BAGIKAN
(Credit: Kate Trifo/ Unsplash)

Pada berbagai kasus, penularan virus corona terjadi dari orang-orang tanpa gejala (asimtomatik). Pada orang-orang yang akhirnya mengalami gejala-gejala umum dari COVID-19 tidak menunjukkan gejala batuk ataupun demam ketika pertama kali terinfeksi.

William Petri, seorang profesor bidang kedokteran dan mikrobiologi dari University of Virginia dengan spesialisasi penyakit-penyakit infeksi menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini tentang hal-hal yang telah dan belum diketahui pada kasus-kasus asimtomatik (orang tanpa gejala) COVID-19.

Apakah seseorang yang telah terinfeksi virus tanpa gejala apapun hal yang biasa?

Secara umum, seseorang yang terinfeksi virus tanpa gejala apapun adalah hal yang biasa. Contoh kasus yang paling dikenal adalah Typhoid Mary. Dia menularkan penyakit demam typhoid pada banyak orang tanpa merasakan gejala penyakit tersebut di awal tahun 1900an.


Saya dan rekan-rekan menemukan banyak kasus infeksi yang berhasil dilawan oleh tubuh seseorang tanpa disadari oleh orang tersebut. Sebagai contoh, ketika kami melakukan penelitian pada anak-anak yang terinfeksi parasit Cryptosporidium, salah satu penyebab penyakit diare, hampir separuh dari mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun.

Dan untuk kasus penyakit flu, diperkirakan sekitar 5 persen hingga 25 persen yang mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun.

Dan pada hampir semua kasus infeksi, gejala-gejala yang timbul pada seseorang adalah dampak dari perlawanan tubuh terhadap infeksi. Diperlukan sedikit waktu bagi sistem imun untuk membangun sistem pertahanan untuk melawan infeksi. Maka, pada beberapa kasus mungkin lebih tepat dinyatakan sebagai presimtomatik (belum timbul gejala) dibandingkan dengan asimtomatik (tanpa gejala).

Bagaimana seseorang dapat menularkan virus corona tanpa batuk dan bersin?

Setiap orang saat ini diwajibkan menggunakan masker untuk mencegah droplet seseorang yang telah terinfeksi virus corona terlempar jauh keluar ketika bersin atau batuk. Tetapi virus ini juga bisa menyebar ketika seseorang bernafas secara normal, setiap hembusan nafasnya bisa membawa droplet berukuran sangat kecil yang mungkin saja berisi virus. Hembusan nafas ini bisa menyebarkan virus hingga jarak satu meter atau lebih.

Penyebaran virus juga bisa terjadi melalui fomite, yaitu permukaan atau benda yang bisa terkontaminasi pathogen dan menjadi perantara penularan penyakit dari satu orang ke orang lainnya.

Seberapa besar kemungkinan seseorang tanpa gejala (asimtomatik) bisa menulari orang lain?

Ketika anda terpapar oleh seseorang dengan COVID-19, anda harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari masa inkubasi virus. Walaupun anda merasa baik-baik saja, anda tetap beresiko menyebarkan virus pada orang lain.

Dan juga terungkap bahwa ditemukan virus dalam jumlah tinggi pada sekresi pernafasan seseorang selama periode presimtomatik hingga lebih dari satu minggu sebelum timbulnya gejala demam atau batuk yang merupakan karakteristik dari COVID-19.

Kemampuan virus untuk menyebar dari orang tanpa gejala adalah penyebab utama terjadinya pandemi.

Apakah seseorang yang mengalami infeksi asimtomatik akan menghasilkan zat antibodi untuk melawan SARS-CoV-2 di dalam darahnya?

Hampir semua orang yang telah sembuh dari COVID-19 menghasilkan zat antibodi di dalam darahnya, walaupun mereka tidak merasakan gejala apapun. Asumsi ini cukup beralasan, dari apa yang para ilmuwan ketahui tentang jenis-jenis virus corona lainnya, zat antibodi yang terbentuk akibat infeksi bisa melindungi seseorang dari infeksi kedua.

Tetapi semua itu belum bisa diketahui dengan pasti.

Hasil serosurvey (tes darah untuk mengetahui terjadinya infeksi pada kelompok masyarakat tertentu) yang dilakukan di New York untuk mengetahui adanya zat antibodi virus SARS-CoV-2 dalam darah dan terindikasi satu dari lima orang penduduk kemungkinan pernah terinfeksi COVID-19.

Sistem imun dalam tubuh mereka mungkin pernah berperang melawan virus corona, walaupun mereka pernah menyadari atau tidak menyadarinya.

Seberapa luas penyebaran infeksi COVID-19 asimtomatik?

Tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti, dan untuk saat ini kebanyakan bukti yang adalah adalah anekdotal (hanya berdasarkan hasil pengamatan).

Sebuah contoh kecil, di sebuah rumah jompo di kota Washington, AS, banyak dari penghuninya yang terinfeksi. Dua puluh orang di tes positif COVID-19. Sepuluh orang diantaranya telah jatuh sakit. Sepuluh orang lainnya mulai terlihat gejala. Tetapi tiga orang yang dites positif tidak menunjukkan gejala ataupun jatuh sakit.


Ketika dokter melakukan tes terhadap 3397 orang tunawisma di sebuah penampungan di  kota Boston, 36 persen dari mereka terkonfirmasi positif COVID-19, dan tidak ada satupun dari mereka yang dites positif merasakan gejala.

Dan pada kasus warganegara Jepang yang dievakuasi dari kota Wuhan, China, dan dites COVID-19, 30 persen diantara yang terkonfirmasi positif tidak menunjukkan gejala apapun.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Italia, yang hasilnya belum melalui tahap peer reviewed menemukan bahwa 43 persen dari orang yang dites positif COVID-19 adalah asimtomatik.

Para peneliti tidak menemukan perbedaan potensi penularan dari orang yang menunjukkan gejala dan yang tidak, berdasarkan dari berapa banyak virus yang ditemukan pada sampel individu yang terinfeksi.

Saat ini, sedang dilakukan Serosurvey antibodi di beberapa negara di dunia agar hasil yang didapatkan bisa dijadikan bukti yang kuat, kemungkinan sekitar 10 persen hingga 40 persen dari orang yang terinfeksi kemungkinan tidak merasakan gejala apapun.

Infeksi SARS-CoV-2 asimtomatik bisa jadi adalah hal yang umum terjadi, dan fakta ini mungkin akan mempersulit upaya pengendalian pandemi ini.


Sumber: The Conversation.