak tertuju pada salah satu jari saja. Bisa jadi kehilangannya pada salah satu atau dua jari, atau bahkan tiga hingga empat jari.

Ada kemungkinan disebabkan oleh sebab medis, karena kondisi ekstrem saat itu bisa menyebabkan kehilangan jari yang disebabkan terutama oleh radang dingin (frosbite). Tapi jika demikian, sepertinya akan lebih banyak jari yang hilang dan mereka pun akan belajar untuk tidak membiarkan jari-jarinya membeku. Selain itu, seni lukisan tangan yang tidak utuh muncul di beberapa tempat yang cuacanya terlalu hangat untuk radang dingin. Angka-angka itu menunjukkan sesuatu yang lain sedang terjadi.

Dalam tulisannya, para peneliti juga mengkategorikan pemotongan tangan dikarenakan dua dorongan. Pertama, atas dasar sukarela, yaitu praktik disepakati oleh peserta dan kedua, atas dasar non-sukarela bahwa praktik itu dipaksakan pada peserta. Juga kategori pemotongan jari berdasarkan waktu setelah kematian dan semasa hidup.

Di Grotte de Gargas, di Perancis, misalnya, 114 dari 231 gambar tangan telah kehilangan jari atau sekitar 49%. Di gua lain di Perancis, rata-rata bahkan lebih tinggi, 28 dari 49 atau 57%. Para peneliti juga mencatat bahwa lukisan tangan di dinding gua di Grotte de Gargas tampak cukup datar, mengesampingkan kemungkinan bahwa beberapa jari seolah ada upaya penghalangan saat pencetakan sedang dibuat. Mereka juga meneliti berbagai sejarah dan menemukan bahwa 121 kelompok orang yang tinggal di berbagai benua telah ditemukan terlibat dalam ritual pemotongan jari.

Para peneliti mencatat bahwa ritual amputasi jari dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa manusia awal mungkin telah melakukannya sebagai bagian dari upacara keagamaan atau sebagai cara untuk meratapi kehilangan orang yang dicintai. Yang lainnya, mungkin telah melakukannya untuk mereka sebagai bagian dari ritual hukuman. Belum ada cara untuk membuktikan bahwa ritual semacam itu terjadi, atau bahwa pemotongan jari secara sengaja dilakukan oleh masyarakat dari Paleolitik Atas, tetapi para peneliti berpendapat bahwa ada cukup bukti untuk menjamin penyelidikan lebih lanjut.